21 Juni 2026 - 22:33
Muharam di Zainabiyah Istanbul; Air Mata untuk Musibah Ahlulbait (AS) dan Seruan Persatuan Umat

Bertepatan dengan 3 Muharam, para pecinta Ahlulbait (AS) berkumpul di Masjid dan Pusat Kebudayaan Zainabiyah di Istanbul untuk menggelar majelis duka. Dalam acara tersebut, para tokoh agama dan budaya menekankan pentingnya persatuan umat Islam, kecintaan kepada Ahlulbait (AS), serta menjaga agar pesan Asyura tetap hidup. Syaikh Salahuddin Özgündüz juga menegaskan bahwa negeri itu adalah milik para pecinta Rasulullah (SAW), bukan milik kaum Yazidi.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – para pecinta Ahlulbait (AS) yang berkumpul di Masjid dan Pusat Kebudayaan Zainabiyah mendengarkan ceramah Hujjatul Islam wal Muslimin Syaikh Salahuddin Özgündüz, Ahmad Turgut (penulis dan penulis skenario), serta Dr. Muhammad Amin Koç dari Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan Republik Azerbaijan.

Ahmad Turgut: Karbala Imam Husain (AS) Laksana Karang Merah yang Tampak Jelas

Ahmad Turgut dalam pidatonya mengatakan: "Orang yang menyelam ke lautan Kautsar mustahil tidak melihat karang. Karang dengan warna merahnya yang mencolok seakan berteriak: 'Aku ada di sini.' Warna merah itu, dengan warna kesyahidan, merupakan ringkasan dan pantulan dari Karbala Imam Husain (AS)."

Ia melanjutkan: "Adapun Imam Hasan (AS) bagaikan mutiara yang selalu tersembunyi di dalam cangkang dan berada di kedalaman yang lebih jauh. Oleh karena itu, mendekati dan memahami keindahan-keindahan yang dimiliki Imam Husain (AS) senantiasa lebih sulit bagi umat Nabi Muhammad (SAW)."

Turgut menambahkan: "Namun kita mengetahui bahwa jika kita setia kepada Imam Husain (AS) dan mampu menunjukkan kesetiaan di sisi beliau, maka insya Allah kesetiaan itu akan berlanjut kepada Imam Hasan (AS), dan atas kehendak Allah akan tersambung pula kepada Sayidah Zainab al-Kubra (AS)."

Kemanusiaan Membutuhkan Rahmat dan Persatuan

Setelah itu, Dr. Muhammad Amin Koç dari Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan Republik Azerbaijan menyatakan: "Hari ini umat manusia membutuhkan rahmat, dan orang-orang beriman membutuhkan persatuan dan tauhid. Penunjuk jalan menuju tujuan itu adalah kecintaan, kasih sayang, keadilan, dan keberkahan Ahlulbait (AS)."

Ia menjelaskan bahwa Ahlulbait yang dimaksud adalah Imam Hasan (AS), Imam Husain (AS), Imam Ali (AS), Sayidah Fatimah az-Zahra (AS), serta Nabi Muhammad al-Mustafa (SAW).

Menurutnya: "Terwujudnya tujuan tersebut hanya mungkin melalui jalan ini dan tidak ada jalan lain selain itu."

Syaikh Özgündüz: Negeri Ini Milik Kami, Bukan Milik Kaum Yazidi

Dalam pidatonya, Hujjatul Islam wal Muslimin Syaikh Salahuddin Özgündüz menegaskan: "Kaum Muslimin adalah saudara satu sama lain dan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kenyataan ini."

Ia kemudian berkata: "Negeri ini adalah negeri kami, bukan negeri kaum Yazidi. Kalian berkata, 'Mayoritas bersama kami.' Namun itu adalah kebohongan. Siapa kalian sebenarnya? Tidak ada seorang pun dari kalian di negeri ini."

Özgündüz lalu mengajukan pertanyaan: "Apakah ada orang di negeri ini yang bernama Yazid? Mungkin ada yang bernama Muawiyah, tetapi bahkan satu orang pun yang bernama Yazid tidak ada."

Ia menambahkan bahwa nama-nama yang dinisbatkan kepada Rasulullah (SAW) dan Ahlulbait beliau, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan, sangat banyak ditemukan di negeri tersebut.

"Kami berada di barisan Rasulullah Muhammad (SAW); di barisan orang-orang yang berada di samping beliau dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, Shiffin, Nahrawan, dan Karbala."

Menurutnya, seluruh rakyat negeri itu—baik yang bermazhab Hanafi, Syafi'i maupun Alevi—berada dalam barisan yang sama. Ia berkata: "Kalian tidak memiliki tempat di sini. Di mana pun kalian telah dibeli, dibesarkan, dan dididik, kembalilah ke sana. Ini bukan negeri kalian; ini adalah negeri kami."

Majelis Ditutup dengan Lantunan Ratapan Husaini

Setelah rangkaian pidato selesai, para pecinta Ahlulbait (AS) mengikuti acara ratapan dan pembacaan marsiyah oleh seorang pelantun syair Ahlulbait (AS). Suasana duka pun menyelimuti majelis, dan para hadirin meneteskan air mata mengenang musibah yang menimpa keluarga Rasulullah (SAW) di Karbala.

Your Comment

You are replying to: .
captcha