31 Januari 2026 - 19:43
Semua skenario perlawanan terhadap teror militer, psikologis, dan propaganda Amerika telah disiapkan

Ehab Shouqi, analis Mesir, menulis: Rakyat perlawanan dan gerakan-gerakannya dalam keadaan sadar, percaya pada pilihan mereka, dan siap membayar harga demi martabat. Mereka sejak awal telah memutuskan bahwa hidup hanya memiliki satu makna: hidup bermartabat, dan kematian lebih baik daripada kehinaan. Perang psikologis dan taktik menakut-nakuti tidak lagi bernilai, dan para pejuang perlawanan telah siap menghadapi semua skenario.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Setelah kegagalan Amerika dan rezim Zionis dalam perang 12 hari melawan Iran, poros kejahatan selama beberapa bulan terakhir merancang kampanye propaganda, psikologis, dan teror terhadap Republik Islam Iran, yang puncaknya terlihat dalam serangan teror pada 18 dan 19 Dey.

Setelah itu, Amerika dengan dukungan intelijen rezim Zionis, melalui alat-alat propaganda dan medianya, berupaya menekan Republik Islam Iran dan poros perlawanan dengan berbagai kampanye teror politik guna meraih kepentingannya di kawasan.

Dalam kerangka ini, analis dan penulis Mesir Ehab Shouqi mengulas dimensi kampanye politik, psikologis, dan militer tersebut: Republik Islam Iran dan seluruh front perlawanan, baik melalui mobilisasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya maupun perang psikologis intens lewat pernyataan Presiden AS dan mimbar-mimbar media Arab pro-Amerika yang menyamar sebagai media independen, kini berada di bawah kampanye teror multiarah yang ekstrem.

Tujuannya jelas: setelah disadari bahwa dukungan rakyat adalah titik kekuatan terbesar Iran dan gerakan perlawanan, maka intimidasi terhadap pendukung perlawanan dan pemutusan ikatan sakral antara mereka dan para pejuang menjadi agenda utama.

Hal ini justru memperkuat keyakinan kawasan dan gerakan perlawanan bahwa konflik dengan musuh Amerika–Zionis adalah konflik eksistensial jangka panjang dan perang dengannya bersifat permanen serta multidimensi.

Konfrontasi militer bisa terjadi kapan saja, dan masa tenang atau gencatan senjata hanyalah bentuk lain dari perang. Ancaman militer bukan alat efektif untuk memaksa perlawanan menyerah.

Pembahasan skenario dilakukan untuk kesiapan total menghadapi semua kemungkinan, baik dalam bentuk militer yang membutuhkan pengorbanan, maupun bentuk intimidasi, blokade, dan fitnah yang membutuhkan manajemen cerdas ketahanan.

Setelah jutaan rakyat Iran turun ke jalan mendukung revolusi dan menggagalkan upaya revolusi warna serta teror yang didukung terang-terangan oleh AS dan Israel, beberapa poin penting perlu dicatat:

Mobilisasi militer sebagai alat intimidasi kawasan

Peningkatan kekuatan militer AS—kapal induk, kapal perusak, pembom berat, pesawat pengisi bahan bakar, sistem pertahanan rudal, platform perang elektronik, dan kapal selam nuklir—berfungsi sebagai pesan intimidatif bagi seluruh kawasan dan sinyal tidak langsung kepada Rusia dan China. Ini juga pesan kepatuhan total bagi sekutu-sekutu AS serta jaminan dukungan absolut bagi Israel.

Tidak perlu lagi alasan untuk agresi

AS kini mengabaikan tatanan hukum internasional. Dalam situasi ini, AS tidak lagi membutuhkan dalih untuk agresi; keputusannya murni berdasarkan kalkulasi militer dan keamanan.

Konfrontasi yang tak terhindarkan

AS telah meninggalkan soft power dan memilih jalur kekuatan. Maka, pengerahan militer ini bukan sekadar pamer kekuatan, tetapi upaya meraih dua kemungkinan: menghancurkan perlawanan atau memaksakan konsesi.

Antara agresi dan tekanan maksimum

Ada beberapa analisis: serangan besar, serangan terbatas, atau tekanan politik. Namun semua skenario ini gagal karena dalam kamus perlawanan tidak ada konsep menyerah. Iran telah menegaskan bahwa setiap serangan terbatas akan dianggap sebagai perang penuh dan akan dibalas.

Skenario paling mungkin

Pilihan yang tersisa hanyalah agresi total dengan tujuan menghancurkan Iran dan gerakan perlawanan di kawasan. Namun ini tergantung pada kalkulasi biaya dan konsekuensi, karena respons perlawanan akan membuat perang meluas tanpa batas.

Di sini terlihat bahwa pihak yang paling takut adalah Israel. Laporan media Zionis menunjukkan upaya mereka bersembunyi di balik Trump dan menolak bertanggung jawab atas agresi. Negara-negara Teluk juga berusaha menjauh karena takut dampaknya.

Sementara itu, rakyat perlawanan telah memutuskan: hidup bermartabat atau mati terhormat. Perang psikologis tak lagi berpengaruh. Semua skenario telah diantisipasi.

Amerika yang mengerahkan seluruh kartu imperiumnya dalam pertempuran ini, berisiko bernasib seperti imperium lama—seperti Inggris—yang runtuh di hadapan perlawanan rakyat dan pejuang kemerdekaan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha