Kantor Berita Ahlulbait

Sumber : Parstoday
Sabtu

8 Juni 2024

18.18.30
1464249

Mengapa Barat Berbohong tentang Perempuan Iran?

Negara-negara Barat selama bertahun-tahun tidak merasa bertanggung jawab atas kondisi perempuan di masyarakatnya dan dengan kejam membiarkan mereka berada menghadapi segala macam masalah fisik, psikologis dan ekonomi mereka. Tapi pada saat yang sama mereka mencoba untuk memberikan resep yang tidak efektif untuk wanita di negara lain.

Propaganda media Barat terhadap perempuan di negara-negara Muslim, khususnya Iran, memiliki tujuan berikut:

1- Melemahnya institusi keluarga

Keluarga adalah pilar masyarakat dan landasan terpenting kehidupan manusia. Selain perannya dalam kehidupan masyarakat, keluarga juga berpengaruh dalam membesarkan anak dan mewariskan norma dan nilai moral, patriotik, serta agama kepada generasi penerus. Dengan menyebarkan kebohongan dan menanamkan keyakinan yang salah dan sudah kadaluwarsa kepada perempuan, Barat berupaya merendahkan dan merugikan institusi keluarga. Di Prancis, 45% anak dilahirkan di luar keluarga, dan faktanya, keluarga tersebut hancur.

2- Mempromosikan budaya barat dan mengubah identitas perempuan Iran

Bagi Barat, “identitas perempuan” dan “hak-hak perempuan” tidak relevan. Sebaliknya, isu “persepsi mengenai kebebasan sosial” sedang diterapkan di negara-negara Barat. Dengan kata lain, dalam kampanye, protes, dan gangguan yang terjadi di Iran baru-baru ini, “cara hidup perempuan Iran” tidaklah penting, namun “cara hidup perempuan Barat” menjadi hal yang penting.

Beberapa analis percaya bahwa musuh pada dasarnya berurusan dengan masalah jilbab dan berinvestasi di bidang ini untuk mengorganisir “revolusi perempuan di Iran”. Menurut mereka, revolusi Islam adalah revolusi yang berpusat pada laki-laki, dan kini dengan adanya revolusi perempuan, maka revolusi Islam dapat dipatahkan.

 3- Memulai perang saudara dengan revolusi perempuan di Iran

Negara-negara Barat sedang berusaha mengubah kepercayaan perempuan di tengah masyarakat dan membuat mereka memberontak melawan sistem, memaksa laki-laki di keluarga mereka untuk bereaksi melawan pemerintah (atau bahkan melawan perempuan sendiri) dan dengan demikian memulai perang saudara di negara-negara tersebut. 

Sementara itu, sejarah Revolusi Islam penuh dengan adegan kehadiran perempuan berdampingan dengan laki-laki dan upaya bersama untuk pembangunan negara. Kehadiran dan dampak perempuan dalam demonstrasi tahun 1357 Hs didokumentasikan dalam gambar dan surat kabar. Setelah revolusi, beberapa kelompok ekstremis mencoba membatasi kehadiran perempuan di masyarakat, namun mereka tidak berhasil karena adanya perlawanan dari para pemimpin Revolusi Islam.

Imam Khomeini berkata: “Kalian perempuan bangkit bersama laki-laki dalam gerakan-gerakan asli yang terjadi di Iran, seperti gerakan konstitusionalisme dalam sejarah Iran dan gerakan tembakau. Dengan cara yang sama, kalian berada di garis depan revolusi besar yang terjadi di zaman kita. Dengan peran Anda, ada lebih banyak laki-laki dalam gerakan ini, karena ketika Anda turun ke jalan dan berdemonstrasi di depan tank dan meriam, laki-laki melipatgandakan kekuatannya. Setelah kemenangan revolusi, Anda memainkan peran besar dalam masalah jihad dan pembangunan serta menyemangati saudara-saudara Anda yang menderita,".

4- Maraknya konsumerisme

Barat sedang mencoba menciptakan citra palsu tentang perempuan Barat sebagai perempuan progresif dan mendorong keterbelakangan perempuan di negara lain melalui iklan media. Kemudian, meraka menasihati perempuan bahwa untuk tumbuh dan maju, mereka harus menjadi seperti model yang dibuat oleh Barat. Bedah kosmetik, segala jenis kosmetik, pakaian modis, dan lainnya, semuanya bertujuan untuk mempromosikan konsumerisme dan menjual kelebihan barang Barat ke pasar negara lain.

5- Lebih banyak sanksi terhadap Iran

Negara-negara Barat berusaha meyakinkan opini publik dan lembaga-lembaga internasional untuk menjatuhkan sanksi lebih besar terhadap Iran dengan menciptakan sebuah kasus dan memalsukan narasinya. Sanksi tersebut dijatuhkan dengan dalih hak asasi manusia atau hak perempuan, namun kenyataannya mengikuti tujuan politik para pemimpin Barat. Apakah tujuan embargo obat terhadap anak penderita penyakit lupus adalah untuk melindungi hak-hak perempuan?

6- Melawan gelombang Islamisme di Barat

Politisi Barat dihadapkan pada gelombang penyebaran Islam yang semakin meningkat oleh masyarakatnya dan tidak mampu mengendalikannya. Mereka berusaha membuat perempuan di negara-negara Muslim, termasuk Iran tampak tertindas dan tidak puas dengan iklan-iklan negatif dan menampilkan citra palsu untuk menghentikan penyebaran Islamisme di kalangan perempuan Barat. Setiap hari, ratusan perempuan di negara-negara Barat dibunuh, dicuri, bahkan dihina oleh polisi, namun media Barat mengabaikan semua kejadian ini dan malah mencari umpan untuk pemberitaan media di jalanan Iran dan negara-negara din kawasan Timur Tengah lainnya.

7- Barat membenci perempuan Iran

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pertemuan dengan para penyair religius pada Ramadhan (5/4/2023) menyinggungt sasaran persatuan nasional dan agama serta etika perempuan oleh musuh, dengan menekankan, "Orang Barat tidak kasihan pada perempuan Iran, mereka bilang hak-hak perempuan harus dihormati, [tapi sebaliknya] mereka punya dendam terhadap perempuan Iran. Tentu saja, jika tidak ada kehadiran perempuan, revolusi tidak akan menang. Saya mengatakan ini [pastinya]. Saya adalah salah satu bagian dalam diskursus revolusioner. Artinya, jika perempuan tidak berpartisipasi dalam pertemuan besar tersebut, revolusi tidak akan menang... Mereka [Barat] memiliki dendam terhadap perempuan Iran! Mereka memperkenalkan dirinya sebagai pendukung hak-hak perempuan, pendukung hak asasi manusia, pendukung kebebasan. Tapi semua ini adalah serangan musuh,".

Meningkatnya angka perceraian, keluarga dengan satu anak saja, dan pertumbuhan populasi yang negatif adalah beberapa akibat dari mengikuti rumusan Barat. Menurut laporan yang dipublikasikan, satu orang Amerika mengalami pelecehan seksual setiap 98 detik. Satu dari enam wanita Amerika pernah mengalami pelecehan seksual atau pemerkosaan setidaknya satu kali.

Penelitian NISVS pada tahun 2015 menunjukkan bahwa lebih dari 52 juta wanita Amerika dari 43,6% seluruh wanita Amerika telah mengalami pelecehan seksual, dan 25,5 juta di antaranya atau 21,3% dari seluruh wanita telah diperkosa. Penelitian ini menunjukkan bahwa usia satu dari tiga perempuan korban pemerkosaan pertama kali adalah antara 11 dan 17 tahun. Basis data statistik World Population Review memperkirakan hanya 9% pelaku yang diadili dan hanya 3% di antaranya yang berakhir di penjara. Hal itu berarti 97% pemerkosa hidup bebas di Amerika.

Standar ganda Barat mengenai hak-hak perempuan juga terlihat dalam isu Gaza. Menurut statistik yang baru-baru ini diterbitkan oleh Organisasi Perempuan PBB mengenai situasi perempuan dan anak-anak di Gaza:

- 70% korban syuhada di Gaza adalah perempuan dan anak-anak.

- Jumlah perempuan yang syahid di Gaza sejauh ini mencapai 9 ribu orang.

- Setiap jam, dua ibu menjadi syahid di Gaza.

- 3000 perempuan kehilangan suami mereka dalam kejahatan rezim Zionis.

- Dalam kejahatan ini, 10.000 anak menjadi yatim piatu.

- Perempuan Gaza melahirkan tanpa bantuan medis dan sanitasi.

 - Wanita Palestina mengalami pelecehan seksual di penjara Israel.

Politisi barat yang sama memotong rambut mereka di depan kamera demi menunjukkan dukungannya terhadap dalam kerusuhan musim gugur 1401 Hs (2022) di Iran, dengan slogan, "Perempuan, kehidupan, kebebasan". Tapi hari ini mereka diam menyikapi berlanjutnya kejahatan Israel di Gaza dan pelanggaran nyata terhadap hak-hak perempuan Palestina. Bahkan, mereka buka hanya diam, tapi menjual senjatanya ke Israel, yang memicu perluasan kejahatan rezim Zionis terhadap orang-orang Palestina, terutama perempuan dan anak-anak.(PH)

342/