7 Februari 2026 - 20:16
Pemimpin Revolusi Islam Iran adalah Simbol Harapan dan Keteguhan bagi Kaum Tertindas Dunia

Konferensi bertajuk “Membela Wilayah dan Marja’iyyah” diselenggarakan di Islamabad dengan kehadiran luas para ulama dan tokoh keagamaan Pakistan. Dalam forum ini, para pembicara menekankan posisi kepemimpinan Republik Islam Iran dan menyoroti perannya dalam mendukung bangsa-bangsa tertindas.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – Konferensi bertajuk “Membela Wilayah dan Marja’iyyah” diselenggarakan di Islamabad dengan kehadiran luas para ulama dan tokoh keagamaan Pakistan. Dalam forum ini, para pembicara menekankan posisi kepemimpinan Republik Islam Iran dan menyoroti perannya dalam mendukung bangsa-bangsa tertindas.

Konferensi ini digelar oleh Majelis Ulama Mazhab Ahlulbait Pakistan di Jami’ah Al-Ridha, Islamabad, dan dihadiri banyak ulama, pemikir agama, serta perwakilan berbagai arus pemikiran dari seluruh Pakistan.

Sejumlah tokoh yang menyampaikan pidato antara lain Senator Hujjatul Islam Raja Nasir Abbas Jafri—pemimpin oposisi di Senat Pakistan—Seyyed Hasnain Abbas Gardizi, Ketua Majelis Ulama Mazhab Ahlulbait Pakistan, Seyyed Ali Muhammad Naqvi, Seyyed Jaber Husain Shirazi, dan Asghar Askari.

Dalam pidatonya, Senator Raja Nasir Abbas Jafri, dengan menyinggung posisi Ali Khamenei, menyebut beliau sebagai simbol harapan, keteguhan, dan ketajaman pandangan bagi bangsa-bangsa yang berada di bawah tekanan.

Ia memperingatkan bahwa setiap upaya memaksakan perang terhadap Iran dapat membawa dampak luas bagi seluruh kawasan. Dengan mengulas pengalaman Pertahanan Suci, ia menyebut ketahanan bangsa Iran sebagai contoh kemenangan iman, pengorbanan, dan keteguhan menghadapi ancaman luar.

Jafri juga menekankan, merujuk pada pemikiran Imam Khomeini, bahwa bangsa yang menanamkan budaya pengorbanan dan kesyahidan dalam identitasnya tidak akan dapat dikalahkan oleh tekanan eksternal.

Ia menyebut kepemimpinan yang berbasis ketajaman visi dan pandangan jauh ke depan sebagai ciri utama kepemimpinan Republik Islam Iran, serta menilai dukungan terhadap arus keadilan di hadapan kezaliman sebagai tanggung jawab global.

Dalam lanjutan konferensi, Hujjatul Islam Seyyed Hasnain Abbas Gardizi menyatakan bahwa ujian dan tekanan justru menjadi faktor pertumbuhan bangsa. Ia menyebut Revolusi Islam Iran sebagai contoh nyata perlawanan terhadap tirani dan dominasi asing.

Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran, marja’iyyah keagamaan, dan kepemimpinan Islam saat ini menghadapi ancaman nyata dari kekuatan global, dan membela struktur ini merupakan kewajiban agama dan kemanusiaan.

Hujjatul Islam Seyyed Ali Muhammad Naqvi dalam pidatonya menyebut pernyataan sejumlah pejabat Amerika dan rezim Zionis terhadap Pemimpin Revolusi sebagai tanda ketidakpahaman mereka terhadap posisi marja’iyyah keagamaan di dunia Islam.

Ia menegaskan bahwa serangan terhadap marja’iyyah keagamaan sama artinya dengan menyerang fondasi akidah umat Islam, sehingga respons dunia Islam terhadap tindakan semacam itu merupakan hal yang wajar.

Di akhir konferensi, sebuah pernyataan dibacakan oleh Hujjatul Islam Asghar Askari yang menekankan pentingnya marja’iyyah secara historis dan religius, posisi fatwa, serta peran kepemimpinan agama dalam membimbing masyarakat Islam. Pernyataan tersebut, dengan merujuk pada peristiwa Asyura sebagai simbol keteguhan melawan kezaliman, mengecam ancaman terhadap kepemimpinan Republik Islam Iran dan menyerukan persatuan serta kebangkitan umat Islam.

Konferensi ini dihadiri luas oleh para ulama, aktivis keagamaan, serta berbagai lapisan masyarakat dari Islamabad dan Rawalpindi, dan menegaskan pentingnya kesinambungan solidaritas di antara arus pendukung perlawanan dan keadilan di kawasan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha