Menurut Kantor Berita ABNA, Eshaq Al-e Habib Kamis (27/8/2020) di sidang virtual memperingati larangan uji coa nuklir mengisyaratkan peran merusak Israel di kawasan dan mengatakan, mayarakat internasional harus memanfaatkan revisi Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) untuk memaksa Tel Aviv bergabung tanpa syarat dengan perjanjian ini serta menerima pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terhadap instalasi nuklirnya.
Ia juga mengkritik peran merusak pemerintah Amerika di bidang penyebaran senjata nuklir dan menambahkan, Amerika melalui 1.054 uji coba nuklir, memiliki catatan tertinggi uji coba nuklir di banding dengan negara-negara nuklir lainnya.
Wakil dubes Iran di PBB ini menjelaskan, Amerika dengan kepemilikan arsenal nuklir terbesar di dunia dan satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata pemusnah massal ini bukan saja tidak berencana menghentikan uji coba nuklirnya dan bergabung dengan Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir, bahkan terus memodernisasi dan memperkuat arsenal nuklirnya.
"Sangat disayangkan peran destruktif AS dan Israel telah mencegah terealisasinya Timur Tengah yang bebas dari senjata pemusnah massal," papar Al-e Habib.
Ia menegaskan, pelucutan senjata nuklir harus menjadi prioritas agenda kerja internasional dan uji coba nuklir dalam bentuk apapun harus dihentikan, karena uji coba ini melanggar spirit dan konten Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir dan komitmen pelucutan senjata nuklir. (MF)
342/