Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Hasyimi Rafsanjani dalam sebuah acara peringatan mengenang perjuangan para perawat dalam perang 8 tahun mempertahankan keutuhan Republik Islam Iran yang coba diruntuhkan oleh rezim Saddam Husein mengatakan, "Rakyat di kawasan ini, adalah rakyat yang penuh kewaspadaan, sadar, mujahid dan penuh semangat perjuangan. Rakyat Yaman berbulan-bulan berada di jalanan dan siap syahid untuk itu, di Libia rakyat juga melakukan hal yang sama melakukan perlawanan dan rela mengorbankan nyawa mereka, di Suria kita melihat bagaimana mereka bertahan dan juga kemenangan revolusi rakyat Mesir. Dan perjuangan tersebut terus berlanjut sampai saat ini, karena rakyat telah sadar dan tidak akan lagi rela menerima ketertindasan dari pemerintahan yang zalim."
Mengenai perjuangan rakyat Bahrain, Ayatullah Rafsanjani berkata, "Sementara Bahrain adalah rakyat yang paling terzalimi dan tak satupun memiliki pelindung di dunia ini."
Mantan presiden Iran dua periode ini lebih lanjut berkata, "Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin pesat, dunia informasi dan komunikasi juga semakin mengalami peningkatan dan kemajuan. Sekarang dunia serasa semakin kecil dengan banyaknya channel radio, televisi dan situs-situs berita di internet yang setiap detik mengabarkan berita terbaru dari setiap peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Peristiwa penting di sebuah Negara bisa dengan begitu segera diketahui oleh Negara ini. Karenanya peristiwa disebuah Negara dapat mempengaruhi Negara lain tanpa bisa dicegah. Kebangkitan rakyat di Negara-negara kawasan juga disebabkan oleh adanya tekhnologi komunikasi ini yang bagi rakyat yang sadar digunakan untuk bangkit melawan kediktatoran secara bersama-sama."
"Setelah kemenangan revolusi Islam Iran, umat Syiah Irak menjadikan perjuangan rakyat Iran tersebut sebagai inspirasi untuk melakukan hal yang sama, dan merekapun memulai perjuangan mereka untuk melepaskan diri dari belenggu rezim Saddam. Perlawanan demi perlawanan mereka lakukan, sampai sejumlah dari mereka menjadi tahanan bahkan banyak yang sampai harus terbunuh. Karenanya, rezim Saddam melihat Iran sebagai Negara yang berbahaya bagi ideologi politik mereka. Saddampun berusaha mencoba menggulingkan pemerintahan Islam Iran sebab khawatir pengaruh kemenangan revolusi Islam Iran akan merambah ke Irak dan Negara Islam lainnya di kawasan Timur Tengah. Jadi maksud asli rezim Saddam menyerang Iran adalah berusaha untuk membendung pengaruh revolusi rakyat Iran. Rakyat Irak tidak boleh memiliki kesadaran politik sebagaimana rakyat Iran, sebab hal itu sangat membahayakan rezim Saddam yang menjalankan roda pemerintahan dengan cara yang zalim dan semena-mena." Jelasnya.
Ayatullah Rafsanjani kemudian menegaskan, bahwa kemenangan rakyat Iran mempertahankan keutuhan Republik Islam Iran selama 8 tahun dari agresi militer Irak adalah berkat perlindungan Allah swt. "Iran waktu itu adalah Negara yang baru saja berbenah, dengan perlengkapan senjata yang sangat minim terus dengan gigih berusaha untuk mempertahankan kedaulatan Negara. Meskipun korban dari pihak Iran dua kali lipat lebih banyak dari Irak, yang memiliki kekuatan dan perekonomian serta dukungan dari banyak Negara, namun bangsa kita berhasil meraih kemenangan dan sampai saat ini masih tetap bisa menjalankan roda pemerintahan di bawah koridor aturan-aturan Islam. Ini semua berkat perlindungan Allah swt yang harus kita syukuri."
Ayatullah Hasyemi Rafsanjani kemudian tidak lupa untuk menyampaikan rasa syukur dan terimakasihnya yang besar terhadap perjuangan para perawat (yang mayoritas berasal dari kaum perempuan) selama dalam kondisi perang. Beliau berkata, "Kontribusi para perawat yang telah diberikan selama perang tidaklah kecil. Peran mereka sangat besar, bahkan tidak sedikit dari mereka juga mengorbankan nyawa mereka. Mereka telah menyelamatkan nyawa banyak orang, memberi harapan hidup bagi mereka yang menjadi korban cacat dalam perang dan menguatkan jiwa keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Jasa-jasa mereka akan selalu dikenang oleh bangsa ini."