Menurut Kantor Berita ABNA,Kelompok teroris Daesh memasuki Mosul, ibu kota provinsi Ninawa pada 10 Juni 2014 dan mengambil kendali daerah ini serta daerah lainnya di Irak. Daesh dengan berbagai kejahatannya tidak hanya menjadi ancaman bagi Irak dan Suriah saja, tapi juga menjadi tantangan keamanan dunia. Menyikapi ancaman Daesh ini, Marja Irak, Ayatullah Sistani segera mengeluarkan fatwa pembentukan pasukan relawan rakyat untuk memerangi kelompok teroris ini.
Tidak diragukan lagi, fatwa Ayatullah Sistani adalah respon paling penting terhadap pendudukan wilayah Irak oleh kelompok teroris Daesh. Fatwa itu dikeluarkan di saat tentara Irak tidak kohesif dan mengalami perpecahan di beberapa provinsi, terutama di daerah yang diduduki Daesh. Pembentukan pasukan relawan rakyat Irak yang diberi nama Al Hashd Al Shaabi berhasil mempertahankan Irak dari serangan kelompok teroris Daesh yang anggotanya berasal dari berbagai negara dunia.
Al Hashd Al Shaabi telah memainkan peran kunci dalam pembebasan berbagai wilayah Irak dari cengkeraman kelompok teroris Daesh. The Washington Institute dalam sebuah laporannya mengungkapkan, selama perang melawan Daesh, Al Hashd Al Shaabi adalah pasukan tempur paling menonjol di garis depan. Suara yang diraih koalisi Al-Fatah yang berafiliasi dengan Al Hashd Al Shaabi meraih dukungan lebih besar dari rivalnya dalam pemilu legislatif Mei 2018, yang menunjukkan bahwa rakyat Irak menyadari peran besar Al Hashd Al Shaabi dalam menumpas Daesh, dan mempercayai patriotismenya.
Aksi Al Hashd Al Shaabi dalam perang melawan kelompok teroris Daesh, serta pandangannya tentang kemerdekaan dan kedaulatan Irak tidak memuaskan negara-negara Barat dan beberapa negara Arab. Para pemimpin Al Hashd Al Shaabi menekankan keamanan nasional, dan menentang intervensi asing, terutama intervensi AS dalam urusan internal bangsa dan negaranya. Meskipun didukung banyak pihak di dalam negeri, tapi muncul kubu penentangnya yang membangun oposisi terorganisir dan menargetkan tekanan asing terhadap Al Hashd Al Shaabi.
342/