Menurut Kantor Berita ABNA, Menteri Luar Negeri Senegal Alioune Badara Cissé mengatakan peran Iran di dunia Muslim dan dalam membangun perdamaian di antara negara-negara Muslim tidak bisa disangkal.
Memuji tingkat interaksi antara negara-negara yang berpartisipasi dalam KTT Non-Blok Gerakan (GNB) ke-16 di ibukota Iran, Tehran, Cissé mengatakan bahwa mengadakan pertemuan ini di Republik Islam mencerminkan pengaruh negara ini diantara negara-negara muslim.
Cissé mengatakan salah satu isu yang paling penting yang akan dibahas dalam KTT adalah krisis Suriah.
Lebih dari 100 negara yang mengambil bagian dalam pertemuan GNB yang dimulai pada tingkat ahli di Tehran pada hari Minggu (26/8/12).
Pada upacara pembukaan pertemuan tingkat ahli NAM, Iran menerima jabatan kepresidenan bergilir gerakan selama tiga tahun. Duta Besar Mesir untuk PBB Mootaz Khalil secara resmi menyerahkan presiden ke Iran.
Pertemuan dua hari tingkat menteri luar negeri dari KTT GNB telah dimulai dan saat ini sedang berlangsung di ibukota Iran.
Sementara itu, telah tiba di Tehran, Menteri Luar Negeri Nigeria, Mohammed Bazoum menyatakan berharap KTT GNB akan mengambil langkah tegas terhadap membangun perdamaian global dan menyelesaikan perbedaan pendapat di antara bangsa-bangsa.
Antoine Gambi, menteri luar negeri dari Republik Afrika Tengah, juga menggambarkan menjadi tuan rumah KTT GNB sebagai sebuah keberhasilan besar bagi Iran dalam arena politik dan internasional.
Menteri Luar Negeri Eritrea, Mohammad Osman Saleh, yang juga di Teheran untuk menghadiri pertemuan GNB, mengatakan negara-negara berkembang bisa menggunakan kesempatan ini untuk berinteraksi dengan bangsa lain.
Pertemuan para kepala negara dan pemerintahan negara-negara anggota GNB akan dibuka pada hari Kamis (30/8/12) dengan pidato pengukuhan oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
NAM, sebuah organisasi internasional dengan 120 negara anggota, dianggap tidak resmi selaras atau bertentangan dengan blok kekuatan besar.