Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Perang yang terus berlangsung di Lebanon selatan tidak hanya menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengubah cara masyarakat menguburkan para korban. Ratusan jenazah kini dimakamkan di kuburan sementara, menunggu hari ketika mereka dapat dipindahkan kembali ke kampung halaman masing-masing.
Menurut laporan Al Jazeera, sebuah lahan kosong di atas pemakaman utama kota Haret Saida, dekat Sidon, telah berubah menjadi kompleks pemakaman darurat. Puluhan makam sementara berjajar di lokasi tersebut, sebagian hanya ditandai dengan papan nama sederhana yang mencantumkan identitas korban dan tanggal pemakaman.
Beberapa makam dihiasi bunga dan foto para syuhada yang gugur dalam perang Israel melawan Lebanon. Banyak dari mereka tidak dapat dimakamkan di desa asalnya karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.
Pemakaman Darurat Terus Bertambah
Ketua Komite Wakaf Haret Saida, Hassan Saleh, mengatakan area pemakaman darurat itu dibangun dengan pengawasan Dewan Tinggi Islam Syiah sejak pecahnya konflik pada 2023 yang kemudian berkembang menjadi perang besar pada 2024.
Menurutnya, dampak perang masih membuat banyak keluarga tidak dapat memakamkan anggota keluarganya di desa-desa perbatasan yang hingga kini masih rusak parah dan sebagian besar kosong dari penduduk. Ia mengungkapkan bahwa sejak Maret lalu jumlah pemakaman meningkat drastis.
"Awalnya kami menguburkan sekitar 120 orang secara sementara. Kini jumlahnya mencapai sekitar 185 orang dan kami terus menyiapkan makam baru setiap hari untuk menerima jenazah warga sipil, petugas pertahanan sipil, maupun pejuang yang gugur," ujarnya.
Ribuan Korban Jiwa
Data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan jumlah korban tewas akibat perang Israel di Lebanon telah mencapai 3.711 orang, sementara 11.483 orang lainnya mengalami luka-luka sejak Maret lalu.
Provinsi Nabatieh mencatat jumlah korban tertinggi, disusul Lebanon Selatan dan wilayah Bekaa.
Kementerian juga mencatat:
-
169 serangan terhadap tim penyelamat dan tenaga medis.
-
132 korban tewas dari kalangan petugas medis dan relawan, termasuk 127 tenaga penyelamat.
-
393 orang terluka.
-
170 ambulans rusak.
-
37 fasilitas kesehatan terdampak serangan.
-
17 rumah sakit mengalami kerusakan langsung, dengan tiga di antaranya tidak lagi beroperasi.
"Meski 10 Tahun, Kami Akan Membawanya Pulang"
Di antara makam-makam sementara itu, terdapat kisah Ghada Hussein yang setiap hari memeluk foto putranya, Mohammad Al-Tufaili.
Pemuda yang baru beberapa hari menikah itu gugur dalam perang dan kini dimakamkan di salah satu kuburan darurat tersebut.
"Umur saya seakan ikut pergi bersamanya. Dia bukan hanya anak saya, dia juga sahabat saya," kata Ghada.
Ia menceritakan bahwa putranya menolak meninggalkan desa Kafartibnit dekat perbatasan Lebanon-Israel meski keluarga telah berulang kali memintanya pergi. Akhirnya ia gugur dalam konflik yang terus berkecamuk.
Seperti sekitar satu juta warga Lebanon lainnya, Ghada juga beberapa kali mengungsi akibat perang. Desanya kini hancur dan nyaris tak menyisakan apa pun.
Namun ia tetap menyimpan harapan. "Saya akan membawanya pulang ke desa kami. Walaupun harus menunggu sepuluh tahun, saya akan tetap kembali," ujarnya.
Pertempuran Masih Berlanjut
Di lapangan, militer Israel mengklaim telah menyerang sekitar 310 target di Lebanon selatan dalam sepekan terakhir dan menyebut sekitar 80 anggota Hizbullah tewas dalam operasi tersebut.
Laporan lapangan juga menyebut adanya serangan udara Israel ke wilayah Frun, Toulin, dan Jibshit, serta pencegatan sebuah pesawat nirawak di area tempat pasukan Israel ditempatkan.
Semua perkembangan ini terjadi meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu telah beberapa kali diperpanjang. Hingga kini, gencatan senjata tersebut belum mampu menghentikan eskalasi konflik maupun mengurangi dampak kemanusiaan yang terus dirasakan warga Lebanon selatan.
Your Comment