2 Juni 2011 - 19:30

Mengenai perjuangan rakyat Bahrain, Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari kemudian menyatakan, "Meskipun secara zahir kita melihat keterindasan rakyat Bahrain sama halnya dengan ketertindasan rakyat Palestina, namun pada hakekatnya, rakyat Bahrain lebih tertindas lagi. Rakyat Bahrain dalam perjuangannya sama sekali tidak menggunakan kekerasan ataupun perlawanan bersenjata. Mereka tidak melakukan lontaran batu, tidak memecahkan kaca-kaca, apalagi sampai merusak kantor kepolisian atau fasilitas umum namun mereka mendapat perlakuan dan penyikapan yang sangat keras. "

Menurut Kantor Berita ABNA, pada hari keseratus perjuangan rakyat Bahrain yang bertepatan dengan 24 Mei 2011 atas kerjasa sama Kantor Berita ABNA (Divisi Berita Majma Jahani Ahlul Bait), Daftar Tabligat Islami dan Perkumpulan Pengamat Politik mengadakan seminar dengan tema "100 Hari Perjuangan Rakyat Tertindas" di kota suci Qom, Iran.            

Dalam seminar tersebut, Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari dalam ceramahnya mengungkap pandangannya mengenai masa depan perjuangan rakyat Bahrain dan menyatakan dukungannya terhadap perjuangan mereka.

Pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait tersebut dalam pembukaan ceramahnya menyampaikan selamat atas kelahiran Sayyidah Fatimah as yang saat itu bertepatan dengan hari-hari peringatan kelahiran putri Nabi Muhammad saww, Sayyidah Fatimah as. Dan juga menyatakan ucapan terimakasihnya kepada pihak penyelenggara seminar dan menyebut penyelenggaraan seminar semacam itu adalah sesuatu yang penting dan sifatnya mendesak. Beliau berkata, "Salah satu kewajiban kita yang paling penting khususnya bagi civitas akademika Hauzah Ilmiyah Qom adalah memiliki perhatian dan kesadaran akan peristiwa-peristiwa terkini yang sedang terjadi di dunia Islam, yang dengan demikian ia tahu apa yang harus dilakukan, penyikapan apa yang harus diambil dan tidak lalai dari kewajibannya sebagai muslim."

Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari, dengan merujuk dari salah satu hadits Nabi Muhammad saww yang menyatakan barang siapa yang melihat kesulitan saudaranya, mendengar jeritan penderitaannya namun tidak memberikan bantuan apapun, maka ia tidak tergolong sebagai muslim, mengatakan, "Pemahaman yang benar terhadap berbagai peristiwa yang tengah terjadi adalah faktor utama seorang muslim agar sadar dan tetap waspada untuk kemudian mengambil penyikapan yang benar, sehingga kewajibannya bisa tertunai dengan baik. Dan diantara pemahaman yang benar mengenai berbagai peristiwa penting yang tengah melanda dunia Islam saat ini adalah sebagaimana yang disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamanei dalam khutbah-khutbah Jum'atnya."

Lebih lanjut beliau berkata, "Banyak pengamat yang mengatakan khususnya pengamat-pengamat politik AS bahwa gejolak perubahan yang tengah melanda kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dipicu oleh kepentingan sosial dan ekonomi. Mereka berusaha memalingkan kenyataan yang sebenarnya. Pada hakekatnya, pendorong utama terjadinya gerakan massa yang menuntut perubahan adalah dorongan agama dan semangat berislam."

Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari lebih jauh menyatakan bahwa inspirasi dibalik revolusi-revolusi yang tengah terjadi di kawasan terinspirasi oleh revolusi Islam rakyat Iran dan merujuk kepada pemikiran-pemikiran politik Imam Khomeini ra. Beliau berkata, "Kebangkitan umat Islam di Negara-negara kawasan yang terinspirasi oleh kebangkitan rakyat Iran yang mencetuskan revolusi Islam adalah sesuatu yang tidak bisa terpungkiri lagi. Karenanya Ali Saudi dan Ali Khalifah dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang mereka miliki, baik pernyataan secara resmi, diam-diam dan dalam pertemuan-pertemuan politik mereka, berusaha untuk menggembosi pengaruh Iran bagi Negara-negara lain di kawasan."

Mengenai perjuangan rakyat Bahrain, Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari kemudian menyatakan, "Meskipun secara zahir kita melihat keterindasan rakyat Bahrain sama halnya dengan ketertindasan rakyat Palestina, namun pada hakekatnya, rakyat Bahrain lebih tertindas lagi. Rakyat Bahrain dalam perjuangannya sama sekali tidak menggunakan kekerasan ataupun perlawanan bersenjata. Mereka tidak melakukan lontaran batu, tidak memecahkan kaca-kaca, apalagi sampai merusak kantor kepolisian atau fasilitas umum namun mereka mendapat perlakuan dan penyikapan yang sangat keras. Sampai pihak Arab Saudi sendiri memberi pengakuan, bahwa pada dasarnya tidak ada kekacauan yang terjadi, apalagi yang dipicu oleh masyarakat, hanya saja mereka harus mengambil berbagai tindakan untuk membubarkan massa."

