17 Agustus 2026 - 22:28
Putra-Putra Perlawanan Peringatkan Pendudukan, Penghancuran, dan Penghapusan Sistematis Lebanon Selatan

Dalam beberapa hari terakhir, serangan brutal rezim Zionis terhadap kawasan permukiman, hutan, lahan pertanian, dan rumah-rumah warga di kota-kota Lebanon selatan semakin meningkat. Tanpa mengindahkan kesepakatan antara pemerintah Lebanon dan Israel maupun berbagai nota kesepahaman lainnya, rezim tersebut terus melakukan penghancuran dan penghapusan secara sistematis terhadap wilayah Lebanon selatan dari hari ke hari.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Lebanon saat ini berada pada salah satu fase paling menentukan dalam sejarah modernnya. Perkembangan yang terjadi bahkan berpotensi mengakhiri tatanan politik yang terbentuk sejak kemerdekaan pada 1946 dan konsep “Lebanon Raya”. Ancaman kali ini tidak hanya datang melalui agresi eksternal, tetapi juga terbentuk bersamaan dengan tekanan politik dan keamanan dari dalam negeri.

Sejak hari-hari pertama perang 40 hari, Hizbullah Lebanon melancarkan perang menyeluruh melawan rezim Zionis sebagai bentuk pembelaan terhadap Republik Islam Iran, pembalasan atas gugurnya Ayatullah Agung Khamenei, serta respons terhadap berbagai kejahatan Israel. Langkah itu dilakukan ketika tekanan domestik dan internasional untuk melucuti senjata kelompok perlawanan mencapai puncaknya.

Konflik tersebut sejauh ini telah menyebabkan lebih dari 1,5 juta orang mengungsi dan lebih dari 4.000 orang gugur.

Setelah gencatan senjata diberlakukan di Iran, penghentian perang di Lebanon seharusnya menjadi salah satu prasyarat untuk memulai perundingan Islamabad. Namun, Israel disebut mengabaikan berbagai ketentuan hukum, konvensi internasional, dan komitmen lainnya.

Melalui pergerakan maju yang pada awalnya mungkin dianggap kecil, pasukan Israel kini disebut telah mencapai kawasan di belakang garis Nabatieh dan Tyre. Meskipun terdapat kesepahaman antara pemerintah Lebanon dan Israel, sebagian wilayah Lebanon selatan masih berada di bawah pendudukan Israel.

Sejak hari pertama kesepahaman itu ditandatangani, serangan Israel terus meningkat. Hanya dalam dua hari pertama, lebih dari 300 serangan dilaporkan terjadi dan menyebabkan sekitar 200 orang gugur maupun terluka.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel juga meningkatkan serangan terhadap kawasan permukiman dan warga sipil. Dalam laporan terbarunya, Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan Israel terhadap kota Ansar dan Deir al-Zahrani telah menewaskan 11 orang dan melukai 19 lainnya.

Hizbullah Peringatkan Pemerintah Lebanon

Menanggapi peningkatan serangan Israel ke wilayah selatan Lebanon, Hizbullah memperingatkan mengenai tujuan pemerintahan Benjamin Netanyahu dan meminta otoritas Lebanon meninjau berbagai opsi yang tersedia untuk menghentikan agresi tersebut.

Hizbullah juga meminta pemerintah tidak terus bersikeras melanjutkan perundingan langsung yang mereka sebut “menghinakan” dengan Israel.

Dalam pernyataannya, Hizbullah menegaskan bahwa pemerintah Lebanon tidak semestinya memberikan konsesi secara cuma-cuma ketika Israel masih melanjutkan kejahatan dan agresi, serta secara terbuka menyampaikan ambisi ekspansionisnya terhadap Lebanon.

Serangan Israel tidak hanya menyasar kawasan permukiman. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah Lebanon selatan juga dilanda kebakaran. Hutan, perkebunan, dan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat kini terbakar akibat serangan dari udara.

Menurut laporan surat kabar The Guardian, petugas pemadam kebakaran, warga setempat, dan aktivis lingkungan mengatakan militer Israel menggunakan drone, suar, dan amunisi pembakar, termasuk proyektil yang mengandung fosfor putih, sehingga memicu kebakaran di Lebanon selatan.

Api dilaporkan mencapai perkebunan zaitun dan lahan pertanian di Khiam dan Kfar Shouba. Di sejumlah wilayah dekat garis pertempuran, sekitar 30 hingga 40 persen lahan disebut telah rusak.

Militer Israel juga disebut menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur di sekitar Desa Bani Hayyan.

Serangan Fosfor di Lebanon

Media Lebanon melaporkan bahwa dataran tinggi Ali al-Taher di Lebanon selatan menjadi sasaran tiga serangan udara Israel.

