Kantor Berita Ahlulbait

Sumber : Parstoday
Kamis

6 Juni 2024

16.55.07
1463796

Gara-gara Dukung Israel, Kekuatan Lunak Jerman Turun

Dukungan tanpa syarat Jerman terhadap rezim Zionis Israel dan standar gandanya terhadap penderitaan rakyat Palestina telah menurunkan pengaruh lunak negara ini di Asia Barat.

Jerman yang selama beberapa dekade berusaha mendamaikan Israel dengan dunia Arab, berhasil meraih pengaruh lunak yang signifikan di kawasan, dan dikenal sebagai salah satu mediator dalam hubungan perdagangan dan ekonomi.

 

Namun kini kondisi di kawasan Asia Barat berubah; Dukungan terhadap perlawanan Palestina meningkat dan banyak bangsa Arab yang menyebut serangan Israel ke Gaza sebagai "Perang Genosida" dan mereka mengutuknya.

Jerman, dengan momok Holocaust yang terpatri di benaknya, sejak awal dan selanjutnya terus mendukung serangan Israel di Gaza.

 

Oleh karena itu, respons Jerman yang tegas dan anti-kemanusiaan terhadap perang di Gaza dengan dimulainya operasi Al-Aqsa membuat kredibilitas negara ini di dunia semakin anjlok dibandingkan sebelumnya.

 

Lima hari setelah tanggal 7 Oktober 2023, dan dimulainya operasi Badai Al-Aqsa, Olaf Scholz, kanselir Jerman dalam pidatonya dengan jelas menjelaskan kebijakan negaranya terhadap perang baru di Gaza dan berkata: "Saat ini, yang ada hanyalah satu posisi untuk Jerman: Bersama Israel"

 

Jerman, yang pada bulan November 2023 telah meningkatkan izin ekspor senjatanya ke Israel hampir sepuluh kali lipat, kini telah menjadi pemasok senjata terbesar kedua ke Israel sejak dimulainya perang, setelah Amerika Serikat.

 

Kinerja Jerman yang bias terhadap Israel membawa situasi di beberapa negara Arab seperti Tunisia ke titik di mana protes terhadap dukungan Berlin terhadap rezim pembunuh anak Israel pertama kali terbentuk di negara ini.

 

Pada bulan Oktober tahun lalu, perkataan Peter Prügel, duta besar Jerman untuk Tunisia, menimbulkan kontroversi pada upacara pembukaan sekolah menengah baru di pinggiran Tunis.

 

Ceritanya, dalam upacara tersebut, Menteri Pendidikan Tunisia menyatakan solidaritasnya dengan Gaza, dan kemudian Prugel menyebut Israel sebagai korban.

 

Beberapa hari kemudian, pengunjuk rasa berkumpul di depan kedutaan Jerman dan menuntut pengunduran diri diplomat Jerman tersebut.

Dukungan Jerman terhadap Israel juga telah mempengaruhi banyak institusi negara ini di Asia Barat.

 

Dalam hal ini, Foreign Policy telah mewawancarai sembilan karyawan dari enam institusi Jerman yang beroperasi di lima negara Asia Barat.

 

Orang-orang yang diwawancarai percaya bahwa sikap keras Jerman dalam perang Gaza telah membahayakan posisi kerja mereka dengan mitra dan masyarakat lokal.

 

Karyawan berpengalaman di lembaga-lembaga Jerman di Asia Barat mengakui bahwa pendudukan Israel di Tepi Barat adalah contoh apartheid dan bahwa kebijakan luar negeri Jerman jauh dari realitas konflik Israel-Palestina.

 

Para pegawai lembaga-lembaga ini mengatakan bahwa penggunaan istilah-istilah seperti "apartheid" dan "genosida" mengenai perlakuan Israel terhadap warga Palestina adalah hal yang umum di antara rekan-rekan mereka.

 

Sementara itu, pemerintah Jerman menolak ungkapan “apartheid” dan “genosida” serta menganggapnya anti-Semit.Beberapa pegawai GIZ (Badan Kerja Sama Internasional Jerman) juga mengatakan kepada Foreign Policy bahwa partisipasi Jerman dalam perang ini telah menimbulkan kemarahan dan rasa jijik di dalam lembaga ini. Sekaitan dengan ini, banyak lembaga Jerman yang aktif di Asia Barat diam-diam membatalkan acara publik, menunda publikasi laporan, atau mengubah logo mereka dari proyek yang mendukung Israel untuk menjaga identitas dan melindungi karyawan lokal dan mitra mereka di wilayah tersebut. Berdasarkan jajak pendapat Arab Center Washington DC tahun 2020, mayoritas warga Arab memiliki pandangan positif terhadap kebijakan luar negeri Jerman. Tapi menurut jajak pendapat lain yang dirilis pada Januari 2023 oleh Institut Doha, 75 persen responden di 16 negara Arab memiliki pandangan negatif terhadap sikap Jerman di tengah perang Gaza. (MF)   

342/