5 Agustus 2026 - 20:51
Laporan The Guardian tentang Pembatasan Kritik terhadap Saudi; “X” Jadi Alat Sensor Saudi!

Platform yang dikelola Elon Musk, yang selama ini memperkenalkan diri sebagai pembela kebebasan berbicara, kini menghadapi kritik serius setelah memenuhi permintaan otoritas Saudi untuk membatasi puluhan akun pengkritik negara tersebut. Langkah ini dinilai menunjukkan jarak antara slogan yang selama ini dikampanyekan dan praktik yang dilakukan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  — ABNA — Laporan terbaru surat kabar The Guardian kembali mengangkat perdebatan tentang hubungan antara kebebasan berbicara, tekanan pemerintah, dan kebijakan platform media sosial raksasa teknologi.

Berdasarkan laporan tersebut, jejaring sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, setelah dibeli oleh Elon Musk memperkenalkan diri sebagai pembela “kebebasan berbicara”. Namun kini, platform tersebut telah membatasi akses puluhan akun pengkritik Pemerintah Arab Saudi bagi pengguna di dalam negara itu. Menurut para aktivis HAM, tindakan ini menunjukkan perubahan yang jelas dalam pendekatan perusahaan tersebut.

Lebih dari 60 Akun Tidak Dapat Diakses oleh Pengguna di Arab Saudi

The Guardian melaporkan bahwa sejak pertengahan Juli 2026, lebih dari 60 akun milik aktivis politik, akademisi, media independen, dan oposisi Saudi telah diblokir secara geografis atau geo-block atas permintaan otoritas Arab Saudi. Artinya, akun-akun tersebut tidak dihapus, tetapi pengguna di dalam Arab Saudi tidak lagi dapat melihat kontennya.

Di antara nama-nama yang akunnya dibatasi terdapat tokoh seperti Yahya Assiri, ketua organisasi HAM ALQST, dan Abdullah al-Odah, aktivis Saudi yang tinggal di Amerika Serikat. Mereka menyatakan telah menerima email dari X yang menjelaskan bahwa pembatasan tersebut diberlakukan untuk “mematuhi hukum lokal Arab Saudi”, bukan karena mereka melanggar aturan internal platform.

Dari Kebebasan Berbicara menuju Keselarasan dengan Sensor Saudi

Hal yang membuat laporan ini lebih penting adalah perubahan sikap X dibanding beberapa bulan sebelumnya. The Guardian mengingatkan bahwa dalam laporan yang diterbitkannya pada Mei 2026, X menyatakan tidak memenuhi permintaan Saudi untuk membatasi akun-akun oposisi dan menegaskan bahwa platform itu “percaya pada pembelaan terhadap suara para penggunanya”. Namun kini, platform yang sama mulai membatasi akun-akun tersebut.

Perubahan ini memunculkan pertanyaan mengenai kebijakan nyata kebebasan berbicara di bawah manajemen Elon Musk, sosok yang berkali-kali menyebut dirinya sebagai pendukung “kebebasan berbicara secara mutlak”.

Sejalan dengan Raksasa Teknologi Lainnya

Berdasarkan laporan tersebut, X menjadi perusahaan terbaru yang memberikan respons positif terhadap permintaan Riyadh. Sebelumnya, Meta, pemilik Facebook dan Instagram, serta Snapchat juga telah membatasi atau menghapus akses terhadap sejumlah akun oposisi Saudi.

Organisasi HAM ALQST menilai tren ini sebagai tanda meluasnya kerja sama perusahaan teknologi dengan permintaan sensor dari pemerintah.

Alasan Saudi dan Tanggapan Para Pengkritik

Menurut dokumen yang dilihat The Guardian, otoritas Saudi menuduh akun-akun tersebut menyebarkan konten yang, menurut klaim mereka, melanggar “ketertiban umum, nilai-nilai agama, moral publik, atau privasi”. Namun para aktivis HAM menyatakan bahwa istilah-istilah semacam itu sangat umum dan mudah ditafsirkan, sehingga pada praktiknya digunakan untuk membungkam para pengkritik politik.

Abdullah al-Odah, dalam menanggapi langkah ini, mengatakan bahwa persoalannya bukan hanya pembatasan akun. Masalah utamanya adalah perusahaan-perusahaan itu membatasi akses terhadap konten pengguna semata-mata demi menjalankan hukum domestik suatu pemerintah, meskipun pengguna tersebut tidak melanggar aturan platform itu sendiri.

Kasus ini bukan sekadar tentang beberapa akun pengguna, tetapi berkaitan dengan isu yang lebih luas, yaitu kedaulatan digital. Pertanyaannya adalah apakah perusahaan teknologi, demi terus beroperasi di pasar berbagai negara, harus mematuhi hukum domestik negara tersebut sekalipun bertentangan dengan standar global kebebasan berbicara.

Para pembela perusahaan teknologi berpendapat bahwa jika mereka menolak mematuhi hukum lokal, layanan mereka bisa saja diblokir sepenuhnya di negara tersebut. Sebaliknya, para pengkritik mengatakan bahwa menerima permintaan semacam ini justru mengubah perusahaan teknologi menjadi alat tekanan terhadap oposisi politik.

Kontradiksi yang Masih Menjadi Perdebatan

Laporan The Guardian terbit di tengah fakta bahwa Elon Musk selama beberapa tahun terakhir berulang kali mengkritik kebijakan ketat pemerintah-pemerintah terhadap kebebasan berbicara. Ia juga membenarkan pembelian Twitter dengan slogan “mengembalikan kebebasan berbicara”.

Namun para pengkritik mengatakan bahwa langkah terbaru X menunjukkan bahwa bahkan platform yang memperkenalkan diri sebagai pembela kebebasan berbicara, pada praktiknya ketika berhadapan dengan tuntutan hukum pemerintah, tetap mengikuti jalan yang sama seperti perusahaan teknologi besar lainnya.

Pada akhirnya, kasus ini kembali mengajukan pertanyaan mendasar: di mana batas antara penerapan hukum nasional dan perlindungan kebebasan berbicara?

Pertanyaan ini, seiring meningkatnya kekuatan media sosial dan bertambahnya tekanan pemerintah terhadap platform-platform tersebut, telah menjadi salah satu tantangan paling penting dalam tata kelola digital dunia.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha