Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Ali Akbar Rashad, pada Rabu (28/10), dalam kuliah tingkat lanjut ilmu Ushul Fikih (Dars-e Kharij Ushul), menyinggung pernyataan terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran.
Ia mengatakan: “Pernyataan ini bersifat strategis, bahkan sebagaimana istilah yang digunakan beliau sendiri, bersifat supra-strategis. Artinya, pesan ini mencakup seluruh strategi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan.”
Dengan merujuk pada berbagai pesan dan pernyataan yang dikeluarkan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dalam beberapa bulan terakhir, Rashad menambahkan:
“Selama tujuh atau delapan bulan masa kepemimpinan beliau, sejauh yang saya ingat, sekitar tiga puluh pernyataan telah dikeluarkan dalam berbagai kesempatan.
Karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan pertemuan secara langsung, beliau memandang perlu untuk mengisi kekosongan pertemuan tersebut melalui pesan-pesan yang disampaikan kepada masyarakat.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu menjelaskan bahwa penelaahan secara umum terhadap berbagai pernyataan tersebut, termasuk landasan pemikiran dan sikap yang dikemukakan di dalamnya, memperlihatkan sejumlah karakteristik menonjol dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam.
Ia menegaskan: “Berkat karunia Allah Yang Mahatinggi dan perhatian Imam Wali Ashr Aj, pemimpin yang matang, pejuang, dan pemberani ini telah ditempatkan pada kedudukan tersebut berdasarkan ketetapan Ilahi.”
Ia kemudian mengutip ungkapan Al-Qur'an:
«حَیْثُ یَجْعَلُ رِسَالَتَهُ»
“Di mana Dia menempatkan risalah-Nya.”
Kekaguman terhadap Pernyataan Pertama Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran
Ayatullah Rashad menyinggung pernyataan pertama yang dikeluarkan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam setelah menduduki jabatan kepemimpinan.
Ia mengatakan: “Pada waktu itu, kami menantikan apa yang akan beliau sampaikan, bagaimana gaya dan bahasa penyampaiannya, serta seperti apa cara berpikir yang dimilikinya. Namun, apa yang kemudian kami saksikan benar-benar mengagumkan.”
Dengan menyinggung kondisi psikologis yang berat serta tanggung jawab besar yang dihadapi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada awal masa kepemimpinannya, Rashad menjelaskan: “Di satu sisi, beliau telah kehilangan ayahnya yang mulia, yang sekaligus merupakan pemimpin, panutan, dan sosok yang sangat dicintainya.
Selain itu, suami saudara perempuannya, saudara perempuannya, para komandan, ilmuwan, masyarakat, dan anak-anak juga telah gugur sebagai syahid. Sebagai pemimpin, beliau menanggung kesedihan atas kepergian seluruh orang-orang tercinta tersebut.”
Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu melanjutkan: “Di sisi lain, serangan-serangan besar dari musuh imperialis dan Zionis masih terus berlangsung. Musuh telah datang dengan mengerahkan seluruh kekuatan untuk memerangi tanah air kita, sementara beliau harus memimpin dan mengelola negara.
Ancaman juga terus membayangi. Setiap saat terdapat kemungkinan musuh menemukan lokasi keberadaan beliau dan melancarkan serangan. Dengan demikian, beliau senantiasa berada dalam ancaman kesyahidan.”
Rashad menegaskan bahwa selain menghadapi seluruh keadaan tersebut, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam juga harus memikul beban berat kepemimpinan dan tanggung jawab sejarah. Ia mengatakan: “Jika kita mempertimbangkan seluruh keadaan tersebut, keluarnya sebuah pesan yang begitu tepat, matang, mendalam, dan kaya kandungan, serta memperhitungkan berbagai dimensi persoalan, benar-benar merupakan sesuatu yang mengagumkan.”
Peran Pemimpin yang Syahid dalam Membangun Gerakan Ilmiah, Politik, dan Internasional
Ayatullah Rashad kembali menegaskan bahwa pernyataan terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam mencakup seluruh strategi negara dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan.
Ia mengatakan: “Hasil dari cara pandang tersebut tercermin dalam ungkapan ‘Al-Ilmu Sulthan’, yakni ilmu pengetahuan adalah kekuatan.”
