Menurut Kantor Berita ABNA, dengan dibebaskannya kota Tikrit ibu kota Provinsi Shalahuddin oleh militer Irak dari tangan ISIS, ditemukan jejak-jejak kekejian ISIS terhadap rakyat Irak di kota tersebut. 1.700 mayat ditemukan di satu tempat yang sama demikian pula di sungai Dajlah, tempat ISIS mengeksekusi ratusan tentara Irak kemudian membuang mayatnya begitu saja ke dalam sungai. Disebutkan aksi pembunuhan massal tersebut dilakukan bulan Juni 2014.
Tanggal 12 Juni 2014, begitu ISIS menguasai kota Tikrit, lebih dari 1700 mahasiswa Irak ditangkap yang kemudian dibawa ke kompleks Istana Presiden peninggalan Saddam Husain, untuk kemudian dibantai secara massal. Sebagian dikuburkan dalam satu lubang yang sama, sebagian lain dibuang ke sungai. Lokasi kuburan massal itu dikenal dengan nama Camp Speicher.
ISIS merilis video pembantaian keji tersebut kemudian mempublikasikannya melalui media sosial. Begitu kota Tikrit berhasil dibebaskan dan kembali direbut oleh pemerintah Irak. Pasukan keamanan Irak segera mendatangi lokasi pembantaian tersebut, kemudian memasang bendera Irak maupun bendera bertuliskan Ya Husain ditempat para mayat korban kebengisan ISIS dikuburkan.
Mayoritas para korban adalah pemuda berusia dibawah 22 tahun yang sedang menjalani proses pendidikan kemiliterannya. Sejumlah mayat yang ditemukan, kondisinya mengenaskan dan dalam keadaan terikat, sebagian lagi, dengan kondisi tubuh yang tidak utuh, karena tidak jarang eksekutor ISIS melakukan pemenggalan kepala ketika mengeksekusi korbannya.
Camp Speicher adalah lokasi pendaratan pesawat dibagian utara Tikrit yang merupakan lokasi paling penting tentara Irak dan berdekatan dengan pusat pendidikan kemiliteran Irak. AS saat melakukan agresi menyerang Irak pada tahun 2003, menamakan lokasi pendaratan pesawat tempur itu dengan Camp Speicher untuk mengenang seorang pilot pesawat tempur AS yang tewas dalam pertempuran merebut kota Tikrit tersebut dari tangan pasukan Saddam Husain.
Saat ISIS memasuki Tikrit dan berhasil menguasainya, mereka menangkapi semua mahasiswa yang berada di sekolah kemiliteran Irak tersebut dan membantainya secara massal. Sebagian saksi mata menyebutkan bahwa tidak semua dibantai sebagian dari mereka dipaksa untuk berbaiat kepada khalifah Baghdadi dan kemudian menjadi bagian dari anggota ISIS. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengevakuasi para korban, termasuk mengindentifikasi dan menguburkannya secara layak.


















