28 Oktober 2026 - 21:45
Ayatullah Shab Zendeh Dar: Menjawab Pertanyaan Agama Merupakan Penghubung Umat dengan Ajaran Ilahi

Sekretaris Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah Iran, dalam kunjungannya ke Pusat Nasional Pelayanan Jawaban atas Pertanyaan Agama, menekankan pentingnya dakwah agama dan upaya menjawab berbagai keraguan akidah. Ia menyebut ketakwaan, argumentasi yang kuat, kemampuan ilmiah, dan ketulusan niat sebagai sejumlah karakteristik terpenting yang harus dimiliki para pemberi jawaban atas pertanyaan agama.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Mohammad Mahdi Shab Zendeh Dar, Sekretaris Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah Iran sekaligus anggota Dewan Garda Konstitusi, pada Rabu (28/10), mengunjungi Pusat Nasional Pelayanan Jawaban atas Pertanyaan Agama.

Dalam pertemuan dengan para pejabat dan pakar dari berbagai bagian pusat tersebut, ia menjelaskan kedudukan dakwah agama serta pentingnya menjawab berbagai pertanyaan dan keraguan masyarakat.

Ia menggambarkan tanggung jawab tersebut sebagai bentuk pelayanan yang berharga dalam menyebarluaskan ajaran Islam dan membimbing masyarakat.

Para Pemberi Jawaban Agama: Penghubung Masyarakat dengan Ajaran Ilahi

Dengan menyinggung kedudukan para pemberi jawaban dan pendakwah agama, Ayatullah Shab Zendeh Dar mengatakan:

“Orang-orang yang memahami ajaran dan hukum-hukum Ilahi secara benar, kemudian menyampaikannya kepada masyarakat dengan mengenali karakteristik audiens serta menggunakan metode yang tepat, merupakan penghubung antara syariat dan ajaran Ilahi dengan masyarakat.

Tanggung jawab ini, selain memiliki nilai ilmiah, juga merupakan bentuk kebajikan terhadap Islam dan hamba-hamba Allah, serta mendapatkan perhatian Ilahi dan para wali agama.”

Perang Akidah: Instrumen Musuh untuk Melemahkan Masyarakat

Sekretaris Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah Iran itu menyinggung semakin berkembangnya sarana komunikasi dan kemudahan penyebaran informasi di dunia maya. Ia menilai pelemahan keyakinan agama dan penciptaan keraguan terhadap akidah sebagai salah satu metode utama yang digunakan musuh untuk memengaruhi masyarakat.

Ia mengatakan: “Untuk menguasai masyarakat, musuh berusaha menciptakan keraguan terhadap landasan-landasan akidah.

Sebab, keraguan terhadap keyakinan dapat melemahkan keteguhan, daya tahan, dan kesabaran seseorang, sehingga mendorongnya mengikuti keinginan musuh.”

Dengan merujuk pada pandangan Muhaqqiq Naini mengenai konsep Mutammim al-Ja'l (متمم جعل), ia menjelaskan bahwa sekadar menyampaikan dan menetapkan hukum-hukum agama belum cukup untuk mewujudkan seluruh tujuan agama.

Diperlukan orang-orang yang memiliki pemahaman benar terhadap ajaran agama dan mampu menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik serta tingkat kemampuan audiens yang berbeda-beda, sehingga ajaran tersebut dapat disampaikan secara tepat kepada mereka yang haus akan kebenaran.

Ketakwaan dan Rasa Takut kepada Allah: Syarat Efektivitas Jawaban Agama

Ayatullah Shab Zendeh Dar merujuk pada nasihat Amirul Mukminin Ali As mengenai pentingnya membantu mewujudkan tujuan-tujuan Ilahi. Ia menyebut empat karakteristik penting yang harus dimiliki para pelayan agama, yakni wara' (kehati-hatian dalam menjaga diri dari dosa), ijtihad, iffah (menjaga kesucian diri), dan sadad (ketepatan serta kelurusan).

Ia menegaskan: “Salah satu faktor penting yang membuat jawaban agama dapat diterima adalah kepercayaan audiens terhadap ketakwaan dan rasa takut kepada Allah yang dimiliki pemberi jawaban. Audiens harus merasa yakin bahwa orang tersebut tidak mencampurkan kepentingan pribadi maupun kecenderungan kelompok ke dalam penjelasan yang disampaikannya.”

Menjaga Kesucian Diri dan Tidak Bergantung pada Dunia Memperkuat Pengaruh Perkataan

Ayatullah Shab Zendeh Dar menjelaskan bahwa sifat iffah atau menjaga kesucian diri dapat diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk persoalan keuangan.

Ia mengatakan: “Ada ulama yang, meskipun menghadapi kesulitan ekonomi, tidak bersedia mengorbankan kedudukan dan kehormatan dirinya demi memperoleh fasilitas materi. Sikap semacam ini membangun kepercayaan masyarakat dan membuat perkataan para ulama memiliki pengaruh yang kuat.”

Ia menambahkan bahwa hal serupa terlihat pada masa Revolusi Islam Iran. Ketika itu, masyarakat yang mempercayai Imam Khomeini dan para marja agama menerima seruan mereka untuk mendukung gerakan Islam serta bersedia menanggung berbagai pengorbanan demi mewujudkan tujuan-tujuannya.

Argumentasi yang Kuat dan Menghindari Jawaban yang Lemah

Anggota Dewan Garda Konstitusi itu menilai kemampuan menyampaikan argumentasi yang jelas dan kokoh sebagai salah satu persyaratan penting dalam menjawab pertanyaan agama.

