Menurut Kantor Berita ABNA, Ala As’ad Shafthawi dalam ceramahnya berkata,” Mahmud Abbas itu berkeras kepala dan tidak melakukan protes padahal syarat yang sudah disetujui dilanggar begitu saja. Ini adalah suatu hal yang perlu diperhitungkan dimana sebagaian Arab dan sebagian orang-orang Fatah terpaksa angkat tangan dari kejadian ini."
Dia menambahkan: "Pemimpin yang berani adalah seseorang yang menyesali kesalahannya. Dan tindakan seperti ini telah dilakukan oleh Yasir Arafat."
Yasir Arafat mempersembahkan jiwanya demi menebus kesalahan.
Shafthawi salah satu penasihat Yasir Arafat menjelaskan,” Arafat ketika merasa perundingan sudah tidak bisa diteruskan lagi dengan adanya perlawanan Aqsha pada September 2000 perjanjian itu pun ia batalkan dan dengan itu berarti ia sedang mengorbankan jiwanya."
Dia menambahkan antara pimpinan revolusioner dan pimpinan Delqaq ada perbedaan. Abu Mazen menghindarkan diri dari hujan itu, dari zionits meminta tolong pada Amerika, dari Amerika meminta tolong pada Eropa.
Kemungkinan adanya pemberontakan masyarakat melawan pembentukan Hudgardan masih ada
Dia dalam menjawab pertanyaan apakah terdapat tanda perlawanan masyarakat pada Abbas di Ramalah berkata,” Iya memang ada tapi sampai saat ini belum sampai pada tahapan puncak. Sepertinya masih butuh waktu beberapa bulan lagi”.
Dia meminta kelompok-kelompok Palestina untuk mengakhiri dengan memberikan dua pendapat dan menekankan bahwa Abbas harus secara jelas mengumumkan telah menghentikan kerjasama antara aparat keamanan dengan Zionis. Perlawanan terhadap penjajah Israel diterima atau setidak-tidaknya harus menghentikan secara keseluruhan perjuangan dan semua tahanan politik harus dibebaskan dari tahanan.
Shafthawi selanjutnya menjelaskan,” Mereka menetapkan asas atas semua kesepakatan antara Ghaza dan Karanah Bahtiari terkait masa pemilihan umum presiden dan majlis penentuan hukum. Selain itu dengan negara-negara yang melakukan perlawanan juga mereka adakan kontak, kami mengharap kepada mereka untuk membantu pendanaan ketika Amerika memutus bantuan dana”.
Abbas hanya bisa memilih bersatu dengan kelompok perlawanan.
Dia berkata seperti ini,” Abbas tidak begitu banyak jalan pilihan kecuali mengumumkan pemutusan hubungan dengan Zionis serta melakukan kesepakatan politik dengan Negara Palestina di Ghaza untuk kedepannya”.
Ditujukan pada Abbas dia berkata,” Kamu tidak ada pilihan lain kecuali mendekat dengan pihak perlawanan dan Arab saudi akan tertinggal sedirian diantara Negara-negara kawasan timur tengah”.
Dia menekankan,” Semua harus mengetahui bahwa jatuhnya Husni Mubarak memiliki ekor yang mengikut, dan Mesir dalam kurun dua tahun atau lebih akan berubah menjadi sebuah negara yang kuat, ada kemungkinan juga dalam waktu empat atau lima tahun mendatang akan menjadi sebuah negara yang memusuhi Zionis”.
Ghaza akan berubah menjadi kawasan perdagangan.
Ahli politik Palestina ini pada akhir ulasannya mengisyaratkan bahwa Ghaza dengan sendirinya pada awal tahun depan akan berubah menjadi kawasan merdeka dan Mesir yang sebelumnya mengadakan perjanjian Kam David akan melepaskannya. Ghaza akan mengelola minyak, Gas alam, dan segala kebutuhan kehidupan mereka secara mandiri. Dimana Karanah Bahtiyari akan terus dipersoalkan dan ini berarti Ghaza akan segera memulai hubungan politiknya dengan Dunia Arab dan Internasional semua ini akan terjadi disaat Ramalah yang berada dibawah kekangan Zionis sudah bisa diambil kembali.(*)