22 Juni 2026 - 09:54
Ali al-Tahir; Titik yang Dikejar Israel dengan Segala Cara / Serangan Hari Ini Menjadi Pendahuluan Operasi Darat!

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah mulai berlaku dan perhatian dunia tertuju pada kelanjutan perundingan antara Washington dan Teheran di Swiss, militer rezim Zionis sejak pagi ini (Sabtu) melancarkan serangan udara paling intens ke Lebanon selatan sejak 7 Oktober 2023. Serangan tersebut terutama difokuskan pada kawasan strategis Ali al-Tahir di sebelah timur Nabatieh dan sejauh ini telah menyebabkan 16 orang gugur syahid serta 12 lainnya terluka. Menurut para pakar militer, serangan ini merupakan pendahuluan bagi operasi darat besar-besaran untuk merebut kawasan penting tersebut

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan dan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung di Swiss, militer Zionis sejak pagi ini memusatkan serangan paling besar yang pernah dilakukannya sejak 7 Oktober 2023 terhadap wilayah Lebanon selatan. Sasaran utama serangan tersebut adalah perbukitan strategis Ali al-Tahir di sebelah timur kota Nabatieh.

Serangan udara Israel meliputi sebagian besar wilayah kota Nabatieh dan desa-desa sekitarnya di Lebanon selatan. Menurut Organisasi Pertahanan Sipil Lebanon, hingga saat ini serangan tersebut telah menyebabkan 16 orang syahid dan 12 orang terluka. Selain itu, 47 warga Lebanon lainnya telah dievakuasi dari daerah konflik.

Dalam sepekan terakhir, Israel telah lima kali berusaha menguasai kawasan strategis ini, namun setiap kali menghadapi perlawanan sengit dari pejuang Hizbullah. Upaya terakhir dilakukan 24 jam sebelumnya dan mengakibatkan tewasnya 4 tentara Israel serta luka-luka pada 17 lainnya. Mereka menjadi sasaran penyergapan ketika mencoba menembus kawasan tersebut melalui berbagai jalur.

Mengapa Perbukitan Ali al-Tahir Penting bagi Israel?

Israel berusaha merebut ketinggian Ali al-Tahir yang terletak di wilayah utara Sungai Litani karena posisi strategisnya.

Kawasan ini memiliki pandangan menyeluruh terhadap seluruh kota Nabatieh dan berhadapan langsung dengan ketinggian bersejarah Qal'at al-Shaqif (Benteng Beaufort) yang sebelumnya telah berhasil diduduki pasukan Israel.

Selama bertahun-tahun kawasan ini telah menjadi sasaran ratusan serangan udara Israel dengan alasan bahwa di sana terdapat fasilitas militer dan infrastruktur Hizbullah. Menariknya, Ali al-Tahir merupakan wilayah terakhir yang ditinggalkan pasukan Israel ketika mereka menarik diri dari Lebanon pada tahun 2000.

1. Kemampuan Mengendalikan Medan Pertempuran

Ketinggian ini mengawasi seluruh bagian timur Lebanon selatan. Siapa pun yang menguasainya akan memiliki kemampuan luar biasa dalam mengendalikan tembakan artileri dan mengarahkan operasi militer.

2. Nilai Geografis

Kawasan ini memiliki topografi yang kompleks dan dianggap sebagai pasangan strategis bagi Benteng Shaqif. Karena itu, ia menjadi titik kunci dalam mengendalikan pergerakan militer di wilayah tersebut.

3. Menara Pengawas Alami

Dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, Ali al-Tahir berfungsi sebagai menara pengawas alami yang mampu memantau seluruh jalur pergerakan dan penempatan pasukan di sekitar Sungai Litani.

Perlawanan Sengit Hizbullah

Di sisi lain, Hizbullah mempertahankan kawasan ini dengan seluruh kemampuannya. Para pejuangnya menggunakan berbagai taktik dan beroperasi dari sejumlah poros untuk mencegah kemajuan pasukan Israel.

