9 Januari 2015 - 04:26
Konflik Agama Dipicu Ketidaksaling Mengenalan Satu sama Lain

Kebanyakan konflik yang terjadi di masa silam antar penganut agama atau mazhab yang berbeda disebabkan tidak saling mengenalnya satu sama lain. Yang ada perselisihan yang berujung pada pertumpahan darah disebabkan sikap fanatisme yang berlebihan terhadap agama yang dianut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ali Larijani, ketua Majelis Syura Islami Republik Islam Iran dalam sambutannya pada acara wisuda Mahasiswa Universitas Adyan dan Mazahib di Qom, kamis [8/1] mengatakan, “Keberadaan universitas yang mengkaji dan memperkenalkan beragam agama dan mazhab adalah kebutuhan penting dunia saat ini. Kebanyakan konflik yang terjadi di masa silam antar penganut agama atau mazhab yang berbeda disebabkan tidak saling mengenalnya satu sama lain. Yang ada perselisihan yang berujung pada pertumpahan darah disebabkan sikap fanatisme yang berlebihan terhadap agama yang dianut. Konflik yang dipicu oleh perbedaan agama terjadi di Barat dan di Timur, meskipun hakikatnya ada factor politik dan motif ekonomi dibaliknya.”

“Oleh karena itu, dialog antar agama dan mazhab sangat urgen dan mendesak untuk terus digalakkan, untuk meminimalisir kesalahpahaman antar penganut agama dan mazhab sehingga tidak terjebak pada konflik dan permusuhan yang semestinya tidak perlu terjadi.” tambahnya.

Menurut delegasi warga Qom ini perpecahan dan konflik yang terjadi antar penganut agama, hanya akan memberi keuntungan pada AS dan Israel. Beliau berkata, “Jika kita menelusuri sejarah dan mengkajinya, maka dapat disimpulkan, dialog dan duduk bersama antar pemuka agama akan mampu mencegah perselisihan sehingga energi umat lebih bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif dibanding dihabiskan hanya untuk saling memerangi satu sama lain.”

“Tidak sedikit persamaan yang terdapat dalam agama-agama yang berbeda terutama dalam agama-agama samawi seperti Islam, Yahudi dan Kristen. Diantaranya adalah persamaan sedemikian pentingnya akhlak dan nilai-nilai maknawi dalam beragama. Sebagaimana kita melihat Negara-negara Barat, mereka berbeda-beda suku dan bahasa, namun mereka senantiasa mencari titik temu, sehingga bisa membentuk Uni Eropa, dan saling membantu satu sama lain, sehingga membuat mereka jauh lebih kuat.”

“Dialog antar agama, yang dilakukan dengan menggunakan akal sehat, dan pengajuan argumentasi yang kuat, akan cepat menunjukkan hasil. Dan dalam pandangan saya, agar dialog agama dapat dihidupkan maka yang harus dikaji lebih dalam adalah filsafat dan irfan, sebab ini adalah titik kesamaan yang terdapat dalam berbagai agama.” tambahnya.

“Saya yakin, jika setiap pemuka agama memiliki wawasan kemanusiaan dan mengemplementasikannya dalam amalan praktis dengan berbuat untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih besar maka dunia akan mencapai peradaban kemanusiaan tertingginya hari ini.” harapnya.

Disebutkan, diakhir acara pelepasan dan wisuda sarjana ini, Dr. Ali Larijani membagikan ijazah kepada ratusan mahasiswa yang  berhasil menyelesaikan studinya.