30 Januari 2026 - 08:31
Analisis atas ancaman Amerika terhadap Iran; dari operasi psikologis hingga kemungkinan konfrontasi di lapangan dan meja perundingan

Di tengah berbagai analisis, dengan melihat pengalaman dan hasil ujian yang pernah dialami bangsa Iran akibat campur tangan asing di masa lalu, kekhawatiran di pihak Amerika tetap menonjol bahwa rakyat Iran, bila terjadi agresi asing, justru akan semakin solid dan bersatu.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Seiring dinamika global yang kian cepat, khususnya di kawasan Asia Barat, berbagai sumber dan pengamat mengemukakan beragam analisis terkait kemungkinan konfrontasi antara Iran dan Amerika. Banyak pandangan menilai bahwa perang psikologis dan ancaman lebih ditujukan untuk hasil dalam negosiasi, ketimbang benar-benar menuju konfrontasi militer.

Dalam konteks ini, harian Israel Yedioth Ahronoth pada Kamis menulis bahwa Presiden Amerika Serikat terus secara terbuka mengancam Iran guna menekan Teheran agar mau kembali ke meja perundingan dan pada akhirnya menerima kesepakatan dengan syarat-syarat ketat versi Washington.

Media tersebut menekankan bahwa dari pernyataan Donald Trump dalam 24 jam terakhir, terlihat ia lebih tertarik pada jalur negosiasi dibanding aksi militer. Trump ingin memastikan bahwa negosiasi dengan Iran mencakup pembatasan produksi rudal balistik, penghentian program nuklir, serta diakhirinya dukungan Iran terhadap apa yang disebutnya sebagai kelompok-kelompok proksi di dunia Arab.

Namun dalam analisis yang lebih dekat pada kemungkinan konfrontasi militer, media Ibrani mengakui adanya ketakutan dan kekhawatiran besar di masyarakat Zionis terhadap kemungkinan wilayah pendudukan menjadi target utama Iran. Mereka menilai kemampuan militer Republik Islam Iran, khususnya di bidang rudal, sangat signifikan dan menjadi salah satu alasan Amerika menunda memulai konfrontasi langsung.

Di sisi lain, kemungkinan terjadinya ketegangan di Teluk Persia membuat para analis dan media Zionis memperhatikan kemampuan ofensif Iran di laut. Kemampuan ini belum sempat dimanfaatkan dalam perang 12 hari sebelumnya, tetapi kali ini dinilai bisa menimbulkan efek ketakutan yang sama besarnya dengan sistem rudal Iran.

Pengalaman dan keahlian Iran dalam serangan laut

Dalam laporan yang sama, Channel 12 Israel menulis bahwa kehadiran armada Amerika di kawasan Asia Barat disertai sinyal dari Washington dan Teheran bahwa kemungkinan konfrontasi laut pada fase ini akan jauh lebih terfokus.

Danny Citrinowicz, anggota senior Program Iran di Institute for National Security Studies, mengatakan bahwa jika Amerika menyerang, maka laut akan menjadi arena yang sangat penting. Ia mengakui bahwa Iran memiliki pengalaman dan keahlian luas di bidang maritim, memiliki kemampuan signifikan, dan pada akhirnya medan ini bisa lebih menguntungkan bagi Iran.

Menurutnya, ancaman Iran terhadap target laut sebagian besar bersumber dari daratan. Iran mampu meluncurkan rudal balistik dan drone yang bisa merusak kapal perang Amerika. Ia menambahkan, salah satu langkah paling berbahaya yang bisa dilakukan Iran adalah menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi suplai energi dunia. Iran secara terbuka pernah menyebut opsi ini, dan isu ini juga mendapat perhatian selama perang 12 hari. Iran dapat menanam ranjau laut atau menggunakan kapal sebagai penghalang fisik.

Channel Al-Mayadeen juga menyoroti hal ini dengan menyebut bahwa jika Iran menutup Selat Hormuz, seluruh kelompok kapal induk Amerika akan terkepung tanpa tempat bersembunyi dari rudal Iran.

Pada hari yang sama, Al-Jazeera melaporkan dari sumber Iran bahwa angkatan laut Iran dalam beberapa hari ke depan akan menggelar latihan gabungan dengan China dan Rusia di Laut Oman dan Samudra Hindia.

Kekhawatiran Israel terhadap konfrontasi Iran–Amerika

Harian Israel Maariv mengutip Jenderal Cadangan Tzvika Haimovich, mantan komandan pertahanan udara Israel, yang menyatakan bahwa jika Amerika menyerang Iran, Iran pasti akan melakukan serangan balasan terhadap Israel.

Ia menekankan bahwa kemampuan Iran dalam beberapa bulan terakhir meningkat signifikan dan situasi jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Ia memperingatkan agar tidak meremehkan kemampuan rudal dan udara Iran, karena Iran dalam bidang ini telah menjadi semacam “kekuatan super”.

Pengakuan Amerika atas kekuatan pertahanan dan rudal Iran

Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat Amerika bahwa Iran memiliki sedikitnya 2.000 rudal balistik jarak menengah dan puluhan ribu rudal jarak pendek yang mampu menimbulkan kerusakan nyata bagi Amerika dan sekutunya di Asia Barat. Iran juga memiliki persediaan besar rudal jelajah anti-kapal, kapal torpedo, dan banyak drone yang dapat mengancam kapal Amerika.

Antara negosiasi dan perang

Di tengah ancaman yang berlanjut, isu negosiasi kembali mencuat. Harian Turki Hurriyet melaporkan bahwa Erdogan dalam pembicaraan telepon dengan Trump dan Pezeshkian mengusulkan pertemuan trilateral dan agar isu Iran dibahas di meja diplomasi.

Banyak analis menilai bahwa pengerahan militer Amerika ke kawasan lebih sebagai alat tekanan agar Iran menerima negosiasi dengan syarat Amerika. Namun sebagian pengamat juga menekankan bahwa kemampuan militer Iran di laut dan dirgantara membuat Amerika ragu mengambil keputusan gegabah.

Persatuan rakyat Iran dan kehati-hatian Amerika

Berdasarkan pengalaman sejarah, kekhawatiran Amerika tetap ada bahwa setiap agresi asing justru akan membuat rakyat Iran semakin bersatu. Dukungan luas Mossad dan CIA dalam kerusuhan baru-baru ini, alih-alih melemahkan Iran, justru memperkuat kembali persatuan rakyat Iran dan menggagalkan tujuan musuh asing.

Your Comment

You are replying to: .
captcha