Dengan menyinggung peran pemimpin yang gugur sebagai syahid dalam membangun berbagai gerakan di Iran, Rashad menambahkan: “Inilah yang dibangun oleh pemimpin yang syahid selama 37 tahun masa kepemimpinannya. Bahkan, jika dihitung sejak masa kepresidenan hingga kepemimpinan, berlangsung selama sekitar 44 atau 45 tahun.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu menjelaskan bahwa berbagai gerakan telah dibangun dalam bidang politik dan hubungan internasional.
Ia mengatakan: “Beliau mendirikan dan membangun berbagai gerakan dalam banyak bidang. Dalam bidang politik, beliau mengembangkan suatu mazhab pemikiran politik yang melanjutkan sekaligus menyempurnakan mazhab politik Imam Khomeini.”
Dengan menyinggung peran pemimpin yang syahid dalam pembentukan dan pengembangan Front Perlawanan, Rashad mengatakan:
“Meskipun Imam Khomeini merupakan pendiri Front Perlawanan, pemimpin yang syahid inilah yang menata, memperkuat, memperluas, memperdalam, memberikan keberanian, serta memimpin Front Perlawanan tersebut.”
Rashad menjelaskan bahwa selama masa kepemimpinannya, Front Perlawanan berhasil meraih berbagai kemenangan dalam sejumlah konfrontasi.
Ia menambahkan: “Dalam berbagai operasi, Front Perlawanan memperoleh kemenangan di bawah kepemimpinan beliau.
Selama masa kepemimpinannya, Front Perlawanan tidak pernah mengalami kekalahan, meskipun jarang sekali seluruh kelompok yang tergabung di dalamnya turun ke medan pertempuran secara bersamaan.”
Ia melanjutkan: “Pada umumnya, kelompok-kelompok perlawanan turun ke medan pertempuran dan memperoleh kemenangan.
Hizbullah juga beberapa kali terlibat dalam konfrontasi dengan Israel. Berhadapan dengan Israel berarti berhadapan dengan Amerika Serikat, Eropa, dan NATO. Dalam berbagai konfrontasi tersebut, Hizbullah meraih kemenangan di bawah kepemimpinan beliau.”
Pengarahan Lembaga-Lembaga Strategis dan Penerbitan Dokumen Kebijakan Nasional
Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu menyinggung peran pemimpin yang syahid dalam penyusunan dokumen kebijakan tingkat tinggi serta pengarahan lembaga-lembaga strategis negara.
Ia mengatakan: “Dalam bidang penerbitan dokumen kebijakan tingkat tinggi dan dokumen strategis, pemimpin yang syahid telah menerbitkan sekitar empat puluh dokumen penting. Dokumen-dokumen tersebut membahas berbagai persoalan mendasar dan prinsipil, serta menjadi pedoman bagi lembaga dan institusi negara.”
Rashad menegaskan bahwa peran pemimpin tersebut dalam mengarahkan lembaga-lembaga strategis yang berskala besar dan menentukan tidak dapat tergantikan.
Ia menambahkan: “Lembaga militer, yang memiliki kedudukan setara dengan salah satu cabang kekuasaan negara, berada secara terpadu dan langsung di bawah kepemimpinan beliau. Bahkan, dalam persoalan-persoalan terperinci, beliau memberikan arahan kepada lembaga tersebut.”
Ayatullah Rashad juga menyinggung peran pemimpin yang syahid dalam mengarahkan Dewan Penentu Kebijakan Negara (Majma Tashkhis Maslahat Nezam).
Ia menjelaskan: “Dalam bidang kebijakan dan tata kelola pemerintahan, beliau secara langsung mengarahkan lembaga seperti Dewan Penentu Kebijakan Negara.
Lembaga ini memiliki anggota dan ketua, tetapi secara langsung berkaitan dengan kepemimpinan.”
Ia menambahkan: “Dewan Penentu Kebijakan Negara pada hakikatnya merupakan instrumen kepemimpinan untuk mengeluarkan keputusan pemerintahan.
Keputusan-keputusan pemerintahan didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan, dan aturan-aturan yang diterbitkan berdasarkan kemaslahatan merupakan bagian utama dari keputusan pemerintahan tersebut.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu juga membahas pengarahan terhadap lembaga-lembaga kebudayaan.
