Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Shafi Gulpaghani dalam pertemuannya dengan sekelompok pelajar agama dalam rangka menyambut masuknya bulan Muharram menyatakan, "Persoalan terpenting dari mengenang Asyura adalah mengenang tegaknya amar ma'ruf dan nahi mungkar. Disaat semua orang diam dan tak berdaya menghadapi kemungkaran Yazid di zamannya, Imam Husain as bangkit dan melakukan perlawanan."
Ulama marja taklid tersebut dalam lanjutan ceramahnya menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang yang mendukung dengan orang yang hanya diam saja melihat kemungkaran. "Setiap ada ketidak adilan dan penyimpangan hukum oleh penguasa, seorang muslim tidak boleh hanya berdiam diri saja." Tegasnya.
Ayatullah Shafi Gulpaghani lebih lanjut mengibaratkan Muharram dan Safar seperti sebuah universitas besar. Beliau berkata, "Muharram dan Safar ibarat sebuah kampus universitas. Siapapun bisa masuk belajar di dalam kelasnya, dari bangsa manapun dan agama apapun."
"Kebahagiaan umat manusia berkaitan erat dengan tegaknya amar ma'ruf dan nahi mungkar. Jika dalam sebuah masyarakat amalan ini mampu ditegakkan, maka akan memberikan kebahagiaan dan keuntungan bagi seluruh lapisan masyarakat." Lanjutnya. "Karenanya dalam melihat penyimpangan dan ketidak adilan, anggota masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri saja. Ia harus berdiri terdepan untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Keberlangsungan kehidupan masyarakat bergantung pada tegaknya amalan ini."
Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut dalam pembicaraannya juga menyebutkan, "Dalam hal ini sangat banyak kita temukan riyawat dari Nabi saww yang mewajibkan setiap muslim untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Tegaknya amar ma'ruf dan nahi mungkar juga dapat menghentikan berkembangnya dosa dan kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat."
Menyitir hadits Nabi saww ulama marja taklid tersebut berkata, "Yang harus kita ketahui bersama, menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, pahalanya lebih besar dari mendirikan shalat malam."