Menurut Kantor Berita ABNA, Iran Ali Akbar Salehi pada Senin (17/9) bertolak ke Mesir. Kunjungan Salehi ke Kairo dalam rangka menindaklanjuti usulan Presiden Mesir Muhammad Mursi untuk menggelar pertemuan kuartet; Iran, Arab Saudi, Mesir dan Turki guna membahas krisis Suriah dan mencari solusi damai untuk mengakhiri krisis di negara Arab ini.
Sebelumnya telah digelar pertemuan tingkat ahli dari empat negara tersebut dan menurut rencana akan diselenggarakan pertemuan para menteri di Kairo untuk membahas berbagai isu di Timur Tengah dan Suriah.
Menurut para pengamat, perundingan di Kairo amat penting mengingat kondisi sensitif di kawasan. Mereka meyakini bahwa situasi di Suriah saat ini merupakan dampak dari masalah internal dan intervensi asing yang menyuplai senjata kepada para militan di negara tersebut.
Sebenarnya, Suriah adalah korban konspirasi yang salah satu tujuannya untuk melemahkan poros Muqawama di kawasan yang dengan gigih melawan kejahatan rezim Zionis Israel. Oleh karena itu, tak heran jika negara-negara Barat, Israel dan sejumlah negara Arab serta kawasan berupaya menggiring Suriah ke dalam perang penghabisan. jika situasi seperti ini terus belanjut maka kondisi Suriah tidak akan berubah.
Mengingat situasi di Suriah, maka pertemuan di Kairo merupakan langkah positif. Sebelumnya, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (GNB) Ke-16 di Tehran terutama dalam sidang para menteri luar negeri negara-negara anggota gerakan ini telah ditegaskan bahwa GNB akan menggunakan kapasitasnya membantu Suriah menyelesikan krisis.
Iran sebagai ketua bergilir GNB melihat usulan Presiden Mursi terkait Suriah positif dan pertemuan di Kairo perlu ditindaklanjuti. Krisis di Suriah harus dilihat dari berbagai sisi termasuk upaya penggulingan paksa pemerintah Damaskus.
Komandan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari pada Ahad mengatakan, Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam lingkaran Muqawama melawan Israel. Ia merupakan target Amerika Serikat di kawasan karena ia tengah berjuang melawan poros Washington-Tel Aviv.
Jafari juga menyinggung kemampuan militer pasukan sipil Suriah untuk melawan tekanan dan ancaman. Ia menandaskan, amat jelas bahwa Iran tidak memiliki campur tangan militer di Suriah, namun Tehran menggunakan kapasitasnya seperti pengalaman, nasihat dan saran untuk membatu Damaskus menghadapi konspirasi yang menarget keberadaan pemerintah Suriah.
Kebijakan Iran menegaskan pelaksanaan reformasi, dialog, kesepahaman dan opsi politik sebagai solusi terhadap krisis Suriah. Dalam deklarasi final KTT GNB Ke-16 ditegaskan bahwa penyelesaian krisis Suriah harus didasarkan pada kepatuhan terhadap standar internasional dan tidak ada intervensi dalam urusan internal semua negara serta menghormati hak kedaulatan dan integritas teritorialmereka.
Demokrasi adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri krisis Suriah dan hal ini adalah fakta yang harus diterima oleh semua pihak. Namun demokrasi ini akan dapat diwujudkan jika konspirasi, perang dan suplai dana dan senjata kepada para teroris dihentikan kemudian rakyat Suriah diberi kesempatan untuk menentukan nasib mereka secara bebas tanpa ada intervensi.
Kini negara-negara di kawasan diharapkan jeli, waspada dan bijaksama dalam menyikapi krisis Suriah, sebab jika krisis di negara ini terus berlanjut maka negara-negara tetangga Suriah akan menghadapi konsekuensi buruk dan menghadapi kesulitan.
Sumber: IRIB Indonesia