13 Juni 2011 - 19:30

Pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait, Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari menyampaikan ceramah bela sungkawanya dalam majelis duka cita untuk mengenang kesyahidan Ayatullah al Hakim di Masjid Ridha Qo, Republik Islam Iran.

Menurut Kantor Berita ABNA,  majelis duka yang diselenggarakan untuk mengenang tahun kedelapan kesyahidan Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir al Hakim dan tahun kedua wafatnya Hujjatul Islam wa Muslimin Sayyid Abdul Aziz al Hakim yang telah berlangsung di Masjid Imam Ridha, Gozarkhan, Qom, dihadiri oleh wakil-wakil beberapa dari ulama maraji dan simpatisan keluarga al Hakim.

Pada pembukaan majelis, dua penyair Arab menyenandungkan syair yang mengungkap kesedihan akan kepergian tokoh-tokoh besar dari keluarga al Hakim yang begitu dihormati dan dimuliakan masyarakat. Selanjutnya majelis diisi dengan ceramah takziyah oleh pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait, Hujjatul Islam Wal Muslimin Akhtari yang dalam ceramahnya banyak mengungkap keistimewaan dan sifat-sifat mulia Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim.

Selain itu, pimpinan Majma’ Jahani Ahlul Bait tersebut turut menyampaikan ucapan takziah dan bela sungkawa di hari kesyahidan Imam Ali Al-Hadi dan hari wafatnya Imam Khomeini kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Sayyid Ali Khamenei, kepada para marja’ taqlid, keluarga al-Hakim, dan juga kepada para ulama dan para hadirin yang menghadiri majelis tersebut.

Hujjatul Islam Akhtari mengatakan, “Hari ini adalah hari untuk mengenang salah satu hari besar, yang dari satu sisi merupakan kebanggaan  buat pengikut Ahlul Bait yang terzalimi, dan dari sisi lain adalah semakin hidup dan berkembangnya mazhab Ahlul Bait yang mulia ini."

Selanjutnya, beliau menyifatkan As-Syahid Al-Hakim sebagai pribadi yang mencintai dan pendamba kesyahidan, “Syahid adalah suatu kebanggaan yang Imam Ali katakan lebih baik syahid meskipun tubuh dalam keadaan tercabik-cabik dibanding mati biasa ditempat tidur."

Hujjatul Islam Wal Muslimin Akhtari menegaskan, “Tatkala menjelang kematian Amirul Mukminin, beliau mengatakan ‘Aku telah menang wahai Rabbul Ka’bah’, ucapan ini kemudian membekas dan memberi pengaruh kepada para pengikut beliau untuk juga merindukan dan mendambakan kesyahidan dan menganggap kesyahidan sebagai kemuliaan dan kebanggan. Demikian juga pada diri pribadi as-Syahid Ayatullah Al-Hakim yang telah bercita-cita meraih kebanggaan ini”.

Beliau mengingatkan kemuliaan As-Syahid Ayatullah Al-Hakim dengan mengatakan, “Ulama adalah benteng dalam berdiri menghadapi serangan pihak musuh dan orang-orang zalim. Inilah kebenaran ucapan Imam Al-Jawad iaitu ‘Diri ulama adalah anugerah untuk memberikan hidayah kepada manusia di jalan Allah”.

Pimpinan Majma’ Jahai Ahlul Bait lebih lanjut menyatakan peranan ulama dalam pemetaan arah tuju masyarakat dengan berkata, “Hari ini adalah keruntuhan diktatorisme yang diterjang oleh gelombang kesadaran rakyat, kita melihat buktinya dengan jatuhnya Mubarak dan Abdul Soleh. Pada hakekatnya pencapaian kemenangan di tangan rakyat tersebut adalah manifestasi dari janji Allah yang disampaikannya dalam Al-Qur'an, «إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ» (Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi).

