Menurut Kantor Berita ABNA, majelis duka peringatan kesyahidan Imam Hasan al Askari as berlangsung malam Ahad (19/1) di pelataran Haram Sayyidah Maksumah kota suci Qom Republik Islam Iran. Dalam majelis tersebut, Hujjatul Islam Sayyid Husain Mu'mini dalam penyampaian ceramahnya menyampaikan setiap muslim harus senantiasa menyibukkan diri dengan amalan-amalan keshalehan sehingga bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beliau berkata, "Kita tidak membutuhkan contoh-contoh amalan dalam melakukan perjalanan keruhanian selain dari apa yang pernah dicontohkan oleh para Maksumin as. Jika ada seseorang yang meminta contoh amalan kepada Ayatullah Bahjat misalnya, maka yakinilah amalan tersebut bukanlah sesuatu yang baru diada-adakan oleh beliau sendiri melainkan Maksumin as pernah terlebih dahulu melakukannya. Ayatullah Bahjat pernah berkata, 'Jika kamu datang menemuiku dan menjadikanku pembicara dan kamu menjadi pendengar, maka saya tidak punya waktu untuk itu. Namun jika tujuanmu menemuiku adalah untuk mengamalkan apa yang saya sampaikan dan bersungguh-sungguh untuk menjadi mujahid dalam menghadapi hawa nafsu maka apa yang saya sampaikan adalah penjelasan dari Maksumin as sendiri."
Kemudian Hujjatul Islam Mu'mini menceritakan Imam Hasan al Askari as pernah berkirim surat kepada Syaikh Babwih Qomi, ayah Syaikh Shaduq yang memberikan pesan mengenai amalan-amalan praktis yang akan membawa pelakunya yang kederajat yang lebih tinggi dalam perjalanan spritual. Diantara amalan yang disampaikan Imam Hasan al Askari:
1. Mendirikan shalat malam. Nabi Saw pernah bersabda kepada Imam Ali as, "Hai Ali, dirikanlah shalat malam, dirikanlah shalat malam, dirikanlah shalat malam." Dari penjelasan-penjelasan para Maksumin shalat malam memberikan banyak keberkahan kepada pelakunya. Jika kita menghendaki usia yang penuh dengan keberkahan maka mendirikan shalat malam adalah sebuah keniscayaan. Imam-imam Ahlul Bait dan para ulama senantiasa mengisi malam-malamnya dengan shalat.
2. Sabar. Penjelasan kedua Imam Hasan al Askari as kepada Syaikh Babwih adalah sabar. Imam mengajak kepada tiga tingkatan kesabaran. Sabar dalam menjalankan ibadah, sabar dalam menghindarkan diri dari kemaksiatan dan sabar ketika menghadapi musibah. Sabar dalam menghidarkan diri dari kemaksiatan contohnya ketika seorang pemuda berjalan disebuah lorong yang sepi dan berpapasan dengan seorang perempuan yang bukan mahram, maka dia harus bersabar dengan menundukkan pandangannya sembari berkata, la haula wala quwwata illa billah. Ini adalah bentuk kesabaran dalam menghindari maksiat bukan memperturutkan nafsunya memandangi perempuan yang tidak halal baginya. Sabar dalam menghadapi kemaksiatan dapat menghantarkan pelakunya mendapatkan anugerah kelezatan iman dari Allah SWT.
3. Menanti kedatangan Imam Zaman afs. Imam Hasan al Askari berpesan, "Tetaplah dalam penantian kehadiran Imam Zaman afs. Sebab Syiah kami senantiasa tetap berada dalam kesetiaan sampai kedatangan puteraku al Mahdi." Diantara bentuk penantian itu adalah membaca ziarah Ali Yasin setiap hari Senin, Kamis dan Jum'at.
Hujjatul Islam Mu'mini kemudian menyatakan bahwa siapa yang menghendaki mempelajari lebih detail nasehat Imam Hasan al Askari as tersebut bisa membacanya dalam kitab Manaqib Ibn Shahr Ashub jilid 4 halaman 425.
Setelah penyampaian ceramah, acara dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi dan Ahlul Bait as.
Imam Hasan al Askari adalah imam kesebelas bagi umat muslim Syiah. Lahir pada hari Jum'at 8 Rabius Thani tahun 232 H dan mencapai syahadah juga pada hari Jum'at tanggal 8 Rabiul Awal tahun 260 H, selepas shalat subuh pada umur 28 tahun.