10 Juli 2026 - 09:50
Pembacaan Barat atas Pesan-Pesan Prosesi Pemakaman Pemimpin Revolusi; Syahid Khamenei Juga Menang Setelah Kesyahidannya

Analisis media-media Barat terhadap prosesi pemakaman jenazah Syahid Ayatullah Ali Khamenei menunjukkan bahwa peristiwa ini telah berubah menjadi sebuah “unjuk kekuatan politik”, yang memperlihatkan kesinambungan soliditas basis rakyat Republik Islam dan memperkuat citra sosok ini sebagai seorang syahid yang bahkan setelah wafatnya turut memperkuat pengaruh Iran.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  — ABNA — Prosesi pemakaman jutaan orang untuk jenazah suci Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Iran dan Irak berlangsung begitu luas dan tak tertandingi sehingga media-media resmi, pemerintah, Barat, dan Amerika tidak mampu menyensornya. Masing-masing dengan caranya sendiri mengakui bahwa Syahid Khamenei jauh lebih berbahaya bagi Amerika dan Israel daripada Imam Khamenei saat masih hidup.

Dalam konteks ini, al-Ahed menganalisis laporan-laporan media Amerika mengenai prosesi pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi.

Bersamaan dengan dimulainya prosesi pemakaman jenazah mantan pemimpin Iran, Syahid Sayyid Ali Khamenei, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, melakukan wawancara dengan situs Amerika Axios. Dalam wawancara itu, ia mengatakan bahwa ia mengikuti upacara tersebut dan menambahkan: “Semua orang ada di sana dan kami bisa saja melenyapkan mereka semua, tetapi kami tidak akan melakukan itu, karena jika demikian, tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk bernegosiasi.”

Sebelumnya, ia mengklaim bahwa tangisan rakyat adalah rekayasa. Namun, ia mengakui bahwa ia terkejut melihat sebagian rakyat Iran menangis dalam prosesi pemakaman, karena ia mengira rakyat “membenci” pemimpin mereka.

Sial bagi Trump, Republik Islam telah memberikan visa kepada para wartawan asing agar mereka dapat meliput prosesi pemakaman secara langsung di lokasi, berbicara dengan sejumlah peserta upacara, dan menyaksikan dari dekat ungkapan duka, kemarahan, dan kesetiaan.

Dalam konteks yang sama, Washington Post melaporkan bahwa dua bulan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, prosesi pemakaman Tuan Khamenei pada praktiknya telah mewujudkan tujuan beliau: menarik massa dalam jumlah besar serta menunjukkan perencanaan dan langkah-langkah keselamatan yang memadai untuk mencegah terjadinya insiden berbahaya.

Menurut sumber yang sama, demonstrasi-demonstrasi besar dalam beberapa hari terakhir di Iran, alih-alih mengungkapkan “dinamika baru” dalam politik Iran, justru menunjukkan bahwa “fondasi-fondasi utama rezim masih kuat.”

Sejalan dengan itu, kehadiran para pejabat tinggi Iran — banyak di antara mereka tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang — turut memperkuat seruan-seruan balasan yang menggema di seluruh upacara.

Sebagian suara tersebut bahkan secara terang-terangan menyerukan pembunuhan terhadap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, sebagai tindakan balasan.

Menurut laporan Washington Post, para jurnalis mengutip para peserta prosesi pemakaman yang mengatakan bahwa “sangat penting bagi rakyat untuk lebih bersatu dalam menghadapi agresi.” Sementara itu, peserta lain mengatakan bahwa mereka telah menunggu berbulan-bulan untuk peristiwa ini agar dapat berkabung dengan semestinya. Mereka menggambarkan pemimpin yang telah wafat itu sebagai “seorang ayah, bahkan lebih besar dari itu,” dan menyampaikan kesedihan karena tidak lagi dapat melihat beliau.

CNN juga menerbitkan sebuah laporan yang menyebutkan: “Meskipun menghadapi perang mahal melawan dua tentara dari angkatan bersenjata terkuat di dunia dan puluhan tahun kesulitan ekonomi yang melumpuhkan, Teheran tidak menyia-nyiakan upaya maupun biaya untuk menyelenggarakan prosesi pemakaman megah Imam Khamenei, yang dipenuhi simbol-simbol keagamaan.” CNN juga mengaitkan waktu penyelenggaraan prosesi pemakaman itu dengan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan Amerika.

Laporan tersebut mencatat bahwa para pejabat “memulai salah satu operasi logistik terbesar dalam sejarah Republik Islam dan mengerahkan pegawai pemerintah, universitas, serikat-serikat buruh, pemadam kebakaran, tentara, tim penyelamat, bahkan kelompok-kelompok duka keagamaan untuk mengorganisasi prosesi pemakaman dan mengelola jutaan pelayat yang diperkirakan akan menuju kota-kota dan tempat-tempat suci di seluruh Iran dan Irak untuk mengucapkan perpisahan kepada sang Ayatullah.”

Menurut sumber yang sama, “simbolisme yang kemungkinan disengaja dari tanggal-tanggal yang dipilih” tidak boleh diabaikan, terutama karena “jenazah pemimpin Iran dimakamkan bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika.”

Secara lebih umum, prosesi pemakaman tersebut diselenggarakan sebagai sebuah parade kemenangan di tiga kota Iran dan dua tempat suci di negara tetangga, Irak, untuk menunjukkan bahwa “sosok ini bahkan dalam kematian pun tidak kalah dalam pertempuran.”

Jaringan tersebut mengutip Sina Toossi, peneliti senior nonresiden di Center for International Policy, yang mengatakan: “Pembunuhan ini secara simbolis telah membuat pemimpin syahid Iran jauh lebih kuat dalam kematian daripada saat hidupnya. Pemimpin ini kini digambarkan sebagai seorang marja’ agama yang syahid, serupa dengan para Imam Syiah yang gugur syahid dan pandangan dunia mereka dibenarkan oleh cara kesyahidan mereka.”

Di sisi lain, Financial Times, mengutip Harith Hasan, seorang akademisi Irak di Arab Center for Research and Policy Studies, menulis bahwa rezim Iran “berusaha menunjukkan kekuatannya dan mengatakan bahwa Poros Perlawanan bukan hanya mampu menghadapi ancaman eksistensial ini, tetapi juga keluar darinya dalam keadaan lebih kuat.” Hasan menegaskan bahwa Iran dan sekutu-sekutunya “menunjukkan bahwa mereka masih berpengaruh dan bahwa proyek regional mereka masih mendapat dukungan, bukan hanya dari rakyat Iran, tetapi juga dari bangsa Arab dan kaum Muslim Syiah di seluruh kawasan.”

Your Comment

You are replying to: .
captcha