Dengan merujuk pada konsep qaulan sadidan (قول سدید) dalam Al-Qur'an, ia menegaskan: “Jawaban harus didasarkan pada premis-premis yang benar, argumentasi yang kuat, serta penjelasan yang jelas dan dapat dipahami.

Penggunaan argumentasi yang rumit dan dipaksakan, khususnya ketika berhadapan dengan audiens yang memiliki tingkat kemampuan dan pengetahuan berbeda-beda, tidak dapat menggantikan penjelasan yang terang dan sesuai dengan kebutuhan mereka.”

Ia juga merujuk pada sejumlah riwayat Imam Ja'far ash-Shadiq As dan memperingatkan bahaya penggunaan argumentasi yang keliru serta sesat pikir untuk mengalahkan lawan perdebatan.

Ia menegaskan: “Sekalipun seseorang dapat membuat audiens atau lawannya terdiam dalam sebuah perdebatan dengan menggunakan premis-premis yang tidak benar, metode semacam itu tidak dikehendaki Islam.

Sebab, ajaran Islam dibangun di atas kebenaran dan argumentasi yang sahih. Karena itu, pembelaan terhadap agama juga harus dilakukan dengan metode yang benar.”

Pentingnya Memastikan Kemampuan Ilmiah Sebelum Mengikuti Perdebatan

Ayatullah Shab Zendeh Dar merujuk pada riwayat-riwayat Imam Ja'far ash-Shadiq As mengenai kemampuan orang-orang yang terlibat dalam perdebatan. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang ditugaskan untuk menjawab pertanyaan atau mengikuti perdebatan di universitas, forum ilmiah, maupun lingkungan lainnya harus memiliki pengetahuan yang memadai serta keterampilan yang diperlukan.

Seseorang yang belum memiliki kemampuan menjawab berbagai keraguan dan mengelola jalannya diskusi tidak seharusnya memasuki forum semacam itu tanpa persiapan. Demikian pula, para penanggung jawab harus mempertimbangkan kemampuan ilmiah dan keterampilan seseorang sebelum menugaskannya menjalankan misi tersebut.

Kejujuran Ilmiah: Keberanian Mengakui Ketidaktahuan

Dengan mengutip sejumlah contoh dari tradisi keilmuan para ulama terkemuka, termasuk Allamah Thabathabai dan Ayatullah Agung Shobeiri Zanjani, Ayatullah Shab Zendeh Dar menekankan pentingnya kejujuran dalam memberikan jawaban.

Ia mengatakan: “Ketika seorang pemberi jawaban agama menghadapi pertanyaan yang belum diketahui jawabannya atau belum mencapai keyakinan mengenai jawabannya, ia harus secara terbuka menyatakan bahwa dirinya memerlukan kajian dan penelitian lebih lanjut. Ia juga dapat mengarahkan penanya kepada orang lain yang memiliki pengetahuan lebih mendalam.”

Ia menegaskan bahwa menyembunyikan ketidaktahuan dan memberikan jawaban tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan tidak sesuai dengan ketakwaan maupun amanah ilmiah.

Keikhlasan: Syarat Utama Diterimanya Amal

Sekretaris Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah Iran itu kemudian menyebut ketulusan niat sebagai salah satu faktor terpenting yang menentukan nilai kegiatan keagamaan. Dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an mengenai tujuan penciptaan dan ujian manusia, ia mengatakan: “Agar suatu perbuatan termasuk dalam golongan amal terbaik, perbuatan tersebut harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan jiwa serta didasarkan pada niat karena Allah.

Pelayanan terhadap agama, pembelaan terhadap ajaran Ahlulbait As, serta upaya memenuhi kebutuhan akidah dan pemikiran masyarakat akan memperoleh nilai sejatinya apabila dilakukan demi Allah dan tanpa mengharapkan keuntungan duniawi.”

Ia juga mengutip sejumlah kisah mengenai Imam Khomeini dan pemimpin Revolusi Islam yang gugur sebagai syahid, khususnya terkait sikap menghindari ambisi jabatan dan menerima tanggung jawab berdasarkan kesadaran terhadap kewajiban.

Ayatullah Shab Zendeh Dar menegaskan bahwa keikhlasan niat merupakan salah satu faktor penting dalam kemenangan dan keberlanjutan Revolusi Islam.

Karena itu, orang-orang yang menempuh jalan pengabdian kepada agama dan masyarakat harus senantiasa menjaga diri agar motivasi pribadi dan kepentingan duniawi tidak menggantikan pelaksanaan kewajiban Ilahi.

Pada akhir kunjungannya, Ayatullah Shab Zendeh Dar menggambarkan kegiatan Pusat Nasional Pelayanan Jawaban atas Pertanyaan Agama serta usaha para pakarnya sebagai tanggung jawab yang besar dan bernilai. Ia menekankan pentingnya meningkatkan pengetahuan, ketakwaan, kemampuan berargumentasi, kejujuran ilmiah, dan keikhlasan di kalangan para pemberi jawaban agama.

Ia juga menyampaikan harapan agar berbagai upaya tersebut diterima oleh Allah Yang Mahatinggi sebagai bagian dari pembelaan terhadap ajaran Islam, penyelesaian keraguan akidah, dan pembimbingan masyarakat.

Menurutnya, tanggung jawab ini merupakan bentuk pengabdian yang sejalan dengan upaya membantu perjuangan Ahlulbait As dan, apabila dilaksanakan dengan benar, dapat mendatangkan nilai spiritual serta pahala akhirat yang besar.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha