26 Oktober 2026 - 22:47
Fatimiyyah: Perjuangan Mempertahankan Hidayah dan Wilayah serta Pentingnya Menyampaikan Hakikat Fatimiyyah secara Berani dan Terbuka

Hakikat dan esensi peristiwa Fatimiyyah harus disampaikan dengan penuh keberanian. Sebab, setiap bentuk kelalaian dalam mengungkapkannya berarti menerima penyimpangan sejarah yang telah menyebabkan melemahnya Islam.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayyam Fatimiyyah dapat digambarkan sebagai kesedihan yang hingga kini tetap hidup dan terus membakar hati. Namun, bagi Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa, kesedihan akibat kebodohan dan menjauhnya masyarakat dari imamah dan wilayah jauh lebih menyakitkan dan mendalam dibandingkan luka-luka yang diderita tubuh beliau.

Karena itu, beliau sama sekali tidak mengizinkan orang-orang yang telah menzalimi hak imamah untuk menghadiri prosesi pemakamannya. Tindakan tersebut sekaligus menutup kesempatan bagi mereka untuk memutarbalikkan sejarah demi kepentingan mereka sendiri.

Syahid Murtadha Muthahhari menulis: “Sayyidah Zahra Sa, agar sejarah tidak dikaburkan, berpesan: Makamkanlah aku pada malam hari. Setidaknya, biarkan tanda tanya ini tetap tercatat dalam sejarah: Mengapa Nabi Saw, yang hanya memiliki seorang putri, harus menyaksikan putrinya dimakamkan pada malam hari? Dan mengapa makamnya harus tetap tidak diketahui?

Inilah langkah politik terbesar yang dilakukan oleh Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa.”

Fatimiyyah: Kesedihan atas Wilayah dan Imamah

Dalam kaitan ini, Hujatulislam wal Muslimin Hamed Kashani, bertepatan dengan datangnya hari-hari peringatan kesyahidan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa, menyampaikan penjelasan mengenai kedudukan dan pentingnya peristiwa Fatimiyyah. Ia menegaskan bahwa hakikat Fatimiyyah jauh melampaui sekadar peringatan duka.

Menurutnya, peristiwa ini bukan hanya untuk mengenang sifat-sifat mulia atau kesedihan pribadi, melainkan berkaitan dengan kesyahidan putri Rasulullah Saw.

Ia menyatakan bahwa keyakinan terhadap kesyahidan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa, sebagaimana tauhid dan kenabian, merupakan salah satu prinsip keyakinan agama yang tidak dapat dihapuskan hanya dengan alasan menghindari perbedaan mazhab atau mencegah ketegangan dengan mazhab lainnya.

Tangisan Sayyidah Fatimah atas Penyimpangan Umat

Pakar agama tersebut menolak berbagai alasan yang digunakan untuk mengabaikan peristiwa Fatimiyyah. Ia mengatakan bahwa mereka yang menganggap peristiwa tersebut hanya bagian dari masa lalu dan tidak lagi memiliki manfaat pada masa sekarang perlu menyadari bahwa apabila persoalan ini tidak penting, Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa dan Amirul Mukminin As, yang merupakan manusia-manusia paling utama, tentu tidak akan memberikan perhatian khusus terhadapnya.

Hujatulislam Kashani, dengan menyebutkan sejumlah contoh mengenai kezuhudan Imam Ali As yang luar biasa, menjelaskan bahwa peristiwa Fatimiyyah dan perjuangan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa sama sekali bukan berkaitan dengan perebutan kekuasaan ataupun kebun Fadak.

Menurutnya, perjuangan tersebut merupakan perjuangan untuk mempertahankan hidayah dan menegakkan wilayah. Ia juga menjelaskan bahwa tangisan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa bersumber dari keprihatinan mendalam terhadap penyimpangan umat.

Ia mengatakan: “Dengan dihilangkannya konsep imam dan wilayah setelah wafatnya Rasulullah Saw, ruh agama pun lenyap. Akar persoalan tersebut terletak pada peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Nabi Saw.”

Kesabaran Strategis Amirul Mukminin As

Pengajar hauzah ilmiah tersebut juga menganalisis kesabaran Imam Ali As dalam menghadapi berbagai peristiwa setelah wafatnya Rasulullah Saw. Ia menjelaskan bahwa Imam Ali As memilih bersabar menghadapi kezaliman berdasarkan perintah Rasulullah Saw, demi mencegah kehancuran agama secara menyeluruh serta mencegah kesyahidan Imam Hasan As dan Imam Husain As, yang merupakan dua sosok yang dipersiapkan sebagai penerus misi Ilahi.

Kesabaran tersebut tetap beliau jalankan meskipun memiliki kemampuan militer untuk melakukan perlawanan.

Pada akhir penjelasannya, Hujatulislam Kashani menegaskan: “Fatimiyyah bukan sekadar peristiwa sejarah biasa, melainkan sebuah perjuangan untuk mempertahankan prinsip kenabian dan wilayah.

Hakikat dan esensi peristiwa ini harus disampaikan dengan penuh keberanian. Sebab, setiap bentuk kelalaian dalam menyampaikannya berarti menerima suatu penyimpangan sejarah yang telah mengakibatkan melemahnya Islam.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha