27 Mei 2012 - 01:40

"Keistimewaan I'tikaf adalah ibarat suatu jamuan besar untuk para tamu yang menyediakan berbagai menu makanan beraneka ragam yang kesemuanya super lezat. Di dalam I'tikaf ada shalat, puasa sekaligus beberapa amalan manasik haji."

Menurut Kantor Berita ABNA, Hadhrat Ayatullah Jawad Amuli salah seorang ulama besar Iran yang tergabung dalam Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom dalam pembukaan seminar kebudayaan dan seni yang bertemakan "I'tikaf" di Haram Karimah Sayyidah Maksumah Qom Republik Islam Iran menyatakan, "Harapan saya terhadap para mu'takif (orang yang beri'tikaf) adalah harapan dan doanya berkenaan dengan tiga hal, hal yang pribadi, untuk masyarakat senegara dan masyarakat dunia, karena seorang muslim tidak layak hanya memikirkan dirinya sendiri terlebih lagi semua mata masyarakat dunia saat ini tertuju kepada Iran, sehingga Iran sudah semestinya menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik." Dalam lanjutan sambutannya, Ayatullah Jawad Amuli menyatakan, "Allah SWT melakukan sesuatu sesuai kehendakNya dengan kemampuan yang tidak terbatas karenanya tidak ada perbedaan bagi Allah kekuatan yang sedikit ataupun besar, semua pekerjaan dapat dilakukanNya dengan mudah. Mu'takifin harus memahami ini dengan baik dan melakukan I'tikaf dan amalan-amalan ibadah di dalamnya dengan penuh semangat dan gairah ibadah yang tinggi, sebab Allah tidak mengenal sedikit atau banyaknya amalan ibadah melainkan kesungguhan dan ketulusan dalam melakukannya. Sebagai pengikut Ahlul Bait sudah semestinya kita memiliki kecintaan yang sangat dan semangat yang tinggi dalam menjalankan peribadatan." . Guru Besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut lebih lanjut memaparkan, bahwa I'tikaf adalah diantara amalan sunnah yang sangat memberi efek yang sangat positif terhadap kebersihan hati dan kebeningan jiwa. Beliau berkata, "Jika hati telah terhindarkan dari berbagai penyakit hati maka hati akan mudah mengenal Tuhan, dan itulah tujuan utama dari I'tikaf adalah menyingkirkan segala penyakit-penyakit yang bersemayam di dalam hati manusia.". "Keistimewaan I'tikaf adalah ibarat suatu jamuan besar untuk para tamu yang menyediakan berbagai menu makanan beraneka ragam yang kesemuanya super lezat. Di dalam I'tikaf ada shalat, puasa sekaligus beberapa amalan manasik haji. Di dalam riwayat kita temukan, bahwa puasa adalah perisai (pelindung) dari api neraka, sementara puasa menjadi syarat dari amalan I'tikaf, yakni syarat diterimanya amalan I'tikaf adalah dilakukan sembari berpuasa. Selain itu hal-hal yang diharamkan dalam penyelenggaraan amalan haji dan umrah juga diharamkan dilakukan oleh mereka yang ber'itikaf, jadi pelaku I'tikaf serasa sedang menunaikan ibadah haji atau umrah." Jelas ulama marja taklid tersebut. Ulama yang juga telah menulis berjilid-jilid kitab tafsir tersebut pada penghujung ceramahnya menyebutkan I'tikaf adalah panggilan Ilahi yang tidak semua orang mendengar dan menyambutnya, I'tikaf adalah sebuah hidayah Ilahi yang dapat menghantar derajat manusia melebihi malaikat yang dapat dikabulkan do'a-doanya. "Karenanya dalam berdo'a, berharaplah kemaslahatan sebanyak-banyaknya buat diri pribadi, keluarga, agama dan sebanyak-banyaknya umat manusia." Tutup beliau.