Hujjatul Islam Akhtari kemudian menjelaskan kemenangan yang dicapai umat Islam hari ini, tidak lepas dari peran seorang faqih yakni Imam Khomeini ra yang telah menjadi ispirator bagi revolusi-revolusi Islam di dunia. Beliau berkata, “Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam saat ini tidak bisa kita lepaskan dari peran seorang ulama yang faqih, ‘alim dan murid maktab Imam As-Sodiq as yakni Ayatullah Ruhullah al Khomeini, Ayatullah Al-Hakim juga telah menyatakan hal ini sebelum mengucapkan selamat tinggal di Tehran bahwa masa depan Islam untuk revolusi Islam dan umat Islam sangat jelas”.

Mengengai berbagai keluasan dimensi pribadi As-Syahid Al-Hakim, Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari mengatakan, “Orang alim maktab Ahlul Bait ini selain telah banyak berdakwah dengan berbagai kitab dan ucapan, keistimewaan beliau juga adalah dengan mengobarkan perlawanan melalui medan jihad”.
Akhtari mengatakan, “As-Syahid Al-Hakim berdiri untuk menegakkan pemerintahan Islam bersama ilmu dan pengetahuan dengan pembentukan yang munasabah dalam kerjasamanya dengan pembentukan Partai Dakwah Islamiyah”.

Hujjatul Islam Akhtari menyentuh tentang pujian Imam Khomeini terhadap As-Syahid Al-Hakim dengan mengatakan, “Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, As-Syahid Al-Hakim pernah mengasaskan terbentuknya Persatuan Badar dengan menekankan pembentukan keduanya setelah kebudayaan dan ketenteraan”.

Mengenai pujian layanan Ayatullah Al-Hakim terhadap tawanan Iraq, beliau menyatakan, “Pertama kali saya mengenali Ayatullah As-Syahid yang besar ini ialah ketika saya menjadi Imam Jum'at kota Semnan, ketika itu saya membawanya pergi menziarahi penjara tawanan Iraq di Semnan dan beliau memberikan ketenangan kepada para tawanan dengan ucapan-ucapan yang menakjubkan dan membangkitkan kesabaran."

Pimpinan Majma’ Jahani Ahlul Bait ini kemudian mengajukan salah satu karakter dari As-Syahid Al-Hakim yang sangat patut dicontoh oleh ulama-ulama lain di masa kini, “Sebagaimana para Imam mengangkat makanan di atas bahu mereka, dan pergi ke rumah anak-anak yatim dan orang miskin, untuk kemudian membagikannya maka ulama kita juga di zaman ini dan dengan cara yang lain telah mewakafkan dirinya untuk umat, datang ke tengah-tengah umat untuk memberi pencerahan dan mengeluarkannya dari kebodohan.”

Hujjatul Islam Akhtari menceritakan tentang perhatian Ayatullah Al-Hakim mengenai persatuan umat Islam dan Pendekatan Antara Mazhab-Mazhab Islam, “As-Syahid yang mulia ini banyak melaksanakan aktivitas persatuan di antara kaum muslimin dengan bertahun-tahun bertanggungjawab memimpin Majelis Tertinggi Majma’ Taqrib Mazahib Islami."

“Beliau dengan memberikan bukti dari riwayat, telah menganggap bahwa membentuk kasih sayang antara makhluk dan Pencipta merupakan salah satu dari tanggungjawab para ulama. Katanya, “Ayatullah Al-Hakim dalam qunut solat, beliau sendiri membaca, « وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ » , Ini menunjukkan bahwa beliau memberi perhatian terhadap orang-orang terdahulu dan akan datang”.

Hujjatul Islam Akhtari di penghujung ucapannya mengingatkan, “As-Syahid Ayatullah Muhammad Baqir Al-Hakim telah menduduki puncak ilmu, kefaqihan dan juga pembacaan Raudhah Imam Husain di mana beliau sering membaca Raudhah dan Maqtal dalam majlis Imam Husain as, dan ekspresi kedukaannya terlihat dengan tetesan air matanya. Beliau tidak ubahnya Imam Husain yang juga begitu mendambakan kesyahidan."