5 Agustus 2026 - 20:45
The Guardian: Diplomasi Kekanak-kanakan Trump Membuat Amerika Terjebak dalam Krisis Iran

Surat kabar Inggris The Guardian dalam sebuah analisis menyebut pendekatan Donald Trump terhadap Iran sebagai “bingung dan kacau”. Media itu menulis bahwa krisis yang kini menjerat Amerika merupakan akibat dari “diplomasi kekanak-kanakan” dan ketidakmampuan Presiden Amerika Serikat dalam mengelola krisis.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Surat kabar Inggris The Guardian dalam sebuah analisis mengulas pendekatan Donald Trump terhadap Iran serta sikapnya yang dinilai kacau dalam mengelola krisis.

Sejak dimulainya perang terbaru Amerika dan Israel terhadap Iran, Donald Trump berkali-kali mengancam Teheran dengan serangan besar-besaran. Namun dalam waktu singkat, ia kembali mundur dari pernyataannya. Sikap ini, menurut The Guardian, menunjukkan “diplomasi kekanak-kanakan” dan ketidakmampuan Presiden Amerika Serikat dalam mengendalikan krisis.

Pada 23 Juli, Trump menyatakan bahwa Iran belum merasakan “penderitaan yang cukup” dan mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangan yang “lebih besar dari sebelumnya” serta telah mendekati keputusan akhir. Namun hanya empat hari kemudian, ancaman itu ia tinggalkan. Beberapa hari setelahnya, pada 31 Juli, ia kembali berjanji bahwa Amerika akan melancarkan “pukulan yang sangat keras” terhadap Iran dan mengklaim bahwa pada akhirnya Iran akan berkata, “Kami tidak sanggup lagi bertahan.” Namun, sehari kemudian, ia kembali mundur dari sikap tersebut.

Menurut The Guardian, pola yang terus berulang ini berlangsung sejak perang dimulai pada 28 Februari. Untuk pertama kalinya, pada 21 Maret, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz; sebuah ancaman yang kemudian beberapa kali ditunda. Setelah itu, pada 7 April, ia menulis: “Malam ini sebuah peradaban penuh akan dihancurkan.” Namun hanya beberapa jam kemudian, ia menjauh dari ancaman tersebut. Pada 17 dan 18 Mei, ia juga sempat memperingatkan bahwa “waktu Iran hampir habis”, tetapi sehari setelahnya menyatakan bahwa atas permintaan para pemimpin negara-negara Arab Teluk, ia menghentikan rencana serangan terhadap Iran.

Trump Tidak Mampu Mengambil Keputusan Sulit

The Guardian menyatakan bahwa perilaku ini bukanlah taktik yang matang, melainkan bentuk kebimbangan politik. Trump membayangkan cara ini dapat menjadi jalan untuk mengakhiri perang yang ia dan Benjamin Netanyahu mulai. Namun hasilnya justru penurunan popularitas Trump di dalam negeri dan melemahnya pengaruh Amerika di Timur Tengah.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Trump tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan sulit dan sering kali dipengaruhi oleh orang terakhir yang berbicara dengannya. Sebagai contoh, setelah pertemuan Netanyahu dengan Trump pada 21 Juli, Perdana Menteri Israel itu mengajukan tiga opsi untuk melanjutkan perang: mencapai kesepakatan, melanjutkan tekanan ekonomi dan blokade, atau melaksanakan serangan besar-besaran. Hanya dua hari kemudian, Trump kembali mengancam Iran dengan serangan besar. Namun ketika Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, pada 1 Agustus meminta penurunan ketegangan, Trump kembali menarik ancamannya.

Surat kabar Inggris itu membandingkan perilaku Trump dengan “teori orang gila” Richard Nixon; sebuah strategi yang bertujuan menciptakan kesan bahwa presiden tidak dapat diprediksi, sehingga lawan terdorong untuk mundur. Namun, menurut penulis analisis tersebut, berbeda dengan Nixon, Trump tidak bertindak berdasarkan rencana. Ia justru menjadikan kebimbangan sebagai doktrin politiknya.

Kekacauan ini tidak hanya terbatas pada pribadi Trump, tetapi juga terlihat dalam pemerintahan dan Partai Republik yang mengalami perbedaan serius terkait perang Iran. JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, termasuk tokoh yang mengkritik kelanjutan perang dan telah memperingatkan meningkatnya penolakan kelompok kanan Amerika terhadap kebijakan Israel.

Di sisi lain, Jared Kushner, Steve Witkoff, dan JD Vance mendukung penurunan tensi konflik. Mereka menilai berlanjutnya perang dapat menaikkan harga energi dan menempatkan pasukan Amerika dalam risiko yang lebih besar. Namun menurut media-media Israel, penurunan tensi ini lebih banyak dimaksudkan sampai pemilu paruh waktu Amerika.

Pada saat yang sama, Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika, memperingatkan bahwa kelanjutan perang telah menyebabkan penurunan berbahaya pada stok rudal pencegat dan sistem pertahanan udara Amerika, serta mengancam keselamatan pasukan Amerika.

Perang ini juga memicu penolakan yang semakin besar di kalangan Republik. Beberapa senator dari partai tersebut, termasuk Bill Cassidy dan Ted Cruz, mengkritik kesepakatan terbaru Amerika dan Iran. Mereka menyebutnya sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.

Jajak pendapat juga menunjukkan bahwa hanya sekitar sepertiga pemilih dari arus “MAGA” yang menganggap kelanjutan perang dapat diterima, dengan mempertimbangkan biaya ekonominya.

Penulis laporan tersebut pada bagian akhir menyimpulkan bahwa mengelola krisis seperti ini membutuhkan kepemimpinan tegas dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Namun pemerintahan Amerika saat ini tidak memiliki karakter semacam itu. Karena itulah, yang kini terlihat tidak lain adalah “diplomasi kekanak-kanakan”.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha