5 Maret 2026 - 22:50
Kesenjangan Mendalam antara Rakyat dan Pemerintah Arab di Tengah Perang Iran dan Amerika

Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan poros Amerika–Israel, hal yang paling menarik perhatian bukan hanya perkembangan di medan perang, tetapi juga jarak yang semakin jelas antara opini publik masyarakat Arab dan kebijakan resmi pemerintah negara-negara kawasan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Berbeda dengan narasi yang umum disebarkan di sebagian negara Arab yang menggambarkan Iran sebagai pihak agresor—seolah-olah negara tersebut tidak menghormati prinsip bertetangga yang baik dan tidak mematuhi hukum internasional—perang Amerika dan Israel terhadap Iran justru membuka tabir di hadapan masyarakat Arab, tentu saja masyarakatnya, bukan pemerintahnya. Perang ini menyingkap wajah sebenarnya dari pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia; pangkalan yang para penguasa negara tersebut sambut dengan antusias dan bahkan telah terbiasa dengan kehadirannya di tanah mereka. Bahkan sebagian wilayah yang sangat luas diserahkan kepada pangkalan tersebut, sehingga di beberapa negara kecil, pangkalan-pangkalan itu hampir mencakup sepertiga wilayah negara.

Berdasarkan laporan surat kabar Al-Akhbar Lebanon, penelusuran terhadap media sosial sejak dimulainya serangan Amerika–Israel terhadap Iran serta bentuk respons Iran—yang berupa penargetan kepentingan Amerika di sejumlah titik di Teluk Persia, Yordania, dan Erbil yang berada dalam jangkauan rudal Iran, bahkan hingga wilayah Palestina yang diduduki—menunjukkan munculnya wacana publik yang luas dan mencolok. Bahkan, jika dikatakan dengan tepat, wacana itu cukup mengejutkan karena keberaniannya. Warga dari negara-negara Teluk, Yordania, dan Palestina (baik dari Tepi Barat maupun Gaza) menyatakan dukungan terhadap hak sah Iran untuk memberikan respons, bahkan ketika pemerintah mereka sendiri oleh banyak pihak dinilai lemah dan pasif.

Di Bahrain, video-video yang beredar dari lapangan pada saat yang sama dengan serangan Iran terhadap pangkalan Armada Kelima Amerika memberikan gambaran paling jelas mengenai reaksi spontan masyarakat. Dalam video tersebut terdengar takbir dan sorak kegembiraan. Meskipun lokasi pengambilan gambar berada dekat dengan titik target, para pemuda Bahrain tidak menghiraukan bahaya, karena mereka yakin bahwa Iran tidak menargetkan tanah maupun rakyat Bahrain, melainkan hanya area tempat pasukan dan peralatan militer Amerika ditempatkan.

“Ahmad”, salah seorang warga kawasan Al-Jufair—lokasi pangkalan militer Amerika—mengatakan kepada surat kabar Al-Akhbar bahwa keberadaan tentara Amerika di tengah kawasan permukiman membuat masyarakat merasa terganggu dan membatasi kebebasan bergerak. Selain itu, kehadiran pangkalan tersebut juga membawa risiko besar, karena pangkalan-pangkalan Amerika pada akhirnya harus menanggung konsekuensi dari petualangan militer Amerika di berbagai penjuru dunia, bukan hanya terhadap Iran—dan hal itulah yang kini terjadi dalam perang ini.

Ia juga menyinggung gelombang penangkapan yang dilakukan aparat keamanan Bahrain di wilayah tersebut terhadap orang-orang yang merekam atau memotret serangan dan mengunggahnya di media sosial sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran. Ia mempertanyakan: bagaimana mungkin kepentingan Amerika didahulukan daripada hak-hak warga negara? Dan mengapa para penguasa Bahrain menangkap warganya sendiri hanya karena menyatakan sikap yang menentang kehadiran Amerika?

Di Uni Emirat Arab juga terjadi situasi yang serupa. Di sana, penyebaran gambar atau informasi mengenai sifat serangan, besarnya kerusakan, maupun koordinat lokasi yang terkena serangan—yang oleh otoritas setempat dianggap sebagai informasi menyesatkan—dilarang keras, dan siapa pun yang melanggar dapat menghadapi konsekuensi hukum.

Di Yordania, dampak perang juga memicu kemarahan publik. Pemerintah di Amman berusaha menjatuhkan rudal-rudal Iran sebelum mencapai wilayah Palestina yang diduduki, sehingga rudal tersebut jatuh di wilayah Yordania. Tentu saja pencegatan rudal selalu disertai ledakan, serpihan, dan kerusakan. Hal ini memicu pertanyaan dari sebagian aktivis Yordania: mengapa Yordania menjatuhkan rudal di atas wilayahnya sendiri tanpa mempertimbangkan keselamatan warganya? Mengapa tidak membiarkan rudal itu mencapai wilayah yang diduduki Israel sehingga Israel sendiri yang harus mencegatnya dengan sistem pertahanan udara berlapis yang dimilikinya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak disampaikan dengan tenang, melainkan dengan kemarahan, karena sebagian warga Yordania merasa kerajaan mereka lebih mengkhawatirkan keamanan Israel daripada keamanan rakyatnya sendiri.

Dari Gaza dan Tepi Barat juga muncul pesan-pesan serupa. Terlihat adanya perasaan kegembiraan ketika mesin perang Israel—yang selama ini telah merenggut banyak nyawa dan menghancurkan rumah-rumah—mendapat pukulan. “Muhammad” dari Jalur Gaza mengatakan kepada Al-Akhbar bahwa setiap kali rudal Iran ditembakkan ke arah wilayah Palestina yang diduduki, ia mengumandangkan takbir dan berharap rudal-rudal itu dapat mencapai targetnya tanpa berhasil dicegat.

“Yaser”, seorang aktivis di Tepi Barat, juga mengatakan bahwa sepanjang sejarah, tidak ada pihak yang mampu membuat Israel merasakan tekanan seperti yang dilakukan Iran. Ia menggambarkan tindakan Iran sebagai sesuatu yang heroik—sesuatu yang menurutnya tidak pernah berani dilakukan oleh rezim Arab mana pun. Ia menambahkan bahwa rudal-rudal yang jatuh di Yerusalem telah menyejukkan hati rakyat Palestina, menghidupkan kembali harapan bahwa Masjid Al-Aqsa akan kembali kepada pemiliknya, serta memperkuat keyakinan bahwa para pemimpin Israel pun berada dalam jangkauan serangan dan bahwa memukul mereka bukanlah sekadar mimpi.

Sebagai kesimpulan, rakyat Arab tidaklah sama dengan pemerintah mereka. Dapat dikatakan bahwa jika para pemerintah memiliki tingkat kesadaran yang sama dengan rakyatnya, maka hari ini mereka tidak akan berada pada tingkat ketergantungan dan keselarasan yang begitu jauh dengan Amerika Serikat—dan pada akhirnya dengan Israel—seperti yang terlihat sekarang.

Your Comment

You are replying to: .
captcha