"Lebih menyedihkan lagi, menurut Negara-negara imperialis gejolak massa di Bahrain adalah bentuk pemberontakan rakyat dan Negara sedang menghadapinya, dan apapun yang mereka lakukan adalah upaya memadamkan pemberontakan sehingga bisa dibenarkan. Sementara dari berbagai organisasi kemanusiaan juga tidak mengambil tindakan apa-apa dan seakan-akan tidak peduli dengan pembantaian massal yang tengah terjadi di Bahrain. Tidak ada satupun kita saksikan organisasi kesehatan atau palang merah mengirimkan bantuannya yang ditujukan untuk memberi bantuan kesehatan dan penyelamatan kepada rakyat Bahrain." Tegasnya.

Lebih dalam lagi, pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait ini menegaskan bahwa dibalik kebangkitan rakyat Tunisia, Mesir, Yaman dan Bahrain ada semangat keberagamaan yang tinggi. Beliau berkata, "Semakin tingginya semangat keberagamaan kaum muslimin di Negara-negara kawasan sangat mengkhawatirkan AS dan Barat."

Hujjatul Islam wa Muslimin Akhtari kemudian menyatakan, "Apa yang dilakukan rakyat Bahrain saat ini, tidak ubahnya dengan apa yang dilakukan oleh rakyat Iran saat pergolakan revolusi Islam dulu. Syiar-syiar yang mereka kumandangkan adalah syiar-syiar yang dahulu dicetuskan oleh Imam Khomeini ra. Perjuangan rakyat Bahrain cepat atau lambat akan berakhir dengan kemenangan rakyat. Meskipun saat ini tekanan yang dihadapi rakyat Bahrain sangat keras yang dapat melemahkan mereka, namun harus diketahui titik akhir dari perjuangan tersebut, selama mereka tetap bersabar dalam perjuangannya adalah kemenangan rakyat Bahrain. Allah swt telah menjanjikan kemenangan kepada mereka yang mau berjuang, bagi mereka yang tidak rela untuk terus berada dalam ketertindasan dan dengan kegigihan dan kesabarannya menampakkan kemuliaan dan kebesaran Islam."

"Segala bentuk penderitaan tengah dialami rakyat Bahrain, ditangkapi, dipenjara, mati, cacat, kehilangan keluarga dan harta benda, dan penderitaan tersebut masih terus berlanjut sampai saat ini. Namun mereka masih juga dalam kesabaran dan tetap kukuh berada di garis perjuagannya. Ali Khalifah dengan berbagai upaya yang telah dilakukannya baik secara fisik maupun mental untuk menghentikan perjuangan rakyat sampai saat ini tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda keberhasilan. Ali Khalifah dan Ali Saud harus tahu, bahwa perlawanan rakyat karena mereka juga. Kezaliman yang mereka lakukan justru semakin memperkuat perlawanan dan persatuan rakyat. Yang pada akhirnya, pengikut Ahlul Baitlah yang akan meraih kemenangan." Tegasnya.

Hujjatul Islam wa Muslimin Akhatari lebih lanjut mengatakan, "Sewaktu Ali Saudi turut campur dalam urusan Bahrain, Rahbar menilai itu adalah keputusan politik yang jelas-jelas salah. Apa yang dilakukan Saudi saat ini tidak ubahnya degan apa yang dilakukan Rusia sewaktu melibatkan diri dengan urusan Afganistan. Yang kemudian memicu keruntuhan Rusia lebih cepat. Yang sepakat dengan keterlibatan Saudi dalam konflik Bahrain hanya sekitar 20 sampai 22 % sementara lebih dari 70% rakyat Saudi menentang keputusan tersebut. Sehingga hal tersebut semakin menimbulkan kebencian rakyat terhadap rezim Saudi. Tentara-tentara Saudi yang membunuhi rakyat Bahrain tidak memberi keuntungan politik apa-apa bagi Saudi justru sebaliknya Saudi akan mendapat kecaman dan kebencian dari banyak kaum muslimin. Hal ini telah merupakan tanda-tanda keruntuhan kerajaan Saudi."

Dipenghujung ceramahnya, pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait ini menyatakan sikap optimisnya, "Saya yakin, kemenangan akan selalu berada dalam genggaman umat Islam. Dan kita semua akan menjadi saksinya bersama-sama."