Kantor Berita Internasional Ahlulbait: Dalam banyak arus keagamaan yang memiliki narasi kuat tentang akhir zaman, pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, serta kemunculan sang penyelamat, sebagian individu dan arus pemikiran dapat mengalami perasaan misi yang sangat kuat. Dalam keadaan seperti ini, tanda-tanda biasa memperoleh makna khusus bagi mereka, lalu ditafsirkan sebagai tanda “keterpilihan” atau “bimbingan langsung Ilahi”. Kondisi ini bisa berkembang dari identifikasi yang sangat kuat dengan tokoh-tokoh suci hingga terbentuknya delusi keagamaan yang luas, dan melahirkan semacam kebesaran spiritual semu.
Arus-arus yang berorientasi pada akhir zaman—tanpa memandang agama, masa, atau geografi—biasanya memiliki struktur yang di dalamnya posisi yang sangat menonjol diberikan kepada “juru selamat”. Dalam bangunan pemikiran ini, keyakinan tentang dekatnya kemunculan, penafsiran berbagai tanda sebagai pendahuluannya, serta peran suatu bangsa dalam proses itu, lazim terlihat pada sebagian pengikut atau pemimpinnya. Kerangka keyakinan seperti ini menciptakan ruang bagi sebagian orang untuk menafsirkan tanda-tanda lahiriah atau pengalaman pribadi dengan makna yang melampaui realitas yang sesungguhnya.
Perpaduan antara latar keyakinan semacam ini dengan mekanisme psikologis dapat membuat seseorang sampai pada kesimpulan: “Jika kemunculan itu sudah dekat, dan jika aku merasakan tanda-tanda tertentu, mungkin akulah orang itu.” Jenis pemahaman seperti ini berkali-kali terlihat dalam sejarah agama dan sekte yang berbeda-beda, dan merupakan fenomena yang luas serta tidak terbatas pada satu kelompok tertentu. Dalam sebagian gangguan kejiwaan, seseorang bisa mengalami delusi referensial atau kebesaran diri. Misalnya:
-
gangguan bipolar dalam fase mania berat
-
skizofrenia: dalam keadaan ini seseorang mengalami gangguan psikotik yang menyebabkan keterputusan dari realitas, halusinasi, waham, gangguan berpikir, dan kesulitan membedakan kenyataan
-
gangguan psikotik yang timbul akibat stres atau tekanan ideologis
Jika pesan seperti itu terus-menerus diulang, seorang individu yang rentan bisa saja: menisbatkan peran-peran mitologis kepada dirinya; merasa dirinya pusat narasi ilahi; membayangkan bahwa ia harus mengubah dunia; menganggap dirinya pusat cerita; merasa dipilih oleh Tuhan; dan berpikir bahwa tanda-tanda dunia berkaitan langsung dengan dirinya.
Zionisme Kristen memiliki pemikiran eskatologis semacam ini, dan Trump secara pribadi memandang dirinya sebagai seorang Zionis Kristen sekaligus penyelamat bangsa Yahudi dan komandan akhir zaman. Ini adalah sebuah arus شبه-teologis di kalangan sebagian Protestan Injili yang memiliki tafsir khusus atas Kitab Suci, khususnya nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu Yohanes. Presiden Amerika itu sebelumnya pernah secara terang-terangan mengatakan bahwa “kita berada dalam perang 3000 tahun.” Perdana Menteri rezim Zionis juga menyatakan bahwa ia sedang menjalankan sebuah “misi suci” untuk membentuk tanah yang dijanjikan.
Pemimpin-pemimpin Amerika lainnya, khususnya dari Partai Republik, juga memiliki delusi serupa. Dalam kerangka ini, Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika, dalam salah satu pernyataannya menyinggung keinginannya untuk membangun “Bait Ketiga” di Baitul Maqdis, sebagai penegasan atas analisis ini. Ia pernah berkata: “Pada tahun 1917, ketika Yerusalem diumumkan sebagai ibu kota, itu adalah mukjizat, dan tidak ada alasan untuk menganggap mukjizat pembangunan kembali Bait di Temple Mount sebagai sesuatu yang mustahil.” Ia adalah seorang Kristen Injili. Kaum Kristen Injili sering meyakini bahwa peristiwa-peristiwa politik masa kini—seperti masa kepresidenan Trump—merupakan bagian dari rancangan ilahi menuju peristiwa-peristiwa akhir zaman, yang menuntut pembelaan tegas atas prinsip-prinsip agama melawan kekuatan-kekuatan jahat.
Demikian pula Marco Rubio, senator Amerika saat itu, dalam sebuah pidato pada tahun 2015 menyinggung Iran dan keyakinan keagamaan Syiah. Dalam pidato itu ia mengklaim bahwa Republik Islam Iran bertindak dalam kerangka pandangan eskatologis, dan bahwa keyakinan terhadap kemunculan “Imam Kedua Belas, Mahdi” berperan dalam analisis perilaku politik negara itu. Rubio mengatakan dalam klip tersebut: “Musuh utama kita adalah Imam Kedua Belas. Kita memerangi Iran karena mereka yakin harus menghadirkan kembali Imam Kedua Belas, Mahdi. Ini bukan perang politik, ini adalah perang akhir zaman.”
Dalam bangunan pemikiran ini, sejarah manusia dipandang sedang bergerak menuju satu titik puncak eskatologis, dan kembalinya Al-Masih diyakini akan terjadi ketika serangkaian “tanda” dan “terpenuhinya janji-janji terkait bangsa Israel” telah terlaksana. Para pengikut arus ini biasanya menafsirkan peristiwa-peristiwa politik dan sosial dalam kerangka nubuat-nubuat tersebut, dan memandangnya sebagai tanda-tanda semakin dekatnya kedatangan kembali Al-Masih.
Dalam pandangan ini, kembalinya orang-orang Yahudi ke tanah-tanah yang disebut dalam Kitab Suci, pembentukan negara Israel, dan terjadinya konflik-konflik regional, semuanya dipandang sebagai tahapan yang diperlukan dalam rencana ilahi akhir zaman. Banyak pengikut arus ini meyakini bahwa terwujudnya peristiwa-peristiwa tersebut akan menjadi landasan bagi kemunculan Al-Masih dan tegaknya pemerintahan ilahi. Karena itu, pemikiran ini memiliki corak mesianisme yang sangat kuat dan aktif, di mana para pengikutnya melihat diri mereka sebagai bagian dari sebuah “skenario ilahi”.
Sebagai contoh, arus Zionisme Kristen memandang perang melawan Iran bukan sebagai krisis politik, melainkan sebagai “keharusan suci” untuk mempercepat kemunculan. Beberapa pengkhotbah terkenal dari arus ini, seperti John Hagee, memperkenalkan serangan pre-emptive terhadap Iran sebagai kehendak Tuhan. Menurut keyakinan mereka, segala bentuk perdamaian atau kesepakatan dengan Iran bertentangan dengan arah nubuat Kitab Suci dan harus digantikan dengan tindakan militer.
Sekarang kita kembali ke analisis awal. Ketika salah satu tokoh arus Zionisme Kristen, termasuk Trump, menempatkan dirinya pada posisi Al-Masih, hal itu lahir dari perasaan misi yang delusional—yakni anggapan bahwa dialah yang harus mengubah dunia, bahkan bahwa dialah sang juru selamat yang dijanjikan.
Your Comment