26 Juli 2012 - 20:00
Kode berita: 332094
"Kami mengingatkan kepada saudara-saudara se Islam, laki-laki dan perempuan agar tetap waspada dan terjaga, bahwa Syaitan dan antek-anteknya tidak akan berhenti melakukan upaya untuk menyesatkan kita. Mereka hendak menjauhkan kaum muslimin dari agamanya, termasuk memisahkan antara politik dan agama, sehingga yang akan muncul adalah negara-negara sekular yang jauh dari tuntunan agama."
Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Syirazi dihadapan ribuan jama'ah shalat di Haram Hadhrat Ma'sumah dalam penjelasan lanjutannya mengenai tafsir surah al Ahzab menyebutkan bahwa turunnya ayat:
«يا أَيهَا النَّبِي اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا * وَاتَّبِعْ مَا يوحَى إِلَيكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا * وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا»
"Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (Ql Ahzab: 1-3)
Adalah berkaitan dengan perang Uhud. Beliau berkata, "Setelah perang Uhud berlangsung dengan kemenangan di pihak kaum kafir Mekah, mereka kemudian menganggap kekalahan tersebut akan melemahkan barisan kaum muslimin, yang menurut mereka dengan itu mereka mampu menghentikan dakwah Nabi Muhammad saww. Abu Sufyan yang saat itu sedang berada di Mekah merasa bangga dengan kemenangan itu, iapun kemudian mengehendaki agar Muhammad memberi keleluasan kepada mereka untuk tetap melakukan penyembahan kepada berhala dan tidak lagi berkata-kata buruk megenai tuhan-tuhan mereka."
Menukil dari kitab tafsir 'Ruhul ma'ani fi Tafsiril Qur'an al azhim' karya seorang mufasir besar Sunni Sayyid Mahmud al Wasii, Ayatullah Makarim Syirazi menjelaskan lebih detail mengenai ayat tersebut. Al Wasi dalam kitabnya tersebut membagi manusia yang menjadi musuh di masa Rasulullah saww menjadi tiga golongan berdasarkan penjelasan dari ayat tersebut. Yaitu, kaum kafir Mekah penyembah berhala, kaum munafikin Madinah dan kaum Yahudi Madinah.
"Ayat tersebut berkaitan dengan tiga kelompok musuh tersebut yang Nabi diperintahkan melalui ayat tersebut untuk tidak mengikuti kehendak ketiga golongan tersebut." jelas ulama penulis kitab tafsir al Amtsal tersebut.
Ayatullah Makarim Syirazi kemudian menjabarkan poin penting yang merupakan inti sari dari ayat 1-3 surah al Ahzab tersebut dengan berkata, "Salah satu metode kelompok fasik dan perusak adalah melakukan pengrusakan dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit. Mereka tidak menyatakan tujuan mereka sesungguhnya sejak awal. Dan metode seperti ini yang juga diterapkan negara-negara zalim dan penjajah hari ini. Dalam menghadapi Iran mereka tidak secara terus terang menyatakan permusuhan dengan Iran atau menyatakan tujuan mereka sesungguhnya adalah untuk menghancurkan Iran, mereka berlindung dibalik semboyan kemanusiaan dan perdamaian dunia. Atas nama kemanusiaan dan perdamaian dunia mereka menghalangi Iran mengambil manfaat dari pengembangan tenaga nuklir, padahal hakekatnya keinginan mereka adalah ketertinggalan dan kemunduran Iran."
Ulama hauzah tersebut lebih lanjut mengatakan, "Sewaktu kita mengkaji dan menghayati ayat-ayat al-Qur'an, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa strategi penghancuran dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit adalah juga strategi syaitan, sebagaimana juga terdapat penjelasannya dalam 4 ayat pada surah al An'am, surah an Nur dan al Baqarah, yang penjelasan mengenai hal itu tersampaikan sampai berulang kali."
"Dalam surah al Baqarah ayat 168 dan 208 dan juga dalam surah al An'am ayat 142, Allah swt memesankan kepada umat manusia untuk tidak mengikuti langkah-langkah syaitan sebab syaitan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Syaitan mengajak manusia menuju kepada kerusakan, kesesatan dan kehancuran. Hal tersebut juga ditegaskan dalam ayat 21 surah an Nur, Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar." Lanjut beliau.
