19 April 2013 - 10:59
Khatib Jum'at Teheran Kecam Standar Ganda AS dan Uni Eropa

Khatib Jum'at Teheran menyebut standar ganda yang diterapkan AS dan Uni Eropa tersebut sebagai tindakan kemunafikan dan menuntut AS kalau memang mengklaim diri sebagai Negara yang mengusung anti terorisme dan anti kekerasan untuk segera menghentikan dukungan terhadap oposisi dan kelompok teroris di Suriah.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami dalam khutbah Jum'at yang disampaikannya Jum'at (19/4) dihadapan jutaan jama'ah Jum'at di Teheran ibu kota Republik Islam Iran menyinggung ledakan bom yang terjadi di dua kota Amerika Serikat Boston dan Texas mengatatakan, "Harus terlebih dilakukan penyidikan yang serius dalam jangka waktu tertentu sebelum memastikan siapa dalang dibalik kedua peristiwa peledakan tersebut. Hanya dalam waktu singkat telah disebutkan pelakunya, maka itu tidak lebih dari sekedar spekulasi dan dugaan semata yang tanpa bukti. Namun kita bisa banyak mengambil ibrah dari dua peristiwa peledakan tersebut."

"Poin pertama, ledakan bom yang terjadi di Boston dan Texas sama sekali tidak memiliki kaitan apa-apa dengan Republik Islam Iran. Kami mengecam dan mengutuk setiap aksi peledakan bom dan pembunuhan kepada manusia-manusia yang tidak berdosa disemua tempat di dunia, baik di Amerika, Suriah, Irak, Pakistan dan Afghanistan. Di negeri kami, setiap manusia terhormat dan mulia, karenanya Republik Islam Iran bersih dari semua aksi-aksi kekerasan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran." Lanjutnya.

Khatib Jum'at Teheran tersebut kemudian menambahkan, "Poin yang kedua yang hendak disampaikan Republik Islam Iran, bahwa bukan hanya di Amerika Serikat yang terjadi peledakan bom yang menewaskan perempuan, anak-anak, orang-orang lanjut usia dan orang-orang yang tidak berdosa, melainkan ini juga terjadi di Irak, Suriah, Afghanistan dan Pakistan yang kesemuanya tidak mungkin kita terima. Namun ledakan bom di kedua kota di AS itu membuka kedok dan topeng kemunafikan AS dan Negara Uni Eropa. Mereka telah menetapkan standar ganda, bagaimana mungkin mereka yang mengecam dan mengutuk kejadian peledakan bom di AS itu namun untuk kejadian yang lebih tragis di Suriah dengan terbantainya sejumlah warga yang tidak berdosa oleh pasukan oposisi tidak mendapat kecaman dan reaksi apa-apa dari mereka, bahkan memberikan bantuan dana dan persenjataan."

Khatib Jum'at Teheran menyebut standar ganda yang diterapkan AS dan Uni Eropa tersebut sebagai tindakan kemunafikan dan menuntut AS kalau memang mengklaim diri sebagai Negara yang mengusung anti terorisme dan anti kekerasan untuk segera menghentikan dukungan terhadap oposisi dan kelompok teroris di Suriah.

Pada bagian lain khutbahnya, Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami menilai dukungan militer yang sedemikian kuat terhadap Rahbar yang ditunjukkan pada peringatan hari militer nasional (18/4) menunjukkan kekokohan dan kekuatan Negara. Beliau mengatakan, "Militer adalah kekuatan yang menguatkan Negara dan rakyat, mereka telah banyak memberi pengorbanan dan kerja keras dalam membela dan menjaga kedaulatan Negara, karena itulah rakyat juga membalasnya dengan kecintaan dan dukungan terhadap militer di Negara ini."

Khatib Jum'at Teheran tersebut dalam lanjutan khutbahnya memuji kemajuan tekhnologi yang dicapai militer Iran, termasuk produksi senjata-senjata dan kendaraan perang yang canggih dan bertekhnologi mutakhir. Beliau menyebut militer Iran sebagai satu-satunya militer di dunia yang tidak memiliki ketergantungan apapun dengan militer asing sehingga menyebut kemajuan yang dicapai Iran dalam dunia militer dan persenjataan membuat musuh berpikir ribuan kali untuk memulai konfrontasi militer dengan Iran.