12 Februari 2011 - 20:30

Setelah tumbangnya rezim di Tunisia dan Mesir, Negara-negara Islam lainnya serasa terkena demam demonstrasi. Berbarengan dengan tergulingnya pemerintahan Husni Mubarak, ribuan rakyat Aljazair turun ke jalan turut merayakan kemenangan rakyat Mesir tersebut. Namun, pihak keamanan Aljazair menyikapi aksi unjuk rasa tersebut dengan brutal, dikabarkan beberapa orang cidera dan dijebloskan ke penjara.

Menurut Kantor Berita ABNA, Sa'id Sa'di, pemimpin pihak oposisi Al-Jazair dalam pernyataannya mengatakan, "Setelah kejatuhan Mubarak, para aktivis pendamba demokrasi turut melakukan aksi dengan turun ke jalan untuk merayakan kemenangan rakyat Mesir tersebut, pada awalnya pihak kepolisian membiarkan saja, namun karena melihat jumlah demonstran semakin membeludak, mereka menjadi berubah, dan membubarkan massa dengan brutal"

 
Sa'di mengabarkan ada beberapa orang cedera dalam insiden penyerangan polisi tersebut terhadap para demonstran. Yang cidera dan luka-luka telah dilarikan di Rumah sakit dan sampai saat ini belum teridentifikasi dengan jelas, berapa jumlah korban.


Beliau menyatakan sekurang-kurangnya 10 orang ditangkap dan menambahkan, "Perlakukan pihak kepolisian terhadap para demostran sangat berlebihan dan illegal, mereka tidak punya alasan kuat membubarkan aksi damai masyarakat tersebut. Aksi unjuk rasa ini hanya sekedar meluapkan kegembiraan kemenangan revolusi rakyat atas pemerintahan yang otoriter."

 

Menurut beberapa sumber, aksi unjuk rasa rakyat Aljazair tersebut dibubarkan secara brutal oleh ratusan polisi, dan menyikapi aksi demonstrasi lanjutan, pemerintah Aljazair menempatkan 30 ribu personel kepolisian buat mengamankan ibukota.