Dini hari kemarin (Jumat), Hizbullah mengumumkan bahwa mereka berhasil melakukan penyergapan yang menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel serta menghancurkan tiga tank. Penyergapan itu dilakukan terhadap pasukan yang berusaha menembus kawasan perbukitan tersebut, kemudian pasukan bantuan yang dikirim untuk mengevakuasi korban juga menjadi sasaran serangan.

Beberapa jam kemudian, Radio Militer Israel mengakui bahwa empat tentaranya, termasuk seorang komandan batalion lapis baja, tewas setelah tank mereka terkena rudal di kawasan Mantif di Lebanon selatan. Mereka tergabung dalam satuan tempur Brigade Givati yang sedang beroperasi di wilayah tersebut.

Hizbullah juga mengumumkan pada hari sebelumnya bahwa mereka berhasil menggagalkan beberapa upaya pasukan Israel untuk maju menuju desa Kafr Tebnit dan kawasan Ali al-Tahir di Lebanon selatan. Menurut Hizbullah, kerugian besar dalam personel dan peralatan telah ditimbulkan kepada pasukan penyerang.

Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebutkan: "Tentara Israel selama empat hari terakhir berusaha maju ke arah desa Kafr Tebnit dan kawasan Ali al-Tahir melalui berbagai jalur dengan dukungan tembakan artileri berat dan operasi pengintaian udara."

Para pejuang Hizbullah menggunakan rudal, drone, dan amunisi bunuh diri untuk menyerang pergerakan dan konsentrasi pasukan Israel, yang menyebabkan kerugian besar di kalangan perwira, tentara, dan perlengkapan militer musuh.

Serangan-serangan tersebut memaksa Israel mundur dan menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban tewas dan terluka di bawah perlindungan asap dan tembakan artileri.

Hizbullah menegaskan bahwa kawasan Ali al-Tahir akan tetap menjadi wilayah yang "tidak dapat ditaklukkan oleh musuh."

Israel Bersiap Melancarkan Operasi Darat

Khalil al-Jamil, pakar militer dan strategi serta kolonel purnawirawan, berpendapat bahwa Israel melalui pertempuran yang saat ini berlangsung—yang disebutnya sebagai "Umm al-Ma'arik" (Induk Segala Pertempuran)—berupaya merebut Ali al-Tahir "dengan harga berapa pun."

Menurutnya, Israel tidak akan menghentikan upayanya sampai berhasil menduduki kawasan tersebut atau menderita kerugian yang sangat besar.

Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, al-Jamil menjelaskan bahwa pertempuran di sekitar Ali al-Tahir merupakan pertempuran yang menentukan. Penguasaan wilayah ini akan dianggap sebagai kemenangan besar bagi Israel karena memungkinkan mereka mengancam dan menyerang kota Nabatieh kapan pun jika gencatan senjata runtuh.

Sebaliknya, hal itu akan memberikan dampak yang sangat negatif bagi Hizbullah dan pemerintah resmi Lebanon.

Menurut al-Jamil, kawasan ini bahkan lebih penting daripada wilayah Shaqif dan memiliki nilai simbolis yang tinggi karena siapa pun yang menguasainya akan memiliki kendali penuh atas kota Nabatieh.

Mengenai serangan besar-besaran terhadap daerah-daerah sekitar seperti Kfar Rumman, Reihan, Haboush, Mahmoudiyah, Jabal al-Rafi' dan kawasan lainnya, ia menjelaskan bahwa tujuan serangan tersebut adalah menghancurkan pusat-pusat dukungan tembakan Hizbullah yang mempertahankan Ali al-Tahir.

Ia menyimpulkan bahwa Israel berupaya melemahkan dan menguras kekuatan Hizbullah di kawasan itu.

Al-Jamil meyakini bahwa gelombang serangan udara Israel hari ini hanyalah pendahuluan berupa "tembakan persiapan" untuk operasi darat dan serangan langsung ke Ali al-Tahir.

Ia menambahkan: "Jika bukan besok, maka lusa."

Namun ia juga memperkirakan bahwa Israel akan kembali menanggung kerugian yang lebih besar dalam upaya tersebut.

Your Comment

You are replying to: .
captcha