21 Februari 2026 - 11:42
Source: ABNA
Senjata yang Lebih Berbahaya dari Kapal Iran Bukanlah Gembar-gembor

Tanpa keraguan, apa yang dengan tegas disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata dalam pernyataannya sama sekali tidak memiliki aspek perang psikologis atau melebih-lebihkan kekuatan pertahanan dan ofensif Republik Islam. Pengangkatan masalah ini oleh Beliau didasarkan pada pengetahuan yang akurat dan mendalam tentang sunatullah, pengalaman bangsa-bangsa dalam menghadapi kekuatan-kekuatan jahat, serta apa yang dimiliki oleh bangsa Iran, khususnya angkatan bersenjata, untuk membela negara.

Dilaporkan oleh Kantor Berita Ahlulbait (ABNA) - Sardar Javani, Wakil Politik Korps Garda Revolusi Islam, dalam sebuah catatan menulis: Frasa "senjata yang lebih berbahaya dari kapal" tidak memiliki aspek perang psikologis atau melebih-lebihkan kekuatan pertahanan dan ofensif Republik Islam.

Berikut teks lengkap catatan Sardar Yadollah Javani:

Berdasarkan pengalaman sejarah, banyak penguasa lalim dan sombong, untuk merampas sumber daya dan cadangan bangsa lain serta menduduki negeri lain, menjadi terpedaya oleh apa yang mereka miliki untuk berperang dan meraih kemenangan, serta kurang memperhatikan kemampuan, kapabilitas, dan keunggulan pihak lawan yang berada dalam posisi bertahan. Kurangnya perhatian atau kelemahan dalam memperkirakan kemampuan pihak lawan ini telah berkali-kali menjatuhkan dan mengalahkan kekuatan dan tentara terbesar di dunia.

Kekalahan Tentara Merah Soviet di Afghanistan, kekalahan tentara Amerika di Afghanistan dan Irak, serta kekalahan tentara rezim Zionis dalam perang 33 hari dan pertempuran di Gaza, atau kekalahan koalisi Saudi dalam perang melawan Ansarullah Yaman, adalah contoh nyata dan dekat dengan zaman kita yang telah teruji.

Sekarang Trump, dengan menunjukkan kekuatan terhadap bangsa Iran, terus-menerus menyebutkan senjata-senjata yang dimilikinya, termasuk kapal-kapal canggih dan kapal induk, dan atas dasar itu ia sejak awal mengklaim dirinya sebagai pemenang dari kemungkinan perang. Pada tanggal 28 Bahman 1404 (17 Februari 2026), Pemimpin Revolusi Islam yang bijaksana, dalam pertemuan dengan masyarakat Tabriz, merujuk pada ancaman Amerika dan pengiriman armada perang negara itu ke kawasan, serta gertakan Trump, dalam hal ini beliau bersabda: "Kapal itu memang perangkat yang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya dari kapal adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal ini ke dasar laut."

Tanpa keraguan, apa yang dengan tegas disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata dalam pernyataannya sama sekali tidak memiliki aspek perang psikologis atau melebih-lebihkan kekuatan pertahanan dan ofensif Republik Islam. Pengangkatan masalah ini oleh Beliau didasarkan pada pengetahuan yang akurat dan mendalam tentang sunatullah, pengalaman bangsa-bangsa dalam menghadapi kekuatan-kekuatan jahat, serta apa yang dimiliki oleh bangsa Iran, khususnya angkatan bersenjata, untuk membela negara.

Bangsa Iran adalah bangsa yang bertuhan, beriman, berani dan gagah perkasa, kreatif, inovatif, dan sedang berkembang. Bangsa ini pada tahun 59 (1980), dalam perang yang dipaksakan yang secara terlihat adalah perang Irak melawan Iran, namun sebenarnya adalah perang semua kekuatan jahat melawan bangsa yang bertauhid, membuktikan dirinya dan kemampuannya selama periode delapan tahun. Bangsa Iran, yang pada awal perang benar-benar dalam keadaan kosong (tanpa persenjataan memadai) dan karena itulah Saddam menganggap dirinya sebagai pemenang pasti perang, berhasil mengalahkan agresor dan mengubah perang yang dipaksakan itu menjadi sebuah pertahanan suci yang penuh kemenangan.

Sekarang, ketika bangsa Iran telah memiliki banyak kemampuan dan sama sekali tidak dapat dibandingkan, dari segi pertahanan dan kepemilikan peralatan militer modern, dengan tahun-tahun awal revolusi; sudah pasti, jika terjadi kesalahan perhitungan oleh musuh dan Trump secara pribadi, mereka akan tampil melampaui dugaan.

Posisi geostrategis Iran dari segala aspek, bersama dengan karakteristik geopolitik negeri kuno ini, dan juga bangsa yang berdiri tegak membela Iran, dengan angkatan bersenjata yang beriman, setia, terlatih, dan efisien di bawah komando Wilayat al-Faqih, semuanya telah menjadikan tanah air yang bertuhan ini tidak dapat ditaklukkan dan tidak terkalahkan.

Bangsa ini memberikan dimensi ilahiah pada apa yang dimilikinya dan menganggap kemenangan berasal dari Tuhan. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak takut pada kapal besar musuh; karena mereka menganggap kekuatan Tuhannya lebih unggul dari kekuatan lainnya. Tuhan yang sama yang menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim, yang membinasakan tentara Firaun di Sungai Nil, dan yang menghancurkan pasukan bergajah Abrahah dengan batu dari langit. Tuhan yang sama yang, di padang pasir Tabas, membuat semua rencana rumit Carter, presiden Amerika saat itu, yang sedang mencoba melakukan operasi yang sangat kompleks, mengalami kegagalan yang keras dan menyakitkan. Tuhan yang sama yang membebaskan Khorramshahr dan memenangkan bangsa Iran melawan musuh-musuhnya dalam perang yang dipaksakan.

Tuhan ini telah menjanjikan pertolongan kepada bangsa yang beriman dan pemimpin bijaksana dari rakyat yang mencari Tuhan ini, dan janji ini tidak dapat diingkari.

Ya, kami beriman kepada Tuhan yang Hadir, Mengawasi, dan Menolong para pejuang di jalan-Nya, dan Dia telah menjanjikan petunjuk serta pertolongan kepada para pejuang ini, dan dalam cahaya janji-janji ini, Dia telah membuat hati mereka teguh dan kuat dalam keunggulan mereka atas musuh untuk meraih kemenangan. Pandangan yang menenteramkan dari Pemimpin umat kepada bangsa Iran ini adalah pandangan tauhid. Ungkapan dan firman yang menyegarkan serta memberi harapan bagi bangsa Iran yang besar ini, sumbernya adalah firman Allah SWT.

Your Comment

You are replying to: .
captcha