11 Februari 2021 - 00:57
Muqtada Sadr Tegaskan Faksinya Tolak Normalisasi dengan Zionis

Parlemen harus mencegah hal ini terjadi. Kami tidak akan pernah membiarkan hubungan normalisasi dengan penjajah, bahkan jika kami harus mengorbankan darah untuk itu."

Menurut Kantor Berita ABNA, pemimpin faksi Sadr di Irak, dalam pernyataan resminya di hadapan awak media pada konferensi pers menegaskan bahwa pendudukan Amerika Serikat harus meninggalkan Irak melalui jalur diplomatik dan parlementer. Ia juga menegaskan bahwa dia tidak akan pernah mengizinkan normalisasi hubungan antara Baghdad dan Tel Aviv. Muqtada al-Sadr, pemimpin faksi Sadr Irak, menekankan pada hari Rabu (10/2) bahwa otoritas pemerintah Irak harus dipertahankan.

Dalam konferensi pers tersebut, Muqtada al-Sadr mengatakan bahwa otoritas Irak tidak boleh dirusak dan semua negara harus menghormati masalah ini. Terkait keberadaan pasukan pendudukan AS, ia mengatakan bahwa militer AS harus keluar melalui jalur diplomatik dan parlementer agar Irak tidak menjadi tempat konflik internasional dan regional.

Menyusul kematian Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, dan Abu Mahdi al-Mohandes, wakil kepala Organisasi Mobilisasi Rakyat Irak, Muqatad Sadr menyetujui pengusiran pasukan asing dari Irak sejak tahun lalu. Namun menurutnya Resolusi yang telah disahkan selama lebih dari satu tahun tersebut belum juga dilaksanakan, karena Amerika Serikat telah mencegah implementasi resolusi ini melalui kehadirannya di Irak.

Pada bagian lain dari pernyataannya, Sadr membahas masalah normalisasi hubungan dengan rezim Zionis. Ia berkata, "Parlemen harus mencegah hal ini terjadi. Kami tidak akan pernah membiarkan hubungan normalisasi dengan penjajah, bahkan jika kami harus mengorbankan darah untuk itu." 

"Saya tidak akan tinggal diam menghadapi serangan terhadap saudara-saudara saya di angkatan darat, polisi dan pasukan keamanan lainnya. Beberapa orang telah gugur dan dan terluka. Pasukan keamanan tidak mendukung koruptor." Tegasnya. 

Pemimpin faksi Sadr, saat mengumumkan dukungannya untuk "demonstrasi reformis", ia berpendapat bahwa mengadakan demonstrasi seperti itu tujuannya adalah terwujudnya perdamaian dan mendorong pemerintah untuk fokus pada kesejahteraan rakyat dan pemulihan stabilitas nasional.