Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Ja'far Subhani kamis (15/9) dalam acara permulaan tahun ajaran baru pelajar asing Jamiatul Mustafa al 'Alamiyah di Madrasah Imam Khomeini Qom menyampaikan ucapan selamat atas masuknya tahun ajaran baru bagi para pelajar dan harapan agar tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Beliau berkata, "Para pelajar yang telah terdaftar di Jamiatul Mustafa ini harus memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin. Menurut hemat saya, hal yang mesti lebih diutamakan adalah pengenalan mengenai ilmu-ilmu Islam dan setelah itu ilmu-ilmu sosial dengan menerapkan ilmu-ilmu keislaman yang telah dituntut dalam kehidupan bermasyarakat."
"Lebih dari itu, para pelajar harus lebih dulu mengenal kemampuan dirinya dan membangun dirinya sesuai dengan ajaran Islam baru kemudian berfikir untuk mendakwahi dan mengajarkannya kepada orang lain agar lebih memberi kesan dan berbekas kepada orang yang didakwahi khususnya di Negara-negara yang menetapkan larangan untuk membicarakan Islam secara terbuka." Pesan beliau lebih lanjut.
Ayatullah Subhani lebih lanjut mengajak kepada para pelajar yang hadir dalam acara tersebut untuk kelak ketika kembali ke Negara masing-masing menjalankan tugas dakwah dengan sebaik-baiknya. Beliau berkata, "Jika kalian kembali ke Negara masing-masing dan mendakwahkan Islam namun banyak pihak yang menentang kalian apalagi sampai mengatakan bahwa Islam adalah ajaran yang tidak akan mungkin diterima maka kalian harus menyampaikan Islam dengan mengajak mereka berpikir secara rasional baru kemudian menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam yang digali dari Al Qur'an dan As Sunnah yang telah menjadi amalan keseharian kalian agar mereka benar-benar melihat bukti teraplikasinya Islam di tangan kalian."
"Ada 3 kelompok yang mesti kita hadapi dalam menjalankan tugas dakwah, kelompok pertama adalah kelompok yang lebih mengedepankan akal dan gandrung kepada pemikiran rasional dan filsafat, mendakwahi mereka harus dengan penerapan ilmu logika dan dengan menggunakan istilah-istilah filsafat sebagaimana kecenderungan mereka. Namun ketika berhadapan dengan kelompok kedua, yakni kelompok yang memberangus akal mereka dalam berpikir dan lebih mengedepankan dalil-dalil naqli maka membantah mereka dengan menggunakan dalil-dalil filosofis tidaklah tepat. Di sini pelajar agama harus pula menguasai dalil-dalil naqli dan menunjukkan kepada mereka bahwa naqli tidak pernah bertentangan dengan akal. Pelajar harus jeli dan cermat menempatkan pembicaraan pada situasi dan kondisi yang tepat."
"Kenalilah tradisi dan kebudayaan setempat dengan sebaik-baiknya. Dan juga kalian harus mengenal dengan baik ajaran-ajaran tasawuf ataupun Wahabi yang menyimpang agar kalian bisa menunjukkan kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan mereka."
Ulama marja taqlid melanjutkan pesannya, "Imam Khomeini berhasil dalam revolusi Islamnya di Iran karena beliau menjalankan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan di samping pengenalan beliau yang maksimal tentang situasi dan kondisi yang ada sehingga benar-benar sangat memberikan pengaruh kepada banyak orang yang kemudian menjadi pendukung dan pengikut beliau."
Beliau melanjutkan, "Jamiatul Mustafa adalah salah satu diantara keberkahan dari kemenangan revolusi Islam. Sebelum revolusi 5 sampai 10 orang belajar di kelas dalam keadaan ketakutan dan sangat khawatir akan keselamatan mereka namun dengan keberhasilan revolusi saat ini hampir lebih dari 10 ribu pelajar asing tercatat sedang menimba ilmu di Republik Islam Iran ini."
Ayatullah Ja'far Subhani di akhir pembicaraannya mengatakan, "Wahabi adalah seburuk-buruk musuh Islam dan Syiah karena mereka dengan sangat mudah mengkafirkan siapa saja kelompok Islam yang berbeda pandangan dengan mereka dan mereka hanya tahu bahwa hanyalah merekalah yang Islam. Mereka mengira, hak untuk menentukan beriman dan kufurnya seseorang berada di tangan mereka. Dengan tindakan-tindakan yang demikian bahkan melalui aksi-aksi teror, mereka telah mencorengkan noda di wajah umat Islam."