Ayatullah Makarim Syirazi selanjutnya memberikan contoh mengenai langkah-langkah syaitan dalam menjerumuskan manusia. "Syaitan dalam mengajak manusia kepada kesesatan tidak to the point mengatakan, jangan ke masjid. Tetapi dengan ajakan dan bujukan berupa, pagi belum menjelang, kamu masih punya waktu buat istrahat, kamu hari ini memiliki perkerjaan dan kesibukan yang sangat banyak, sehingga juga membutuhkan banyak istrahat. Untuk mencegah manusia melakukan shalat dhuhur dan ashar, syaitan akan mengatakan, bukankah saat ini kamu sedang sibuk, selesaikan dulu pekerjaanmu. Untuk shalat maghrib dan isya, syaitan akan menyatakan bukankah waktu sangat panjang, tidak ada salahnya jika kamu mengakhirkannya, dan kalaupun kamu tidak melakukannya, kamu cukup beristighfar dan Allah akan mengampunimu, begitu seterusnya."
Ayatullah Makarim Syirazi selanjutnya mengingatkan bahwa dalam menghadapi godaan dan tipu daya syaitan, kita harus senantiasa waspada dan berhati-hati. Beliau berkata, "Musuh-musuh Islam hari ini juga tengah menggunakan siasat syaitan tersebut. AS dan dan rezim Zionis dengan mengikuti langkah-langkah syaitan berusaha menjerumuskan umat manusia."
Beliau selanjutnya menambahkan, "Sebagaimana yang telah terjadi di Turki. Atas nama sekularisme dan modernism, mereka mengganti tulisan nasional mereka dari tulisan arab menjadi latin. Setelah lewat beberapa dekade, akhirnya warga muslim Turki paham, maksud sebenarnya penggantian tulisan tersebut adalah untuk menjauhkan mereka dari kitab-kitab klasik Islam, dan pada akhirnya jauh dari agama."
Mengenai bahayanya tipu daya syaitan, Ayatullah Makarim Syirazi mengingatkan, "Sebelum kemenangan revolusi Islam, berkali-kali penulis dan tokoh-tokoh intelektual yang terbius kemajuan Barat mempropagandakan agar Iran turut mengganti tulisan menjadi tulisan latin, namun berkat kegigihan ulama Islam, akhirnya khat Arab bisa tetap dipertahankan sampai saat ini."
Ulama marja taklid tersebut lebih lanjut menyatakan, "Kami mengingatkan kepada saudara-saudara se Islam, laki-laki dan perempuan agar tetap waspada dan terjaga, bahwa Syaitan dan antek-anteknya tidak akan berhenti melakukan upaya untuk menyesatkan kita. Mereka hendak menjauhkan kaum muslimin dari agamanya, termasuk memisahkan antara politik dan agama, sehingga yang akan muncul adalah negara-negara sekular yang jauh dari tuntunan agama."
Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom Iran tersebut lebih lanjut dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyimpangan dimulai dari hal yang kecil dan tampak remeh, sebagaimana kobaran api dimulai dari percikan api yang kecil.
Pada bagian lain ceramahnya, Ayatullah Makarim Syirazi turut berkomentar mengenai terjadinya ledakan beruntun di Irak yang telah menewaskan puluhan warga yang tidak berdosa. Beliau berkata, "26 ledakan terjadi justru disaat kaum muslimin sedang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan. Apapun alasannya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan."
"Siapa sesungguhnya mereka yang telah melakukannya, telah melakukan pembunuhan atas orang-orang yang tengah berpuasa karena menjalankan perintah Allah swt? Apa sesungguhnya niat dan maksud mereka? Apakah sejarah sebelumnya memberikan contoh bahwa kaum muslimin membunuh sesamanya muslim di bulan Ramadhan? Mereka sesungguhnya meskipun mengklaim diri muslim, pada hakekatnya tidak mampu mencium aroma Islam. Mereka adalah kaki tangan AS dan Israel. Kami nyatakan dengan tegas, mengutuk keras tindakan biadab tersebut dan turut mengecam lembaga-lembaga internasional yang bungkam atas tragedi tersebut." tegas beliau.