Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — The New York Times menulis bahwa Trump dengan menetapkan tenggat waktu untuk menghentikan program nuklir Iran, menghentikan produksi rudal jarak jauh, serta memutus dukungan Iran terhadap sekutu-sekutu regionalnya, berupaya meningkatkan tekanan melalui ancaman penggunaan kekuatan. Namun, pendekatan ini mengabaikan perbedaan mendasar antara Iran dan Venezuela.
The New York Times menekankan bahwa Iran memiliki kemampuan militer, teknologi, dan pengaruh regional yang luas; di antaranya rudal balistik dengan jangkauan sekitar 2000 kilometer, kemampuan menjangkau kota-kota di wilayah rezim Zionis, serta kehadiran yang efektif dalam dinamika keamanan Asia Barat. Menurut surat kabar ini, kapasitas inilah yang menjadi faktor utama keraguan Trump dan para penasihatnya untuk merealisasikan ancaman militer.
Laporan tersebut menambahkan bahwa daya tangkal Iran tidak hanya terbatas pada kemampuan persenjataan, tetapi juga pada jaringan pengaruh dan sekutu regionalnya, yang memungkinkan konflik meluas melampaui perbatasan Iran.
Dari sudut pandang The New York Times, kemungkinan keterlibatan pasukan sekutu Iran di Irak, ancaman terhadap jalur pelayaran oleh kelompok-kelompok Yaman, serta meningkatnya ketidakstabilan kawasan, adalah opsi-opsi yang sama sekali tidak dimiliki Venezuela.
Selanjutnya, surat kabar ini menyebutkan bahwa meskipun beberapa infrastruktur dan sekutu Iran telah mengalami pukulan, para pemimpin negara itu memandang kondisi saat ini sebagai situasi yang “eksistensial” dan telah memperingatkan bahwa setiap serangan dapat berubah menjadi perang untuk bertahan hidup serta konflik regional yang luas.
Di bagian akhir, The New York Times menilai salah satu kelemahan utama pendekatan Trump adalah ketiadaan tujuan politik atau militer yang jelas, dan menulis bahwa Washington belum menjelaskan apakah tujuannya adalah perubahan rezim, pembatasan kemampuan rudal, atau penghancuran total program nuklir Iran.
Menurut surat kabar tersebut, pernyataan yang saling bertentangan dari para pejabat Amerika merupakan tanda kebingungan strategis, dan tindakan militer belum tentu menghasilkan tercapainya satu pun dari tujuan tersebut.
Your Comment