Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Empat tahun setelah Taliban kembali berkuasa, sekolah-sekolah swasta di Afghanistan menghadapi krisis keuangan yang semakin berat. Banyak sekolah kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menutup operasional atau menurunkan biaya pendidikan. Dalam kondisi ini, para guru menjadi pihak yang paling terdampak.
Menurut laporan harian Al-Araby Al-Jadeed, sebelum Taliban kembali berkuasa pada 2021, sekolah swasta berkembang pesat dan mampu menghasilkan keuntungan. Namun memburuknya kondisi ekonomi membuat banyak sekolah kesulitan membayar gaji guru secara tepat waktu.
Gaji Kecil, Pembayaran Terlambat
Banyak guru mengaku harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk menerima gaji mereka. Selain itu, besaran gaji yang diterima juga dinilai sangat rendah dan tidak sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Shirzad Mohammad, seorang guru sekolah swasta di Kabul, mengatakan sebagian besar guru tetap bertahan mengajar hanya karena rasa tanggung jawab terhadap para siswa.
"Saya bekerja dari pagi hingga sore hari. Terkadang ketika pulang ke rumah tidak ada makanan yang tersedia. Banyak hari saya datang mengajar tanpa sarapan yang layak. Kami hanya meminta hak kami dibayar tepat waktu," ujarnya.
Hidup dalam Tekanan dan Utang
Shirzad mengaku keterlambatan gaji telah berdampak serius pada kondisi psikologisnya. Ia menceritakan bahwa beberapa waktu lalu istrinya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, tetapi ia bahkan tidak memiliki uang untuk membayar ongkos taksi. Ia terpaksa meminjam bantuan tetangga.
Menurutnya, tidak jarang keluarganya juga kesulitan membeli tepung untuk membuat roti dan harus berutang di warung sekitar sambil menunggu gaji yang belum tentu dibayarkan tepat waktu.
Pemilik Sekolah Juga Kesulitan
Kesulitan finansial tidak hanya dialami para guru. Pemilik dan pengelola sekolah swasta juga mengaku berada dalam tekanan berat.
Mohammadullah Mohammadi, kepala sekolah swasta di Jalalabad, mengatakan pendapatan sekolah saat ini nyaris tidak cukup untuk membayar sewa gedung dan biaya operasional.
"Saya memahami penderitaan para guru, tetapi kondisi saya juga tidak lebih baik. Terkadang saya bahkan tidak mampu membayar gaji mereka sama sekali," katanya.
Meski pernah berpikir untuk menutup sekolah, ia mengaku mengurungkan niat tersebut karena memikirkan masa depan para siswa.
Lebih dari 1,5 Juta Siswa Bergantung pada Sekolah Swasta
Saat ini terdapat lebih dari 3.650 sekolah swasta di Afghanistan, sekitar 1.350 di antaranya berada di Kabul.
Lebih dari 1,5 juta siswa belajar di sekolah-sekolah tersebut, termasuk sekitar 300 ribu siswi perempuan. Namun, berdasarkan kebijakan Taliban, siswa perempuan hanya diperbolehkan bersekolah hingga kelas enam.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, sekolah swasta masih dianggap memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan sekolah negeri dan secara umum menghasilkan prestasi akademik yang lebih tinggi.
Peringatan untuk Masa Depan Pendidikan Afghanistan
Para pakar pendidikan memperingatkan bahwa sekolah swasta selama ini telah membantu menutupi berbagai kelemahan sistem pendidikan pemerintah Afghanistan.
Namun mereka menegaskan bahwa tanpa dukungan finansial yang berkelanjutan serta perlindungan terhadap kesejahteraan guru, sektor pendidikan swasta Afghanistan akan menghadapi ancaman serius, termasuk meningkatnya migrasi tenaga pengajar dan menurunnya kualitas pendidikan di masa depan.
Your Comment