Televisi Al-Manar juga menayangkan video serangan pesawat tempur Israel di kawasan antara Ali al-Taher dan al-Dabsha, wilayah Nabatieh.

Sumber-sumber Lebanon menyebut kawasan sekitar perbukitan Ali al-Taher juga menjadi sasaran tembakan artileri dan proyektil fosfor militer Israel.

Hussein Pak, seorang jurnalis yang meliput isu-isu perlawanan dari Lebanon, menulis di akun pribadinya bahwa apa yang disebut sebagai “Kesepahaman Islamabad” kini bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menuntut penghentian perang.

“Pertanyaan utamanya sekarang adalah bagaimana menghadapi genosida di Lebanon selatan dan langkah militer rezim Zionis untuk menduduki Ali al-Taher, yang merupakan salah satu benteng terpenting di selatan? Setiap keterlambatan Iran untuk terlibat serius dalam persoalan Ali al-Taher dapat menimbulkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki,” tulisnya.

Di tengah berlanjutnya pendudukan dan serangan destruktif terhadap rumah-rumah warga Lebanon serta memburuknya krisis pengungsian di wilayah selatan, Asosiasi Warga Kota-Kota Perbatasan Selatan mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan pemerintah Lebanon mengenai kondisi para pengungsi.

Menurut laporan Al-Ahed, asosiasi tersebut memperingatkan bahwa krisis pengungsi dari desa-desa yang hancur semakin memburuk. Mereka mendesak pemerintah segera menyediakan solusi bagi keluarga yang terancam diusir dari tempat penampungan serta menyediakan tempat tinggal alternatif.

Kelompok itu juga menyatakan solidaritas kepada “keluarga-keluarga pengungsi di tempat penampungan di Sidon, Beirut, dan seluruh daerah yang menghadapi ancaman pengusiran tanpa adanya alternatif maupun solusi”, terutama mereka yang berasal dari desa-desa perbatasan yang rumahnya telah hancur.

Mereka memperingatkan dampak kondisi tersebut terhadap keselamatan, keamanan sosial, dan mata pencaharian para pengungsi.

Pernyataan itu juga meminta instansi pemerintah terkait segera bertindak untuk mencari solusi dan menangani kondisi para pengungsi. Asosiasi tersebut memperingatkan agar tidak muncul “bencana baru yang menambah rangkaian penderitaan para pengungsi”.

Mereka menyoroti keluarga-keluarga tunawisma yang terpaksa tinggal di jalanan dan di bawah jembatan, serta para pengungsi yang menempati apartemen sewaan tetapi belum menerima tunjangan perumahan di tengah meningkatnya harga sewa dan biaya hidup.

Kelompok tersebut menekankan bahwa pengungsian warga desa-desa perbatasan kini mendekati tahun keempat. Banyak dari mereka telah kehilangan pekerjaan dan pendapatan, sementara desa-desa mereka hancur.

Hingga kini, menurut pernyataan tersebut, belum ada prospek kepulangan yang aman maupun rencana berkelanjutan untuk menangani kondisi mereka, baik melalui kompensasi, bantuan biaya tempat tinggal, penyediaan rumah prefabrikasi, maupun pilihan lainnya.

Asosiasi itu menyebut krisis pengungsian terjadi bersamaan dengan “penghancuran dan penghapusan sistematis yang berlangsung setiap hari” terhadap desa-desa perbatasan, di tengah apa yang mereka sebut sebagai “kebisuan yang mencurigakan di tingkat lokal, Arab, dan internasional.”

Kelompok tersebut menyerukan seluruh pihak terkait untuk bertindak “sebelum semuanya terlambat”.

Perlawanan Disebut sebagai Satu-Satunya Pilihan Menghadapi Israel

Menurut artikel tersebut, pengalaman menunjukkan bahwa kompromi maupun pendekatan politik dan diplomatik terhadap Israel justru dianggap mendorong rezim itu bertindak semakin agresif dan menentang berbagai kesepakatan.

Artikel itu menilai bahwa satu-satunya cara menghadapi apa yang disebut sebagai ancaman Israel di kawasan adalah melalui perjuangan dan serangan kuat oleh front perlawanan dalam kerangka persatuan berbagai medan pertempuran. Langkah tersebut dinilai dapat memaksa Israel mundur dari wilayah Lebanon selatan yang didudukinya.

Masyarakat yang mengungsi dari Lebanon selatan, meski harus menanggung kehancuran rumah, kehilangan anggota keluarga, dan kondisi pengungsian yang berat, disebut meyakini bahwa jalan untuk menghadapi Israel adalah melalui perlawanan dan perjuangan secara menyeluruh.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha