15 Februari 2026 - 13:51
Source: ABNA
Krisis Baru di Tentara Zionis; Sepertiga Tentara Berkewarganegaraan Ganda

Publikasi data tentang besarnya jumlah personel berkewarganegaraan ganda di tentara rezim Zionis dengan jelas menunjukkan krisis loyalitas di kalangan militer.

Menurut laporan Kantor Berita Abna, surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth dalam beberapa hari terakhir mengungkap krisis terbaru untuk tentara rezim Zionis dan membocorkan informasi resmi dan terperinci tentang jumlah personel militer yang memiliki kewarganegaraan ganda di tentara tersebut.

Data ini menunjukkan bahwa 50.632 personel militer, selain kewarganegaraan Israel, juga memiliki kewarganegaraan lain. Dari jumlah tersebut, 12.135 orang memiliki kewarganegaraan Amerika, 6.100 orang memiliki kewarganegaraan Prancis, dan lebih dari 5.000 orang memiliki kewarganegaraan Rusia. Selain itu, ribuan personel militer dari Jerman, Ukraina, Inggris, Kanada, dan negara-negara Amerika Latin, serta sejumlah kecil dengan kewarganegaraan Arab, juga hadir di tentara rezim Zionis. Juga, 4.440 personel militer Zionis memiliki dua kewarganegaraan asing dan sekitar 162 orang memiliki tiga kewarganegaraan atau lebih.

Nidal Abu Zeid, seorang pakar militer, dalam analisisnya di Al Jazeera mengatakan bahwa statistik ini menunjukkan terkikisnya barisan tentara Israel secara parah, yang memaksanya untuk sangat bergantung pada pasukan berkewarganegaraan ganda.

Ia menambahkan bahwa proporsi personel ini di antara pasukan tetap mencapai sekitar sepertiga, yang memperdalam krisis loyalitas di tentara Israel.

Abu Zeid menunjuk bahwa tentara rezim Zionis terutama mengandalkan pasukan cadangan dan pasukan tetapnya, dan statistik ini menunjukkan terbatasnya kemampuan sumber daya manusianya, yang memaksanya untuk merekrut personel militer berkewarganegaraan ganda dan menggunakan taktik perang gerilya serta operasi-operasi terpilih dengan dukungan drone dan pasukan khusus, alih-alih operasi darat.

Pakar militer ini menjelaskan bahwa pengungkapan data resmi ini menunjukkan pengakuan tentara Israel akan besarnya tingkat keausan (attrition) tentara, meskipun publikasi berita semacam itu sebelumnya dilarang.

Abu Zeid menunjuk bahwa ketergantungan pada tentara berkewarganegaraan ganda dan bahkan penggunaan "milisi pengkhianat" di Gaza adalah akibat dari ketidakmampuan tentara untuk kembali ke operasi militer darat. Ia menegaskan bahwa masalah ini menunjukkan krisis sumber daya manusia yang saat ini dihadapi tentara Israel dan menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi para komandan tentara dalam operasi saat ini dan masa depan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha