4 Juli 2026 - 23:01
Source: ABNA
Araghchi: Apa yang Ditinggalkan Pemimpin Syahid adalah Peta Jalan Hidup untuk Masa Depan

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan: Dalam ranah identitas, pemimpin syahid dengan meniupkan jiwa kepercayaan diri, membebaskan politik luar negeri dari ketergantungan historis dan meletakkan rasionalitas yang bersifat «revolusioner»; bukan dalam arti emosi, melainkan dalam arti hubungan yang terukur antara cita-cita dan realitas.

Menurut laporan kantor berita Ahlul Bait (a.s.) – ABNA – Lembaga Penelitian Budaya Revolusi Islam, dalam rangka kesyahidan dan pengusungan jenazah pemimpin syahid Revolusi Islam, Yang Mulia Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei (semoga ruhnya yang suci disucikan), telah menyiapkan buku peringatan «Imam Mujahid Syahid» yang berisi catatan-catatan dari tokoh-tokoh ilmiah, politik, budaya, dan militer terkemuka, yang akan diterbitkan di media pemimpin syahid. Berikut ini adalah catatan Sayyid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri, yang diterbitkan dengan judul «Warisan Keagungan; Kenangan Pemikiran Sayyid Ali Khamenei dalam Politik Luar Negeri».

«Ketika sejarah pada titik-titik balik yang menentukan bangkit mencari nama-nama untuk mengabadikan keagungan ketahanan suatu bangsa, ia sampai pada sosok-sosok yang tidak hanya melampaui zamannya, tetapi juga cakrawala masa depan. Pemimpin syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah meridhainya) berasal dari keturunan puncak-puncak kokoh yang sama; sosok yang dalam tahun-tahun kepemimpinannya mengangkat diplomasi dari tingkat hubungan kekuasaan dingin dan tindakan-tindakan administratif semata, ke tingkat makna, identitas, dan misi peradaban, serta menjadikan politik luar negeri sebagai bahasa yang fasih dari martabat suatu bangsa.

Pengalaman-pengalaman sulit tahun-tahun terakhir yang disertai dengan pemaksaan dua perang agresi Amerika dan rezim Zionis terhadap negeri tercinta kita, dengan jelas menunjukkan bahwa diplomasi pada titik-titik balik sejarah bukan sekadar alat pengatur hubungan, melainkan cerminan identitas dan kehendak nasional. Warisan yang ditinggalkan pemimpin syahid dalam bidang politik luar negeri justru dari jenis yang sama; narasi hidup tentang keterkaitan antara martabat nasional, kebijaksanaan politik, dan kemanfaatan cerdas yang di tengah gelombang gejolak sanksi, tekanan, ancaman, dan perang telah menciptakan posisi istimewa bagi Republik Islam Iran.

Modal ini lebih dari segalanya bertumpu pada prinsip fundamental kemerdekaan; kemerdekaan yang tidak didefinisikan sebagai isolasi, melainkan sebagai kehadiran yang aktif, berpengaruh, dan sekaligus tidak bergantung dalam sistem internasional. Dalam sistem pemikiran ini, diplomasi menjadi bermakna ketika bangsa menganggap dirinya sebagai subjek interaksi, bukan alat transaksi. Karena itu, politik luar negeri Republik Islam selalu berupaya, dengan menjaga garis merah identitas, untuk tetap membuka pintu dialog dengan dunia.

Warisan beliau melampaui kerangka sempit teori-teori realis reduksionis atau liberal, dan bertumpu pada fondasi kokoh dan dalam dari identitas Islam-Iran; fondasi di mana kepentingan nasional didefinisikan sejalan dengan nilai-nilai, bukan bertentangan dengannya. Dalam kerangka ini, perpaduan idealisme dengan realisme adalah salah satu ciri fundamental dari aliran pemikiran ini; karena sistem internasional adalah arena pertentangan kepentingan, tetapi ketiadaan cita-cita akan mereduksi diplomasi menjadi transaksi tanpa ruh dan tanpa kebenaran.

Your Comment

You are replying to: .
captcha