Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Israel disebut tengah berupaya memperluas pengaruh keamanan dan militernya di kawasan Tanduk Afrika, sementara Ethiopia juga terus mendorong ambisi lamanya untuk memperoleh akses independen ke Laut Merah dengan dukungan sejumlah sekutu regional.
Laporan ini muncul setelah juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan dimulainya blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Menurut sejumlah pengamat, langkah tersebut dapat menjadi indikasi meluasnya dampak konflik yang berkaitan dengan perang terhadap Iran.
Israel Bangun Poros Baru di Tanduk Afrika
Menurut laporan harian Lebanon Al-Akhbar, Israel sedang berupaya membentuk tatanan regional baru yang melibatkan beberapa negara di Tanduk Afrika, seperti Ethiopia dan Sudan Selatan, dengan dukungan aktor eksternal, terutama Uni Emirat Arab.
Dalam proyek ini, Ethiopia dipandang sebagai salah satu pihak yang paling diuntungkan. Pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed berharap dapat mewujudkan target strategis yang telah lama diimpikan sejak Eritrea merdeka pada 1993, yakni memperoleh jalur akses laut yang berada di bawah kedaulatan Ethiopia sendiri.
Akses tersebut diperkirakan akan diwujudkan melalui wilayah Somaliland, kawasan yang memisahkan diri dari Somalia dan hingga kini belum diakui secara luas sebagai negara merdeka.
Ancaman Yaman terhadap Jalur Laut Israel
Pengumuman Yaman mengenai larangan kapal-kapal Israel melintasi Laut Merah dinilai terkait dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat mengenai syarat-syarat penghentian perang.
Meski saat ini kebijakan tersebut hanya menyasar kapal yang berhubungan dengan Israel, sejumlah pejabat Yaman mengisyaratkan kemungkinan langkah yang lebih keras apabila perang terhadap Iran atau Lebanon semakin meluas.
Salah satu opsi yang disebut adalah pembatasan kapal menuju wilayah pendudukan Israel melalui Selat Bab al-Mandab, yang secara efektif dapat menciptakan bentuk baru blokade maritim terhadap Israel.
Dugaan Pangkalan Israel di Somaliland
Laporan tersebut juga menyebut bahwa sejak akhir tahun lalu, Somaliland diduga telah menyediakan fasilitas bagi pendirian pangkalan militer Israel yang digunakan dalam operasi-operasi terkait konflik dengan Iran.
Jika benar, keberadaan pangkalan tersebut akan menjadikan Somaliland salah satu titik penting dalam strategi keamanan Israel di kawasan Laut Merah dan Tanduk Afrika.
Ethiopia dan Ambisi ke Laut Merah
Pemerintah Ethiopia berpendapat bahwa negara itu memiliki hak historis untuk memperoleh akses independen ke Laut Merah tanpa berada di bawah kendali Somalia, Eritrea, maupun Djibouti.
Namun ambisi tersebut menghadapi sejumlah hambatan, termasuk pengaruh Ansarullah Yaman yang memiliki kemampuan memengaruhi keamanan jalur pelayaran di Laut Merah.
Meski secara diplomatik Addis Ababa menggunakan pendekatan yang lebih tenang, sejumlah laporan menunjukkan Ethiopia tetap aktif menekan Sudan Selatan dan meningkatkan manuver politiknya dalam isu akses ke Laut Merah.
Ketegangan Baru Mesir-Ethiopia-Eritrea
Perkembangan ini juga memicu kekhawatiran Mesir dan Eritrea.
Presiden Eritrea Isaias Afwerki baru-baru ini mengunjungi Kairo dan bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Salah satu agenda utama pembicaraan adalah ambisi Ethiopia untuk mendapatkan akses ke Laut Merah.
Pertemuan tersebut dianggap sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran negara-negara kawasan terhadap proyek geopolitik Ethiopia yang didukung sejumlah sekutu regional.
Somaliland Semakin Dekat dengan Israel
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan antara Somaliland dan Israel dilaporkan semakin erat. Menurut laporan tersebut, para pemimpin Somaliland menerima narasi Israel dan negara-negara Barat bahwa kehadiran Tel Aviv di Teluk Aden dan Laut Merah bertujuan menjaga keamanan pelayaran, memerangi pembajakan, dan melawan terorisme.
Namun para pengkritik menilai kehadiran tersebut memiliki dimensi geopolitik yang jauh lebih luas dan dapat membuka jalan bagi pengaruh militer serta intelijen Israel di kawasan Tanduk Afrika.
Dukungan AS terhadap Somaliland Belum Jelas
Laporan Kementerian Luar Negeri AS kepada Kongres pada Juni 2026 menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan dukungannya terhadap keutuhan wilayah Somalia dan belum memberikan pengakuan kepada Somaliland sebagai negara merdeka.
Posisi ini sejalan dengan sikap Turki, Mesir, dan Arab Saudi yang menolak setiap langkah yang dapat mengarah pada pemisahan resmi Somaliland dari Somalia.
Ketergantungan Somaliland terhadap Israel Meningkat
Dengan semakin kecilnya peluang memperoleh pengakuan internasional dari Amerika Serikat dan berkurangnya dukungan dari sebagian negara Arab, Somaliland disebut semakin mendekat ke Israel.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Israel kini menjadi salah satu mitra strategis terpenting Somaliland. Sebagai imbalannya, para pemimpin Somaliland disebut siap memberikan ruang bagi perluasan pengaruh politik, keamanan, dan ekonomi Israel tidak hanya di wilayah mereka, tetapi juga di kawasan Tanduk Afrika secara lebih luas.
Your Comment