11 September 2015 - 07:30
Menuntut Ilmu Syar’i adalah Sebaik-baiknya Kesibukan

“Menuntut ilmu syar’i adalah sebaik-sebaiknya kesibukan, namun bagi yang telah memilih jalan mulia ini, tidak boleh mengabaikan tiga hal, yaitu ikhlas, akhlak Ilahi dan keinginan yang kuat.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Husain Nuri Hamadani, kamis [10/9] dalam acara pembukaan secara resmi tahun ajaran baru Hauzah Ilmiah di Auditorium Madrasah Ilmiah Faidhiyah Qom Republik Islam Iran menyampaikan ceramahnya yang berisi nasehat kepada para santri dan asatid hauzah imiah dalam memulai tahun ajaran baru 2015/2016.

Dalam pembukaan ceramahnya, ulama marja taklid yang memiliki latar pendidikan ilmu keagamaan di Hauza Ilmiah Najaf, Baghdad, Isfahan dan Qom tersebut berkata, “Kota Qom dari sejak zaman lalu telah menjadi rujukan bagi para pecinta Ahlul Bait dan para ilmuan hadits Syiah. Hal ini telah disampaikan oleh Imam Ja’far Shadiq As dan hari ini ucapan beliau tersebut telah terbukti kebenarannya, yaitu, akan datang suatu hari dimana suara Islam disebarkan melalui kota  Qom kepada dunia. Kita hari ini telah menjadi saksi akan kebenaran ucapan tersebut.”

Dalam lanjutan penyampaiannya. Ayatullah Nuri Hamadani mengatakan bahwa menjadi pelajar agama adalah sebaik-baiknya pekerjaan. “Menuntut ilmu syar’i adalah sebaik-sebaiknya kesibukan, namun bagi yang telah memilih jalan mulia ini, tidak boleh mengabaikan tiga hal, yaitu ikhlas, akhlak Ilahi dan keinginan yang kuat.”

“Menjadi pelajar agama membutuhkan keinginan yang kuat, kesungguhan dan keseriusan. Pelajar agama harus jauh dari sikap malas dan rasa gampang bosan. Ia harus memiliki disiplin yang tinggi dan mengatur jadwal hariannya dengan baik.” Tambahnya.

“Sebagian dari ulama besar kita, tidak ridha terhadap pelajar agama atau santri yang hadir dalam kelas pelajaran mereka, namun ia ketahui tidak memiliki kesungguhan dalam belajar.” tambahnya lagi.

Ayatullah Nuri Hamadani selanjutnya menyebutkan Imam Khomeini ra sebagai contoh santri yang berhasil dalam pelajaran agamanya dan mengamalkan kewajiban agamanya dengan baik. “Sebelum revolusi Islam Iran, semua ulama memiliki keyakinan akan wajibnya Wilayatul Faqih, namun pendiri dasar revolusi Islam adalah mereka yang memiliki tekad dan kesungguhan yang lebih besar.”

Pada bagian lain ceramahnya, Ayatullah Nuri Hamadani menceritakan mengenai Azerbaijan yang baru saja dikunjunginya, “Negara Azerbaijan sebelumnya adalah bagian dari Iran. Mereka memiliki budaya dan tradisi yang sangat dekat dengan kita, namun karena mereka mengganti tulisan resmi mereka menjadi latin, mereka jadi asing dengan warisan pendahulu mereka. Namun kedekatan dan perhatian mereka yang besar terhadap revolusi Islam Iran, mereka tetap menghargai budaya Islam dan menghormati para ulama.”

“Karena itu, hauzah ilmiah tidak boleh hanya mengkaji masalah ilmu syar’i saja namun mengabaikan masalah politik dan hubungan internasional. Ini harus sejalan dan bersinergi, peran hauzah ilmiah tidak hanya dikalangan internal umat Islam saja, atau khusus Syiah saja, namun juga harus menunjukkan eksistensinya dan perannya terhadap peradaban dunia yang lebih baik.” tambahnya.

Pada bagian akhir penyampaiannya dengan menukil salah satu riwayat dari Imam Maksum As, ia mengatakan, “Menjadi pelajar agama adalah taufik dari Allah Swt, karena itu harus disikapi dengan hati-hati dan terus menjaga hubungan dengan Imam Zaman Afs.”

Tahun ajaran baru Hauzah Ilmiah dimulai sabtu [12/9] serentak diseluruh Iran, setelah sebelumnya libur musim panas selama kurang lebih dua bulan.