Ia mengatakan: “Dalam bidang kebudayaan, Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan dan berbagai lembaga kebudayaan lainnya berada di bawah arahan beliau.
Bahkan, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, meskipun merupakan bagian dari pemerintahan, juga dipengaruhi oleh arahan-arahan beliau.”
Peran Pemimpin yang Syahid dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Iran
Ayatullah Rashad kemudian menyinggung salah satu dimensi kepribadian pemimpin yang syahid yang menurutnya kurang mendapatkan perhatian.
Ia mengatakan: “Ada satu dimensi lain yang kurang diperhatikan, yaitu peran pemimpin agung yang syahid dalam kemajuan ilmu pengetahuan negara.”
Ia menjelaskan bahwa selama masa kepemimpinan tersebut, berbagai langkah penting telah dilakukan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. “Sebagian langkah sebenarnya telah dimulai sejak masa kepresidenan beliau. Namun, pada masa itu, kewenangannya terbatas.
Perdana menteri, alih-alih memberikan bantuan, justru sering menghambat pekerjaannya. Karena itu, beliau terpaksa menghadapi keadaan yang sulit.” Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu melanjutkan: “Pada masa kepemimpinan, dukungan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberian arah bagi berbagai bidang ilmu dan teknologi dilakukan secara serius.
Dalam bidang-bidang yang secara langsung berada di bawah kewenangannya, terjadi sesuatu yang luar biasa. Adapun dalam bidang-bidang yang harus dipengaruhi melalui perantara, terdapat sejumlah hambatan. Meskipun demikian, berbagai pencapaian berharga tetap berhasil diwujudkan.”
Rashad secara khusus menyinggung kemajuan teknologi militer Iran. Ia menegaskan: “Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi militer, terjadi sesuatu yang luar biasa karena beliau memberikan perintah secara langsung. Angkatan Darat dan Korps Garda Revolusi Islam berada langsung di bawah komando beliau.”
Dengan menyinggung kekuatan militer Iran serta pencapaian teknologi rudal dan pesawat nirawak, Rashad mengatakan: “Kekuatan militer luar biasa yang kini membuat dunia terheran-heran merupakan hasil dari arahan-arahan tersebut. Dunia tiba-tiba berhadapan dengan sebuah kekuatan baru yang sedang bangkit.”
Ia menambahkan: “Rudal-rudal kita telah membidik sasaran-sasaran di seberang benua kita sendiri. Para komandan kita yang pemberani dan cerdas juga telah menyatakan bahwa apabila diperlukan, kita mampu menjangkau negara-negara Eropa.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu kemudian membahas besarnya kemampuan rudal dan drone Iran. Ia mengatakan: “Kadang-kadang kami mendengar informasi dari teman-teman yang berkaitan langsung dan terlibat dalam bidang ini. Kami benar-benar dibuat takjub oleh panjangnya terowongan-terowongan rudal dan drone negara ini, serta persediaan rudal dan drone yang membentang hingga beberapa kilometer.”
Ia melanjutkan: “Sulit dibayangkan bahwa seorang pemimpin dengan tingkat kebijaksanaan, kecerdasan, dan pandangan jauh ke depan seperti itu mampu menghasilkan berbagai pencapaian dalam rentang waktu yang terbatas.”
Ayatullah Rashad juga menyinggung permintaan Rusia untuk memperoleh peralatan militer dari Iran. Ia mengatakan: “Rusia, yang sedang berhadapan dengan NATO, meminta persenjataan dari kita. Drone-drone kita kemudian membantu Rusia.
Ini merupakan sesuatu yang sangat mengherankan. Sebuah negara yang bersama negara-negara Barat termasuk kekuatan besar dalam produksi persenjataan semacam ini ternyata membutuhkan kita dan meminta drone dari Iran.” Ia menilai berbagai pencapaian tersebut sebagai hasil kepemimpinan ilmiah pemimpin yang syahid. “Kemajuan yang sangat besar dan mengagumkan ini merupakan hasil dari kepemimpinan ilmiah pemimpin yang syahid.”
Pembentukan Badan-Badan Ilmiah dan Pengembangan Teknologi Strategis
Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu menyinggung kebijakan pemimpin yang syahid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan negara.
Ia mengatakan: “Beliau merancang agar berbagai perubahan penting dapat diwujudkan melalui badan-badan ilmiah negara.”
Ia menambahkan: “Pada masa awal pembentukannya, beliau menyampaikan kepada Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan bahwa persoalan ini harus direncanakan dengan baik.
Melalui kebijakan tersebut, dibentuklah Deputi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kepresidenan, yang ditetapkan berada pada tingkat wakil presiden.”
Ayatullah Rashad melanjutkan: “Kemudian beliau memerintahkan pembentukan badan-badan ilmiah pada enam belas bidang ilmu pengetahuan yang strategis dan penting, yang saat ini menjadi arena persaingan dunia.
Badan-badan tersebut ditempatkan di bawah Deputi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.” Dengan menyinggung posisi Iran dalam sejumlah bidang ilmu pengetahuan, ia menegaskan: “Sebagai contoh, dalam bidang nanoteknologi, negara kita berada pada peringkat keempat, sedangkan Amerika Serikat berada pada peringkat kelima.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu juga menyinggung pentingnya bioteknologi dan kecerdasan buatan.
Ia mengatakan: “Ada tiga teknologi yang sedang mengubah dunia. Teknologi-teknologi tersebut akan mengubah kehidupan manusia. Salah satunya adalah kecerdasan buatan yang akan mengubah segala sesuatu. Teknologi lainnya adalah bioteknologi, yang memiliki cakupan sangat luas.”
Penjelasan Dimensi Ilmiah dan Fikih Bioteknologi
Ayatullah Rashad kemudian membahas perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang sel punca. Ia mengatakan: “Dalam bidang ini sedang terjadi perkembangan besar dalam kehidupan manusia, yakni kemampuan menghasilkan sel punca yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk berbagai jenis sel yang diperlukan dalam pembentukan seluruh organ tubuh manusia.”
Dengan menjelaskan perbedaan berbagai jenis sel, Rashad menambahkan: “Setiap organ tubuh terbentuk dari jenis sel tertentu. Darah, tulang, kulit, dan daging masing-masing memiliki jenis selnya sendiri. Sel yang terdapat pada tahap awal pembentukan embrio bersifat totipoten, yakni mampu menghasilkan berbagai jenis sel sehingga memungkinkan terbentuknya manusia.” Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu kemudian menjelaskan beberapa tahap proses ilmiah tersebut.
Ia mengatakan: “Dalam sejumlah metode, sebuah sel diambil dari tubuh seseorang, kemudian materi genetiknya dikeluarkan dan digantikan dengan materi genetik dari sel lain.
Proses ini memiliki beberapa tahap dan pada akhirnya dapat menghasilkan sel-sel totipoten.” Ia melanjutkan: “Teknologi ini memiliki banyak dimensi dan persoalan, termasuk pembahasan fikih yang sangat luas.
Proses serupa juga telah dilakukan pada hewan. Contoh terkenal pertama dilakukan di Inggris, dan di Iran pun seekor domba telah dihasilkan menggunakan metode tersebut.” Ayatullah Rashad kemudian menyinggung peran almarhum Kazemi Ashtiani dalam perkembangan ilmu pengetahuan Iran. Ia mengatakan: “Almarhum Kazemi Ashtiani merupakan salah seorang ilmuwan sukses negara kita yang memiliki peran penting dalam bidang ini.”
Rashad menekankan pentingnya mempelajari persoalan-persoalan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menjelaskan: “Mungkin ada yang beranggapan bahwa pembahasan-pembahasan seperti ini tidak memiliki hubungan langsung dengan kita sebagai para pelajar hauzah. Namun, perkembangan keadaan telah memperhadapkan kita dengan persoalan-persoalan tersebut.
Terkadang, ketika seseorang mempelajari masalah-masalah ini, ia akan merasa takjub menyaksikan keagungan ciptaan Ilahi dan kerumitan sistem penciptaan.”
Penguasaan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam terhadap Persoalan-Persoalan Ilmiah Strategis Negara
Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu juga menyinggung pesan terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam kepada para tokoh berprestasi dan peraih medali. Ia mengatakan: “Pesan ini menunjukkan bahwa beliau melanjutkan jalan ayahnya dan memperlihatkan betapa luas penguasaannya terhadap persoalan-persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi.”
Ia menambahkan: “Siapa pun yang memahami bidang-bidang tersebut dan membaca pesan terbaru ini secara saksama akan menyadari kedalaman cara pandang serta tingkat penguasaan beliau terhadap persoalan-persoalan strategis.”
Ayatullah Rashad menjelaskan bahwa sebelum masa kepemimpinannya dimulai, banyak orang belum mengenal sosok Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam secara mendalam.
Ia mengatakan: “Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada kami adalah siapa beliau dan bagaimana mungkin beliau dapat memimpin?
Banyak orang belum mengenalnya dan hanya sedikit yang pernah bertemu dengannya.” Ia melanjutkan: “Beliau tidak menerima jabatan apa pun dan tidak berusaha menampilkan dirinya di hadapan publik. Beliau lebih memilih mengajar, melakukan penelitian, dan belajar.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu kemudian menyinggung pengetahuannya mengenai pembinaan ilmiah dan intelektual Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam. Ia mengatakan: “Kami sedikit banyak mengetahui bahwa beliau, melalui ilham Ilahi, tentu telah dididik oleh pemimpin yang syahid, sekalipun pembinaan tersebut mungkin tidak selalu berlangsung berdasarkan kehendak langsung beliau sendiri.”
Ia menambahkan: “Dalam berbagai persoalan penting dan sensitif, pemimpin yang syahid memberikan tugas kepada beliau. Kini menjadi jelas bahwa selama tiga puluh hingga empat puluh tahun, beliau telah menjalani proses pembinaan. Cara pandang dan pendekatannya benar-benar menyerupai ayahnya yang mulia dan Imam yang syahid.”
Ayatullah Rashad kemudian mengutip ungkapan:
«وَلَدُ السِّرِّ أَبِیهِ»
“Anak adalah rahasia batin ayahnya.”
Ia menjelaskan: “Dikatakan bahwa seorang anak merupakan cerminan batin ayahnya. Kini, hakikat batin tersebut telah tampak.”
Pesan Terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Membangkitkan Harapan di Kalangan Kaum Intelektual
Ayatullah Rashad menegaskan bahwa pesan-pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam semakin memperkuat harapan terhadap masa depan.
Ia mengatakan: “Setiap pesan yang beliau sampaikan membuat kami semakin optimistis terhadap masa depan. Pesan terbaru ini bahkan telah menciptakan gelombang besar harapan di kalangan kaum intelektual dan orang-orang berprestasi di seluruh negeri.”
Ia menambahkan: “Kaum intelektual mulai memahami masa depan seperti apa yang hendak dibangun oleh kepemimpinan, serta bagaimana cara pandang beliau terhadap kemajuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Mereka juga memahami besarnya perhatian beliau terhadap berbagai persoalan penting, sensitif, dan strategis.” Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu menekankan pentingnya menganalisis berbagai dimensi pesan terbaru tersebut.
Ia mengatakan: “Apabila seseorang duduk dan menganalisis bagian-bagian serta dimensi pesan ini, ia akan menyadari betapa luas penguasaan beliau terhadap persoalan-persoalan tersebut.”
Ia melanjutkan: “Seseorang mungkin bekerja dalam bidang tertentu dan mempelajari satu disiplin ilmu secara khusus. Namun, bagaimana mungkin seorang pelajar hauzah, ulama agama, dan fakih yang secara lahiriah kesibukannya adalah mengajar, belajar, meneliti, dan mendidik murid, tiba-tiba memiliki penguasaan sedemikian luas terhadap persoalan-persoalan penting negara, ilmu pengetahuan strategis, dan teknologi-teknologi utama?”
Ayatullah Rashad menilai hal tersebut menunjukkan dua karakteristik penting Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam.
Ia mengatakan: “Di satu sisi, beliau telah menjalani proses pembinaan. Artinya, pemimpin yang syahid telah mendidiknya seiring dengan pertumbuhannya. Di sisi lain, hal ini menunjukkan kecerdasan bawaan beliau, yang memungkinkan dirinya memahami berbagai persoalan dengan ketajaman pemikiran.”
Dengan menyinggung kondisi komunikasi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam saat ini, Rashad mengatakan: “Kita semua mengetahui bahwa beliau sekarang tidak melakukan komunikasi secara terus-menerus dengan para kepala cabang kekuasaan negara. Secara alami, tidak ada pula penasihat yang senantiasa berada di samping beliau untuk menyampaikan seluruh persoalan.”
Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu menambahkan: “Setiap pemimpin, presiden, dan tokoh penting memiliki para penasihat, dan memang seharusnya demikian. Namun, untuk saat ini, beliau tidak terus-menerus berhubungan dengan para penasihatnya. Oleh karena itu, pernyataan ini merupakan hasil pemikiran pribadi beliau sendiri. Justru di sinilah letak pentingnya persoalan tersebut.”
Rashad kemudian menjelaskan pengaruh pesan terbaru itu terhadap dirinya. Ia mengatakan: “Sejak pertama kali mendengar pernyataan ini, saya kembali merasakan keadaan batin yang sama seperti ketika mendengar pernyataan pertama beliau. Meskipun kita memiliki berbagai persoalan dan kami sendiri sedikit banyak memiliki akses terhadap informasi semacam ini, ketika membaca pernyataan tersebut, saya menyadari betapa kuat, mendalam, tepat, menyeluruh, kaya kandungan, terarah, strategis, penting, dan menentukannya pesan tersebut.”
Ayatullah Rashad menilai pesan itu sebagai pendorong bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Iran. Ia menambahkan: “Pesan ini pasti akan menjadi kekuatan pendorong historis bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi negara.”
Pentingnya Menjelaskan Pemikiran Kepemimpinan di Lingkungan Hauzah Ilmiah
Pada bagian lain ceramahnya, Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran itu menekankan pentingnya menjelaskan pernyataan dan pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam secara tepat, jelas, dan mudah dipahami.
Ia mengatakan: “Sebenarnya saya tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Namun, di sisi lain, saya merasa bahwa apabila tidak mengatakan sesuatu, saya telah berlaku tidak adil terhadap beliau. Kita tidak boleh membiarkan beliau sendirian.” Dengan menyinggung perbedaan keadaan pada masa Imam Khomeini dan masa pemimpin yang syahid, Rashad menjelaskan: “Kadang-kadang muncul keluhan bahwa pada masa Imam Khomeini terdapat banyak tokoh besar yang mendampingi beliau.
Orang-orang datang kepada kami, para pelajar hauzah yang masih muda, dan mengatakan bahwa pada masa itu Imam Khomeini memiliki Syahid Beheshti, Tuan Hashemi, Tuan Mousavi Ardabili, Ayatullah Mahdavi, Syahid Bahonar pada masa-masa tertentu, serta Syahid Mofatteh. Singkatnya, terdapat para pemikir dan tokoh terkemuka yang mendukung serta membantu beliau.” Ayatullah Rashad menjelaskan bahwa pada masa itu, para pelajar hauzah dan pendukung Imam Khomeini menantikan penjelasan dan analisis dari tokoh-tokoh terkemuka.
Ia mengatakan: “Ketika Imam Khomeini menyampaikan sesuatu, kami menunggu untuk mengetahui apa yang akan dikatakan Syahid Beheshti dan bagaimana tokoh-tokoh lainnya memberikan analisis.”
Ia melanjutkan: “Namun, pada masa pemimpin yang syahid, terkadang muncul pandangan bahwa beliau sendirian dan hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan analisis serta tingkat pemahaman yang memadai untuk memahami dan menjelaskan persoalan-persoalan strategis yang beliau sampaikan. Sementara itu, kebanyakan kalangan muda dan sebagian orang lainnya kemudian dituduh sebagai kelompok ekstremis.”
Pimpinan Kompleks Pendidikan Hauzah Imam Ridha As itu kemudian menyinggung tanggung jawabnya di lingkungan hauzah ilmiah.
Ia mengatakan: “Saya sendiri, meskipun hanyalah seorang pelajar kecil di lingkungan hauzah dan merasa bangga telah menjadi pelayan para pelajar hauzah selama hampir setengah abad, merasakan bahwa apabila pada saat-saat seperti ini berbagai persoalan yang beliau sampaikan tidak dijelaskan, kepentingannya tidak diuraikan, dan tidak disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana serta mudah dipahami masyarakat, maka kita telah berlaku tidak adil terhadap beliau.”
Ia menegaskan: “Dalam keadaan seperti ini, hauzah-hauzah ilmiah dan kaum intelektual harus memikul tanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan arahan kepemimpinan, serta tidak membiarkan berbagai dimensi penting dari pesan-pesan tersebut terabaikan.”
Komentar Anda