13 Juli 2026 - 21:43
Pemimpin Agung Revolusi: Pembalasan adalah Tuntutan Bangsa Kami dan Pasti Harus Dilakukan

Pemimpin Agung Revolusi, dalam sebuah pesan bertepatan dengan prosesi pemakaman dan penguburan Pemimpin Syahid Revolusi, menegaskan: Kami berjanji akan menuntut darah suci Pemimpin Syahid dan seluruh syuhada dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan hina. Pembalasan ini adalah tuntutan bangsa kami dan pasti harus dilakukan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Pemimpin Agung Revolusi, dalam sebuah pesan bertepatan dengan prosesi pemakaman dan penguburan Pemimpin Syahid Revolusi, menegaskan: Kami berjanji akan menuntut darah suci Pemimpin Syahid dan seluruh syuhada dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan hina. Pembalasan ini adalah tuntutan bangsa kami dan pasti harus dilakukan.

Teks lengkap pesan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Agung Revolusi, adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Salam atasmu, wahai Tsarallah dan putra Tsarallah, wahai darah yang tak terbalaskan. Salam atasmu, atas kakekmu, ayahmu, ibumu, saudaramu, dan para maksum dari keturunanmu.

Salam atas Imam yang seruan kebangkitan hidupnya memantulkan gema besar dan kuat dari bi’tsah Nabi hingga kedalaman sejarah yang jauh, dan dari pengaruhnya lahirlah Revolusi Islam Iran. Sebuah revolusi yang sejak dasarnya bersifat Husaini, dibangun dan tumbuh dengan slogan serta jalan Husain. Tuan Syahid Iran pun tumbuh dengan jalan yang sama. Ia adalah seorang Husaini; ia berpikir secara Husaini, bergerak secara Husaini, berjihad dan melawan secara Husaini, hidup secara Husaini, serta mempersembahkan darahnya di jalan mazhab Husain secara Husaini hingga meraih kesyahidan.

Di antara barisan orang-orang Husaini, ada mereka yang ketika darahnya tertumpah secara mazlum di jalan Husain serta demi mazhab dan jalan Husain a.s., umat Islam pun bergerak. Saat itulah waktu tersambung dengan Asyura dan tempat tersambung dengan Karbala. Kini, gelora Husaini yang sama telah membangkitkan bangsa kami dan memberi wajah baru kepada mazhab Imam Khomeini Agung dan Khamenei Syahid.

Inilah gelombang kehidupan yang merupakan pantulan seruan kemazluman Husain a.s. dan seruan “Hal min nashirin yanshuruni” beliau; seruan yang bangkit di Iran, kemudian di Irak dan negara-negara lain, serta mengguncang kebatilan. Karena itu, pada kesempatan ini, sudah sepatutnya saya menyampaikan penghargaan tulus atas kehadiran puluhan juta rakyat yang menakjubkan, mematahkan musuh, dan bersejarah di kota-kota dan desa-desa Iran dan Irak, khususnya Teheran, Qom, Najaf, Karbala, dan Masyhad.

Bangsa kami adalah penuntut darah Husain. Bangsa besar ini selama bertahun-tahun telah mengorbankan anak-anaknya di jalan Husain dan dalam perang melawan musuh-musuh Husain serta jalan Husaini. Kini pun, bangsa ini menjadi penuntut darah beliau dan para Husaini zaman ini.

Sekarang, kepada pemimpin syahid kami, saya berkata: Wahai yang terbunuh secara mazlum! Wahai mazlum yang tetap tegak mulia! Wahai hamba saleh Allah! Kini, ketika kami berpisah dengan jenazahmu dengan mata berlinang dan hati yang hancur, kami berjanji kepadamu bahwa kami akan menjaga mazhabmu, menempuh jalan lurus yang telah engkau gariskan dengan keteguhan, tidak takut menghadapi kesulitan di jalan ini, dan seperti engkau, menggantungkan hati kepada kabar gembira serta janji-janji Ilahi.

Kami berjanji akan menuntut darah sucimu dan darah seluruh syuhada dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan hina. Pembalasan ini adalah tuntutan bangsa kami dan pasti harus dilakukan. Para penjahat ini, yang daftar nama mereka dari atas hingga bawah telah tersedia, akan membawa angan-angan untuk mati tenang di atas tempat tidur hingga ke liang kubur. Mereka harus tahu bahwa urusan ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya atau pejabat-pejabat lainnya. Kami ada atau tidak ada, perkara ini akan terwujud, dan tidak lama lagi, orang-orang merdeka di seluruh dunia masing-masing akan menjalankan bagian dari misi Ilahi ini.

Wahai ayah syahid umat, semoga tegukan manis kesyahidan yang selama hidup engkau rindukan menjadi nikmat bagimu. Semoga jubah kesyahidan yang engkau kenakan, dengan tubuh yang membawa tanda-tanda dari ibumu, Zahra yang suci, serta kakekmu Aba Abdillah al-Husain dan Aba al-Fadhl al-Abbas — salawat dan salam atas mereka — menjadi kemuliaan bagimu.

Dan kalian, wahai para pendamping beliau yang mazlum, yang secara tiba-tiba diserang musuh dan meraih kesyahidan, berbahagialah kalian. Kini kalian menjadi tamu dari Maula yang mungkin berkali-kali telah kalian rasakan kelembutan dan kasih sayangnya. Sosok agung yang menjadi pintu rahmat Ilahi bagi semua orang, khususnya bagi masyarakat negeri ini, kini menjadi tuan rumah kalian, dan sisi aman beliau telah menjadi rumah kalian.

Dan engkau, wahai Junjungan yang berkedudukan tinggi! Wahai yang mulia! Wahai Imam yang penuh kasih! Wahai Abal Hasan al-Ridha al-Murtadha, semoga salawat terbaik Allah tercurah kepadamu. Kini tubuh yang tercabik-cabik dari salah seorang pelayanmu dan pelayan keluarga suci Nabi, setelah bertahun-tahun berusaha, berjuang, dan berjihad tanpa henti, bersama tubuh para syuhada dari keluarganya — yang masing-masing mengingatkan pada seorang syahid dari Padang Karbala — beristirahat di tanah suci ini hingga hari ketika, atas perintah Ilahi, matahari alam semesta, Hadhrat Baqiyyatullah — semoga Allah mempercepat kemunculannya yang mulia — keluar dari balik awan kegaiban dan memancarkan cahaya rahmat Ilahi kepada penduduk bumi.

Pada hari itu, yang kami harapkan segera tiba, bintang-bintang dari kalangan shiddiqin, syuhada, dan para wali akan menyertai beliau. Kami berharap Tuan Syahid kami termasuk di antara mereka dan sekali lagi menampilkan adegan-adegan yang cemerlang dan murni dari jihad serta kesetiaan pada perjanjian Alast. Mungkin pula para pendamping ini pada hari itu kembali menyertai beliau.

Wahai Maula yang penuh kasih! Tuan kami telah mencurahkan seluruh hidupnya di jalanmu. Kami menitipkan beliau dan para pendamping syahidnya kepada engkau, kepada kelembutan dan perhatianmu, agar sebagaimana dalam kehidupan dunia mereka telah mendapatkan limpahan kasihmu, mulai saat ini pun mereka memperoleh limpahan itu, bahkan jauh lebih tinggi dan lebih besar.

Pada bagian akhir, sekali lagi kami menyampaikan belasungkawa kepada Junjungan kami, Hadhrat Baqiyyatullah — semoga Allah mempercepat kemunculannya yang mulia — dan memohon kepada pribadi agung yang penuh kasih itu agar doa-doa sucinya ditujukan kepada Tuan Syahid Iran, para pendamping syahidnya, dan seluruh syuhada. Kami juga memohon agar beliau meminta kepada Allah Yang Mahabenar dan Mahatinggi derajat yang luhur bagi seluruh syuhada, kesabaran dan pahala bagi keluarga yang ditinggalkan, serta kemenangan dan pertolongan yang pasti dan segera bagi bangsa Iran yang mazlum, insya Allah.

Sayyid Mojtaba Husaini Khamenei

Your Comment

You are replying to: .
captcha