Menurut kantor berita ABNA, New York Times dalam sebuah laporan menulis: Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, telah memasuki fase di mana janji-janji awalnya tentang penyelesaian cepat krisis internasional telah berhadapan dengan realitas politik dan militer yang kompleks.
Media ini menulis: Di Ukraina, Gaza, dan kini Iran, deklarasi awal Trump tentang kemenangan mudah telah berubah menjadi realitas pahit.
New York Times menambahkan: Mengenai Iran, Trump setelah mengumumkan gencatan senjata menjadikan pembukaan penuh dan aman Selat Hormuz sebagai syarat untuk mengakhiri konflik, namun tujuan ini tidak sepenuhnya tercapai. Juga, masa depan program nuklir dan rudal Iran masih tergantung pada negosiasi yang kemungkinan akan berlangsung setidaknya 60 hari. Analis percaya bahwa Teheran, dengan menyadari sedikitnya keinginan Trump untuk memulai kembali perang, akan berusaha memperpanjang negosiasi.
Media Amerika ini menulis: Dalam kasus Ukraina, Trump yang berjanji akan mengakhiri perang dalam 24 jam, setelah 16 bulan sejak awal kepresidenannya tidak berhasil mencapai kesuksesan. Rusia juga menginginkan proses diplomatik dan jangka panjang, bukan negosiasi jangka pendek.
New York Times menambahkan: Di Gaza, rencana ambisius Trump untuk melucuti senjata Hamas dan merekonstruksi secara besar-besaran wilayah ini belum menunjukkan kemajuan. Presiden Amerika kini dihadapkan pada realitas bahwa penyelesaian konflik global yang kompleks jauh lebih sulit daripada yang dibayangkannya semula.
Your Comment