4 Mei 2011 - 19:30

Ayatullah Shafi menyampaikan dalam kelas Bahsul Kharij Fiqh yang diasuhnya, berkaitan dengan hari kesedihan syahadah Sayidah Fathimah as berkata, “Kewajiban Umat Syiah pada hari-hari ini adalah untuk mengenal secara benar siapa itu Sayyidah Fathimah as.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Shafi Gulpaigani pagi ini pada pembukaan materi Bahsul Kharij Fiqh yang beliau pandu berkata bahwa kewajiban umat Syiah sekarang ini adalah mengenal siapakah sebenarnya sosok Sayidah Fathimah as itu.

Beliau menilai sayidah Fathimah adalah teladan sempurna bagi umat manusia dalam hal ini beliau berkata, ”Jika kita diminta pendapat bagaimana cara hidup yang lebih baik maka sejarah kehidupan beliau (Fathimah as) yang akan kami kemukakan sebagai jawaban. Tidak hanya untuk para wanita semata tapi beliau adalah suri tauladan untuk umat manusia sekalian alam.”

Ayatullah shafi dengan mengemukakan beberapa ciri, prilaku, akhlak dan maknawiyah beliau menjelaskan, “Kezuhudan, kerohaniahan, dan keqanaahan beliau dalam hidup adalah contoh yang sangat sering dinukil oleh tinta sejarah. Untuk manusia seluruh alam ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Jika semua keluarga dibangun dengan keqonaahan yang beliau terapkan maka banyak sekali permasalahan yang akan dapat mereka pecahkan."

Selanjutnya beliau mengisyaratkan pada jiwa berkorban dan upaya penjauhan diri syaidah Fathimah dari dunia, disini beliau memaparkan, “Sayidah Fathimah telah mampu menyingkirkan berbagai hal yang bisa menipu manusia, beliau hanya memposisikan diri dalam pemikiran sehat dan berada dalam selimut hukum islam, akhlak dan maknawiyah semata.”

Ustad Bahsul Kharij Qom ini kembali menambahkan bahwa salah satu hal yang menjadikan kehidupan beliau menjadi begitu indah adalah ibadah dan penghambaan  secara ikhlas dan perhatian pada Tuhan semesta Alam yang beliau praktekkan, dimana beliau berada pada puncak-puncak penyembahan dan peribadahan, beliau hanya memberikan perhatian pada Allah swt dan semua warna kehidupan yang beliau miliki adalah kehidupan dengan semerbak ilahiyah.

Beliau juga mengusung berbagai unsur kehidupan dari sayidah Fathimah dan menilai bahwa semua itu adalah petikan pelajaran bagi para pemuda, “Dalam pernikahan beliau dengan Amirul Mukminin Ali begitu banyak pelajaran yang dapat diambil. Adalah menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan hal itu pada semua lapisan masyarakat."

Beliau menambahkan  bahwa jika kita adalah masyarakat Fathimi dan masyarakat Zahrai, maka kita akan terlepas secara mutlak dari permasalahan yang ada dimasyarakat.

Dalam menjelaskan bahwa sayidah Zahra adalah orang yang taat pada perintah Allah swt Ayatullah Shafi menerangkan, “Ucapan beliau ini sangat terkenal dan harus diulang-ulang untuk disampaikan pada masyarakat, ”yang  terbaik untuk para wanita yaitu dia tidak melihat lelaki non muhrim dan juga tidak dilihat oleh nonmuhrim.” Tapi sayang sekali sekarang ini percampuran tidak wajar antara laki-laki dan perempuan dimasyarakat sudah begitu banyak yang mana hal itu menjadi penyebab munculnya berbagai penyimpangan, penyimpangan-penyimpangan yang tidak mungkin kami sebutkan disini.”

Dalam bagian lain dari ceramahnya beliau mengutip khotbah sayidah Fathimah yang disampaikan di masjid Madinah,” Penjelasan Sayidah Zahra as adalah salah satu pendukung kebenaran madzhab Syiah. Secara yakin bahwa khutbah beliau itu adalah salah satu bentuk mukjizat.  Dimana syarat-syaratnya secara tersembunyi beliau sampaikan pada masyarakat Madinah dan hanya beliau saja yang mampu mengemukakan hal itu pada kondisi dizaman itu. Dan tidak ada orang lain satu pun dengan melihat kondisi yang begitu parah dan menyedihkan semenjak kepergian Nabi saw yang mampu melakukannya."

Pada kesempatan itu beliau mengharap kepada Mahasiswa, Ulama, Pelajar, dan para pembesar Dunia untuk memberikan perhatian lebih pada khotbah beliau tadi. Dan untuk meneliti dan mengkaji kalimat demi kalimat atas  khutbah yang beliau sampaikan sehingga umat Islam bisa memanfaatkannya dengan lebih proporsional.

Ayatullah Shafi selanjutnya menerangkan bahwa dengan ucapan beliau bahwa pimpinan beliau setelah Nabi saw adalah Imam Ali as dan orang lain dinilai telah mencuri hak itu, “Aqidah umat Syiah adalah aqidah beliau tadi.”

"Ustadz kita Almarhum Ayatullah Haji Sayid Muhammad Taqi Khanshari telah menukil untuk kita bahwa ketika beliau pergi berziarah ke Mekah Mukaramah dan Madinah Munawarah dan disana beliau bertemu dengan Hasan al-Banna salah satu ulama besar Suni dan juga pimpinan Ikhwanul Muslimin berdiskusi dan saling adu argumen. Setelah berlalu beberapa waktu dari pembahasan keimamahan Imam Ali dan pencurian kekhalifahan beliau akhirnya Hasan al Banna memberikan perhatian pada aqidah kita dan pada para penduduk Hijaz menyampaikan  bahwa aqidah Syiah terkait Syaikhain adalah aqidah yang juga diyakini Sayidah Zahra as dan karena kita tidak mampu memprotes sayidah Zahra as maka dari sisi ini aqidah Syiah juga terhormat dimata kami."(*)