Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Sebuah delegasi yang terdiri dari sejumlah pengacara pembela hak asasi manusia dan anggota Komite Pembelaan Tahanan Keyakinan hadir di Dewan Nasional Hak Asasi Manusia Mesir. Mereka menyerahkan sebuah memorandum mengenai kondisi tahanan politik dan tahanan keyakinan kepada Anwar Sadat, Wakil Ketua Dewan tersebut.
Dalam memorandum itu, mereka menyampaikan kekhawatiran atas berlanjutnya penahanan sementara yang berkepanjangan, pengulangan pembukaan perkara baru bagi sebagian tahanan setelah masa penahanan mereka berakhir, serta perampasan akses mereka terhadap layanan kesehatan.
Dalam pertemuan tersebut, anggota delegasi, dengan merujuk pada kondisi sejumlah tahanan, termasuk Mohamed Adel dan Shady Mohamed, meminta diakhirinya praktik yang dikenal dengan istilah “tadwir”; sebuah metode yang menurut mereka menyebabkan penahanan seseorang terus berlanjut melalui pembukaan perkara-perkara baru.
Mereka juga menegaskan bahwa penahanan sementara seharusnya menjadi tindakan luar biasa, bukan berubah menjadi hukuman permanen. Hak untuk memperoleh layanan kesehatan juga harus dihormati bagi seluruh tahanan.
Pada saat yang sama, Rafida Hamdi, istri Mohamed Adel, mengajukan permohonan pengampunan presiden. Ia menyampaikan tentang berlanjutnya masa penahanan suaminya selama bertahun-tahun dan dampaknya terhadap kehidupan keluarga mereka. Ia menyatakan bahwa Mohamed Adel selama beberapa tahun terakhir, dalam berbagai perkara, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di penjara atau berada di bawah pembatasan hukum. Ia meminta agar kondisi tersebut diakhiri dan kesempatan bagi suaminya untuk kembali kepada keluarga dapat diberikan.
Dalam perkembangan lain, anak Mohamed Zahran, seorang aktivis serikat dan tokoh yang dikenal dengan julukan “kandidat kaum tertindas”, menulis surat terbuka kepada Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Dalam surat itu, ia meminta perhatian terhadap aspek kemanusiaan dari perkara ayahnya.
Ia menegaskan bahwa ayahnya selalu menggunakan jalur hukum dan aktivitas serikat untuk memperjuangkan tuntutan para guru. Keluarganya berharap, dengan pendekatan kemanusiaan dari para pejabat, kesempatan bagi ayahnya untuk kembali ke rumah dapat tersedia.
Mohamed Zahran pekan lalu ditahan selama 15 hari berdasarkan keputusan Kejaksaan Keamanan Negara Mesir atas tuduhan “menyebarkan berita palsu”. Tuduhan ini diajukan setelah ia mengajak para guru untuk menindaklanjuti pelaksanaan putusan pengadilan terkait penyelenggaraan pemilihan Sindikat Guru.
Komentar Anda