28 Oktober 2026 - 15:49
Muslim Texas Bergerak Melawan Gelombang Islamofobia, Partisipasi Politik Meningkat Jelang Pemilu AS

Menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat, umat Islam di negara bagian Texas meningkatkan partisipasi politik mereka dan menyerukan perlawanan terhadap Islamofobia, diskriminasi agama, serta penyajian gambaran yang adil tentang Islam dalam kurikulum sekolah. Perkembangan ini berpotensi memengaruhi persaingan politik dalam pemilu di negara bagian tersebut.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Umat Islam di Texas semakin mengintensifkan kampanye melawan Islamofobia dan diskriminasi agama menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat.

Di Kota Frisco, para anggota Pusat Islam setempat untuk pertama kalinya menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Barbecue and Ballots” (Barbeku dan Kotak Suara). Kegiatan tersebut bertujuan mempererat hubungan sosial sekaligus mendorong umat Islam berpartisipasi dalam pemungutan suara lebih awal.

Para peserta menegaskan bahwa komunitas Muslim memerlukan keterlibatan politik yang lebih efektif untuk mempertahankan hak-hak mereka.

Kekhawatiran terhadap meningkatnya Islamofobia di Texas semakin menguat setelah Gubernur Greg Abbott menetapkan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) sebagai organisasi teroris.

Selain itu, berbagai usulan yang didukung Partai Republik untuk melarang penerapan syariat Islam, serta pengesahan kurikulum baru mata pelajaran ilmu sosial di sekolah-sekolah, turut memperuncing perdebatan.

Menurut para pengkritiknya, kurikulum baru tersebut lebih banyak menggambarkan Islam melalui sudut pandang peperangan dan penaklukan.

Perselisihan mengenai pembangunan masjid serta pernyataan bernuansa Islamofobia yang dilontarkan sejumlah kandidat dalam pemilu lokal juga semakin menambah kekhawatiran komunitas Muslim.

Sarah Israr, seorang warga Amerika Serikat yang baru memperoleh kewarganegaraan dan merupakan ibu dari tiga anak, mengatakan bahwa dirinya baru pertama kali memberikan suara dalam pemilu.

Ia mengaku memberikan sebagian besar suaranya kepada kandidat Partai Demokrat karena menentang kurikulum baru yang diterapkan negara bagian tersebut.

Mengkritik cara umat Islam digambarkan dalam kurikulum itu, ia mengatakan: “Mereka hanya ingin menggambarkan kami sebagai orang-orang yang buruk.”

Ia juga menambahkan bahwa putrinya merasa harus menyembunyikan identitas agamanya.

Sementara itu, Noman Shafiei, anggota Komite Urusan Sipil Masjid Frisco, mengatakan bahwa sebagian jemaah yang secara tradisional mendukung Partai Republik kini mulai mempertimbangkan kembali sikap politik mereka akibat meningkatnya pernyataan-pernyataan bernuansa Islamofobia.

Di sisi lain, Yamin Ahmed, salah seorang relawan kampanye James Talarico, kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan Senat Amerika Serikat dari Texas, mengungkapkan bahwa Islamofobia mengalami peningkatan yang nyata di negara bagian tersebut sepanjang tahun ini.

Ia berharap meningkatnya partisipasi politik umat Islam dapat mendorong para politisi untuk memberikan tanggapan dan mempertanggungjawabkan sikap mereka terhadap berbagai kekhawatiran komunitas Muslim.

Pemilu paruh waktu Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada 3 November, ketika persaingan antara James Talarico dan Ken Paxton, Jaksa Agung Texas dari Partai Republik, menjadi salah satu pertarungan politik penting.

Dalam situasi tersebut, suara pemilih Muslim dinilai dapat memainkan peran dalam menentukan dinamika politik di negara bagian Texas.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha