14 Oktober 2022 - 07:46
Persatuan bukanlah Taktik melainkan Strategi Umat Islam

Presiden Raisi menyatakan bahwa hari ini, persatuan bukanlah taktik tetapi strategi bagi umat Islam. Ia berkata, ”Imam Khomeini ra selalu menekankan strategi yang tak terhindarkan ini. Barangsiapa, disadari atau tidak, diinginkan atau tidak, dengan pena dan kata-katanya, tindakan atau kelalaiannya, memecah belah agama-agama Islam, telah bergerak di jalan musuh."

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Republik Iran Hujjatul Islam wa Muslimin Dr. Sayid Ibrahim Raisi pada pembukaan Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-36 di Tehran Rabu (12/10) mengawali pidato sambutannya dengan mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Muhammad saw dan wiladah Imam Shadiq as. Presiden Raisi berkata, “Islam yang kita yakini adalah agama universalitas. Yaitu Islam dapat menjawab semua kebutuhan manusia termasuk manusia modern sekalipun. Seorang muslim dapat menciptakan kehidupan yang bahagia untuk dirinya sendiri dengan mengandalkan Tuhan, iman dan pembelajaran agama.”

“Melihat kekomprehensifan agama dan daya tanggapnya terhadap kebutuhan manusia kontemporer memberi kita kekuatan dan kesadaran sehingga kita dapat berdiri melawan invasi budaya dan versi yang disajikan oleh Barat dan Timur, yang tidak sesuai dengan kehidupan beragama.” Tambahnya. 

Presiden Raisi lebih lanjut menyatakan bahwa Konferensi Internasional Persatuan Islam ini akan mengarah pada pemahaman bersama di antara semua tokoh berpengaruh di dunia Islam, dan mengklarifikasi: pemahaman bersama tentang betapa besar modal yang kita miliki atas nama agama dan nilai-nilai agama. Sebuah modal besar atas nama umat beragama, muslim dan pemeluk agama bahkan tanah Islam. Modal besar kaum muda terdidik dengan kecenderungan spiritualitas dan agama yang aktif di dunia Islam. Modal besar semangat perlawanan dan berdiri melawan musuh dan siap mengambil resiko demi mencapai kehidupan beragama.

Raisi juga menyatakan bahwa kita memiliki modal besar atas nama kekuatan aktif yang siap untuk bergabung bersama di segala bidang dan melawan tren sekuler. Ia berkata, “Kita yang hadir di sini siap untuk berpikir bersama tentang bagaimana melawan pemikiran ekstremis dan takfiri. Laki-laki dan perempuan yang siap bersatu dan mengalahkan musuh atas nama agama. Mari kita berpikir bersama tentang trik apa yang digunakan musuh, dan memanfaatkan semua kemampuan yang kita punya.”

Menyatakan bahwa di dunia kontemporer kita, bendera yang dikibarkan oleh Imam Khomeini adalah bendera persatuan umat Islam dengan semua dialek dan wilayah. Presiden Raisi berkata, “Saat ini, umat Islam memiliki banyak kesamaan, dan tugas mereka sangat jelas terhadap apa yang dapat menyebabkan perbedaan. Poin-poin umum ini telah menyatukan kita dan dapat menciptakan kekuatan besar dan kemampuan besar di dunia dan menciptakan peradaban agama di dunia. Ini memiliki pesan untuk musuh bahwa kita ingin kehidupan manusia modern didasarkan pada agama islam. Mereka yang beranggapan bahwa agama adalah urusan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan urusan sosial dan budaya harus memahami dengan baik hakikat agama itu.”

“Sekarang dengan kemenangan Revolusi Islam Iran yang didapat dari pengorbanan darah para syuhada, semua Muslim ingin hidup sebagai Muslim dan melakukan segala sesuatu menurut Islam. Inilah yang ditakuti musuh.” Tambahnya. 

Presiden Sayid Ibrahim Raisi juga menyatakan bahwa setelah perang dunia pertama dan kedua dan runtuhnya Uni Soviet, apa yang membuat mereka berkonspirasi melawan Muslim adalah bahwa dunia seperti apa yang dapat bertahan melawan sistem dominasi saat ini. Raisi berkata, “Setelah studi, mereka datang ke kesimpulan bahwa apa yang dapat berdiri melawan sistem dominasi, itu adalah Islam. Berdasarkan hal ini, mereka merencanakan untuk menghancurkan Islam, yang sentralitasnya telah didirikan di Republik Islam Iran dan menciptakan gelombang dan kebangkitan di dunia.”

Merujuk pada upaya arogan untuk mencegah persatuan umat Islam, Presiden Iran ini berkata, “Menciptakan ketergantungan pemerintah di negara-negara Islam, kerajaan media untuk mengganggu pikiran umat Islam, meluncurkan kelompok Takfiri dan pembunuhan di antara umat Islam, menghina hal-hal suci, penyebaran pemikiran ekstremis dan takfirisme adalah semua mata rantai dengan tujuan menciptakan perpecahan di antara umat Islam. Pihak musuh memutuskan untuk tidak mengangkat kekuasaan ini atas nama agama dan Islam. Melalui pertemuan dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad saw ini, para ulama dan intelektual Islam dapat memainkan peran.”

Menyatakan bahwa hari ini, persatuan bukanlah taktik tetapi strategi bagi umat Islam. Raisi berkata, “”Imam Khomeini ra selalu menekankan strategi yang tak terhindarkan ini. Barangsiapa, disadari atau tidak, diinginkan atau tidak, dengan pena dan kata-katanya, tindakan atau kelalaiannya, memecah belah agama-agama Islam, telah bergerak di jalan musuh. Masalah Islamofobia diciptakan oleh musuh, dan dengan menyebarnya terorisme, hasutan muncul di dunia Islam. Namun yang membuat konspirasi mereka berhasil adalah kalangan tokoh-tokoh Islam yang tidak memiliki basirah sehingga tidak mengetahui mana kawan mana lawan. Mereka baik sadar atau tidak malam berperan dalam menyebarkan kebodohan dalam tubuh umat Islam.”

Menunjukkan bahwa para syuhada memainkan peran penting dalam menciptakan keamanan di wilayah Islam, Sayid Ibrahim Raisi berkata, ”Harus dijelaskan bahwa musuh sangat lemah meskipun ada manifestasi kekuatan. Setan telah mendominasi hati dan pikiran mereka dan mereka tidak dapat memahami kecerahan cahaya dan akal dan logika. Mereka yang mengira bahwa keselamatan Palestina ada di meja negosiasi dan bisa dinegosiasikan dengan mereka yang tidak mengerti logika, mereka salah. Karena gerakan perlawanan terhadap rezim zionislah yang benar dan insya Allah akan menang.”

Menyatakan bahwa rezim pendudukan Al-Quds tidak memahami perjanjian dan tidak akan mematuhinya, Dr. Raisi berkata, “Sampai kemarin, inisiatif itu tampaknya berada di meja perundingan, tetapi pesan Revolusi Islam adalah untuk berdiri di atas meja perundingan. Perang 33 hari menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk menang adalah melawan rezim Zionis. Hari ini, dengan banyak modal, Anda bisa melawan mereka. Kita telah memilih komunikasi dengan komunitas Islam sebagai prioritas.”

“Pada saat yang sama, kita juga mengatakan bahwa normalisasi hubungan dengan pemerintah tidak melindungi mereka dari rezim Zionis. Apakah rakyat negara-negara ini juga menerima normalisasi hubungan dengan rezim pendudukan? Orang-orang Muslim tidak menerima hubungan ini dengan cara apapun. Mereka berpikir bahwa ini adalah masalah keamanan, tetapi tidak pernah seperti itu.” Tambahnya.

Dia menyatakan bahwa musuh dalam masyarakat Islam mengikuti tren perpecahan untuk menjual senjata dan meminggirkan masalah pertama dunia Islam, yaitu Palestina dan Al-Quds.  “Saat ini, Palestina masih menjadi masalah umat Islam. Gerakan umat Islam untuk pembebasan Al-Quds selalu mulia. Namun saat ini, perang melawan takfirisme menjadi program utama Iran. Pahlawan perang melawan terorisme di kawasan dan dunia adalah Haji Qassem Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis serta banyak pasukan mujahid di kawasan yang membersihkan kawasan dari ISIS.” Jelasnya. 

Pada bagian lain penyampaiannya, Presiden Raisi menunjukkan, “Amerika sendiri mengumumkan di podium bahwa Iranlah yang menciptakan ISIS. Pahlawan perang melawan terorisme adalah syahid Qassem Soleimani. Pertanyaannya, apakah kesyahidannya mendukung teroris atau memerangi mereka? Mereka yang mengklaim hak asasi manusia adalah diri mereka sendiri justru telah banyak melakukan kebijakan yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Mereka adalah pelanggar hak asasi manusia saat ini. Apa yang dilakukan tujuh puluh tahun bagi Palestina? Hari ini, orang-orang terpelajar harus menyadari kejahatan apa yang sedang dilakukan pada kemanusiaan hari ini. Pemahaman bersama dalam pertemuan ini pasti dapat mengarah pada perdamaian berkelanjutan di kawasan dan negara-negara Islam.”

Pada bagian akhir, Presiden Ibrahim Raisi mengatakan, “Dialog tidak hanya antar penganut sesama agama tetapi juga antara agama dan ide yang berbeda harus diupayakan. Percakapan ini dapat menekankan kesamaan. Komunikasi adalah kebutuhan tidak hanya di bidang budaya tetapi juga di bidang lain, dan kami mengikuti ini di pemerintahan ke-13, dan poin berikutnya adalah pertemuan harus menekankan apa kebutuhan dunia Islam saat ini, yaitu menjaga persatuan dan mencegah dari fokus pada perbedaan dan prasangka. Pemikiran takfiri berbahaya dan merusak dan kita harus memperat persatuan dalam tubuh umat Islam untuk memerangi takfirisme. Sebab melalui takfirisme ini, pihak musuh berusaha memecah belah dan merusak umat Islam.”

Disebutkan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-36 tengah berlangsung di Tehran Iran. Konferensi persatuan Islam dengan tema “Persatuan Islam, Perdamaian dan Menghindari Perpecahan dan Konflik di Dunia Islam: Solusi Praktis dan Tindakan operasional” ini dihadiri sebanyak 200 pemikir dari 60 negara dan 100 tokoh politik dan budaya Iran. Adapun di bagian webinar yang dimulai pada Minggu, digelar 12 sesi webinar dengan 144 presentasi dalam bahasa Inggris, Arab, dan Farsi.