Sungguh disesalkan demokrasi dunia yang berlandaskan nilai-nilai Barat, telah berubah menjadi sebuah kebohongan besar dan ilusi. Pembungkaman gerakan-gerakan pro-Palestina, di negara-negara Eropa dan Amerika, menegaskan hal ini.
Paus Fransiskus, Minggu (7/7/2024) dalam konferensi tahunan Gereja Katolik Roma, yang membahas masalah sosial mengatakan, "Kebijakan-kebijakan populisme mengancam kondisi demokrasi dunia."
Ia menegaskan, "Kebanyakan masyarakat dunia merasa tidak menikmati demokrasi, dan kaum fakir miskin serta orang-orang lemah ditelantarkan."
Paus Fransiskus mengecam polarisasi dan kecenderungan partisan di antara masyarakat dunia, dan menuturkan, "Krisis demokrasi telah menyerang banyak bangsa dunia."
Akan tetapi apa yang diharapkan dari pemimpin besar keagamaan dunia ini adalah sikap tegas dalam menunjuk langsung para penyebab kondisi buruk demokrasi dunia saat ini.
Mereka hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan investasi sebagai tolok ukur, dan dengan menyulut perang, mengedepankan kepentingan kolonialismenya, maka dari itu Paus Fransiskus lebih baik menyinggung masalah ketakwaan dalam politik.
Ketakutan nyata bercampur rasionalitas agama terhadap Tuhan yang dimiliki oleh para politisi dapat mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.
Namun dunia menyaksikan yang sebaliknya, para pemimpin Barat, dengan bertumpu pada uang dan kekuasaan, telah menghancurkan demokrasi di dunia, dan di mana pun diperlukan, akan menggunakan kata demokrasi sebagai simbol pembenaran sikapnya.(HS)
342/