3 Februari 2026 - 05:54
Trilogi Kekuatan Republik Islam Iran

Khusnul Yaqin*

‎Dalam berbagai kondisi—baik saat ditekan, diancam, maupun diisolasi—Republik Islam Iran membangun daya tahannya di atas satu fondasi konseptual yang konsisten: wilayat al-faqih. Fondasi ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia disokong oleh tiga kekuatan besar yang saling mengikat dan saling menguatkan: spirit perjuangan Husaini (Karbala), munajat atau doa, dan kekuatan ilmu serta teknologi. Trilogi inilah yang menjelaskan mengapa Iran tidak mudah runtuh oleh tekanan eksternal—bahkan ketika tekanan itu datang bertubi-tubi.

‎Kekuatan pertama adalah spirit Husaini, etos Karbala yang menempatkan keadilan di atas keselamatan, dan kebenaran di atas kompromi. Karbala bukan sekadar peristiwa historis, melainkan paradigma perjuangan: menolak kezaliman meski harus menanggung risiko besar. Dalam tradisi ini, kekalahan fisik tidak identik dengan kekalahan moral. Spirit Husaini membentuk keberanian kolektif, mengajarkan bahwa martabat lebih bernilai daripada kenyamanan. Itulah sebabnya, dalam bahasa politik Iran, perlawanan tidak dipahami sebagai agresi, melainkan pembelaan terhadap prinsip.

‎Kekuatan kedua adalah munajat—doa yang hidup dan progresif. Dalam mazhab Ahlul Bait, doa tidak ditempatkan sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai pengikat orientasi. Doa-doa yang diwariskan para Imam Ahlul Bait—dari permohonan keteguhan, kejernihan niat, hingga keadilan sosial—berkelindan dengan ajaran etika yang aktif. Munajat menghubungkan manusia dengan sumber kekuatan Ilahiah, menata batin agar tidak terjebak pada reaksi emosional, dan memberi ketenangan strategis di tengah krisis. Dengan kata lain, doa di sini adalah disiplin spiritual yang menajamkan nalar dan menenangkan dan mengatur langkah.

‎Kekuatan ketiga—yang sering dilupakan para pengamat—adalah ilmu dan teknologi. Sejak Revolusi Islam, Iran mengkultivasi tradisi keilmuan secara konsisten dan serius. Embargo dan sanksi yang berkepanjangan justru memaksa kemandirian riset, mempercepat inovasi, dan membangun ekosistem pengetahuan domestik. Dari sains dasar hingga teknologi terapan, dari kesehatan hingga industri strategis, Iran mengembangkan kapasitasnya dengan pendekatan jangka panjang. Pada akhirnya, akumulasi ini melahirkan kemampuan pertahanan dan mesin militer yang canggih, bukan sebagai tujuan tunggal, melainkan sebagai instrumen pencegah (deterrence).

‎Dalam menghadapi ancaman—termasuk retorika keras dari Donald Trump—strategi Iran bergerak di tiga lapis sekaligus. Di lapis pertama, kesiapan pertahanan dibangun untuk membuat kawan dan lawan berpikir ulang. Di lapis kedua, ketahanan sosial dipupuk; masyarakat telah terlatih menghadapi tekanan karena embargo membentuk daya lenting ekonomi dan psikologis. Di lapis ketiga, ketenangan spiritual dijaga agar respons negara tidak reaktif, tetapi terukur dan prediktif.

‎Pada konteks inilah doa Sayyid Ali Khamenei di Masjid Jamkaran mesti dibaca secara simbolik dan pragmatis. Jamkaran, yang dalam keyakinan sebagian umat dikaitkan dengan tradisi mahdawiyat, dipahami sebagai ruang spiritual yang menegaskan orientasi harapan dan keterhubungan etis dengan masa depan keadilan. Membaca peristiwa ini sebagai “koordinasi literal” tentu melampaui verifikasi empiris; namun membacanya sebagai pesan simbolik adalah sahih secara sosiologis dan teologis. Pesannya jelas: kekuatan Iran tidak semata bertumpu pada senjata, melainkan pada visi keadilan eskatologis dibawah kepemimpinan Imam Mahdi yang membentuk etos kolektif.

‎Kepada dunia luar, pesan itu mengundang pembacaan yang lebih jernih: pelajari konsep mahdawiyat sebagai horizon etika dan harapan, yang ditegaskan oleh teks-teks agama suci, bahwa kepemimpinan alam semesta di setiap zamannya diserahkan kepada pribadi agung nan suci. Dalam kerangka ini, mahdawiyat berfungsi sebagai kompas moral—menjaga agar kekuatan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan, dan perlawanan tidak kehilangan tujuan. Ia menegaskan bahwa keadilan adalah proses panjang yang menuntut disiplin spiritual, kecakapan ilmiah, dan keberanian politik.

‎Dengan trilogi ini—spirit Husaini, munajat yang progresif, dan ilmu-teknologi yang mandiri—Republik Islam Iran membangun ketahanan yang tidak rapuh oleh tekanan sesaat maupun bangka panjang. Ia mungkin diperdebatkan, bahkan ditentang; tetapi ia tidak mudah dipatahkan. Di dunia yang kerap mengukur kekuatan hanya dengan angka dan senjata, trilogi ini menawarkan pelajaran penting: kekuatan yang bertahan lama selalu berakar pada kekuatan ilahiyah yang dibumikan, seperti yang diajarkan oleh Mullah Sadra dalam empat perjalanannya.

*Akademisi, pengamat dan pemerhati isu-isu sosial dan keagamaan 

Your Comment

You are replying to: .
captcha